Opini

Pentingnya Adab

RIBUAN tahun yang lalu, ada sebuah nasihat singkat yang memotivasi; tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina! Pesan ini memiliki makna tersirat

Pentingnya Adab
IST
WALI Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, menyerahkan bingkisan kepada murid MIN 6 Model Banda Aceh pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1440 H di sekolah tersebut, Senin (26/11). 

Kesadaran inilah yang perlu dibangun dalam realitas kehidupan para murid. Supaya tidak ada lagi atau minimal dapat terkikis perilaku-perilaku yang tidak menghargai ilmu, tidak menghargai waktu, bermegah-megahan, tidak menghargai guru, tidak memiliki minat belajar, tidak rajin ke sekolah, dan lain-lain. Dengan adanya pengetahuan tentang adad-adab mencari ilmu, tumbuh kesungguhan hati dan dapat mensucikan dirinya serta mendapatkan hasilnya.

Jadi, sebuah harapan disandarkan kepada guru sebagai salah satu elemen penting dalam pendidikan, menjadi penyemai dan penumbuh nilai-nilai adab pada anak-anak didiknya. Harapan ini tidaklah muluk-muluk, mengingat guru adalah kurikulum bagi peserta didik.

Adab-adab Seorang Murid 

Bagi seorang murid, ada berbagai adab dan tugas yang harus dipenuhi. Di antaranya niat yang jernih, sungguh-sungguh, dan menghormati guru. Saat pelajar datang kesekolah dengan jiwa yang bersih, akan memudahkan dalam belajar. Kalau murid datang kesekolah dengan niat tidak bersih, ia akan sulit menerima pembelajaran. Ia mengikuti pembelajaran mulai pukul 07.30 sampai selesai. Tapi apa yang dia pelajari tidak bermakna, atau ada kehampaan yang dirasakan (istilah sekarang galau).

Demikian pula kesungguhan seorang murid dalam belajar. Pesan bersungguh-sungguh terdapat dalam QS al-Ankabut: 69, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami,benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik”. Seorang murid yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil dari kesungguhannya. Murid yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, ia akan mendapatkan hasil dari apa yang ia usahakan. Seperti ungkapan Arab “man jadda wa jada” (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasilnya). Maka, sangat perlu para murid memiliki kesungguhan dalam mencari ilmu.

Menjaga adab
Seorang murid, harus menjaga adabnya dengan guru. Guru adalah seorang pembagi ilmu dan pembagi value (nilai). Bahkan dari seorang murid yang belum bisa menulis huruf A hingga ia bisa menulis buku dan menginspirasi. Dari bermula membaca huruf A hingga bisa membaca ribuan buku dalam berbagai bahasa.

Tak ada guru yang menginginkan murid-muridnya tidak sukses. Dan tidak pula ada guru yang mengajarkan anak-anak muridnya untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Kebahagian bagi seorang guru tatkala melihat muridnya sukses di masa depan. Dan guru menjadi orang paling sedih dan bahkan merasa paling bersalah, ketika muridnya tidak sukses.

Mungkin dalam proses belajar mengajar, ada terjadi perbedaan pendapat atau kesalahpahaman antara guru dan murid. Perbedaan ini bagian dari proses pendidikan. Namun perbedaan pendapat atau kesalahpahaman ditunjukkan dengan sikap sopan. Bukan dengan sikap yang tidak sopan, apalagi arogan.

Sangat disayangkan, ketika hal-hal yang semestinya bisa dimusyawarahkan atau dimaafkan, berujung pada memenjarakan guru, diajak duet maut dengan gurunya, bahkan memukuli gurunya sendiri sampai meninggal. Islam tidak menganjurkan perbuatan-perbuatan demikian, dan juga tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat kita.

Hubungan guru dan murid bukan seperti dua petinju di atas ring, yang saling jotos-jotosan. Hubungan guru dan murid seperti hubungan ayah dengan anak. Seorang anak dianggap durhaka ketika melawan kepada orang tuanya (selama di jalan Allah Swt).

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved