Bocah Kelainan Jantung Dirujuk ke RSUZA

Abrar Azizi (5) bocah yatim mengidap penyakit jantung bawaan di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Tgk Chik Ditiro Sigli

Bocah Kelainan Jantung Dirujuk ke RSUZA
Serambinews.com
Abrar Azizi (5) digendong ibunya Susilawati (29) asal Gampong Peurelak Baroh, Kecamatan Sakti, Pidie, saat tiba di IGD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, Kamis (14/2/2019). 

SIGLI - Abrar Azizi (5) bocah yatim mengidap penyakit jantung bawaan di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, Pidie, dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Jumat (15/2).

Drg Mohd Riza Faisal MARS, Direktur RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, Jumat (15/2) menyatakan rujukan harus dikeluarkan, karena tidak ada dokter jantung definitif di rumah sakit ini. Dia mengakui ada dokter jantung yang dikontrak dari RSUZA, tetapi hanya dua kali sepekan melayani pasien di poli rawat jalan yakni setiap hari Selasa dan Kamis.

Dia menjelaskan jika ada pasien jantung hanya bisa ditangani dengan berobat jalan, sedangkan lainnya harus dirujuk ke Banda Aceh. “Insya Allah, pada 2020 ada satu dokter ahli jantung selesai sekolah dan akan kita minta bertugas di Sigli karena dia putra Pidie,” terang drg Faisal.

Dilansir sebelumnya, Abrar Azizi yang masih berusia 5 tahun, bocah yatim mengidap penyakit jantung bawaan terbaring di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, Pidie, Kamis (14/2). Dia dirujuk dari Puskesmas Sakti untuk menjalani pengobatan.

Tetapi, ibunya sangat membutuhkan ularan tangan untuk biaya kebutuhan sehari-hari, sedangkan biaya rumah sakit sudah ditanggung BPJS. “Kami tidak punya uang, sehingga dibantu oleh saudara yang dermawan,” ujar Susilawati ibunda Abrar ditemui di IGD RSU Sigli, Kamis (14/2).

Abrar adalah anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Satthari (alm) dan Susilawati (29) asal Gampong Peureulak Baroh, Kecamatan Sakti, Pidie. “Ayahnya sudah meninggal tiga lalu, saya sehari-hari menjaga anak saya, untuk makan kami dibantu saudara-saudara dekat,” kisah Susilawati dengan nada sedih.

Menurut Susilawati, dia baru tahu anaknya sakit jantung saat berusia 5 bulan. Waktu itu, ia melihat tangan putranya membiru saat menggenggam, lalu dibawa ke Puskesmas. Dikatakan, Abrar tidak tumbuh seperti anak normal lainnya.(aya)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved