Kasus Pengeroyokan Didamaikan

Kasus pengeroyokan terhadap empat pemuda Gampong Mali Mesjid yang melibatkan warga dari Gampong Lam Ujong

Kasus Pengeroyokan Didamaikan
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
Tgk Najib menepung tawari pemuda Gampong Mali Mesjid dan Lam Ujong, Kecamatan Sakti, di Masjid Besar Istiqamah Kota Bakti, Sabtu (16/2/2019). 

* Libatkan Muspika Sakti, Pidie

SIGLI - Kasus pengeroyokan terhadap empat pemuda Gampong Mali Mesjid yang melibatkan warga dari Gampong Lam Ujong, Kecamatan Sakti, Pidie berhasil didamaikan. Muspika Sakti bersama tokoh masyarakat mendamaikan keduanya dalam sebuah acara di Masjid Besar Istiqamah Kota Bakti, Sabtu (16/2).

Pengeroyokan itu berawal dari saling mengejek antara suporter Porla Lam Ujong dengan Muda Seubaya Mali Mesjid saat pertandingan sepakbola di lapangan Lhok Panah, Kecamatan Sakti pada Rabu (6/2). Akhirnya warga Lam Ujong menghadang pemuda Mali Mesjid yang menyebabkan pengeroyokan.

Amatan Serambi, kemarin, proses damai dirangkai dengan tepung tawar atau peusijuek terhadap pemuda dari dua gampong, masing-masing berjumlah tujuh. Peusijuek dipimpin Tgk Najib, yang turut menyampaikan ceramah dan pemuda kedua gampong turut melakukan tanda tangan pada surat pernyataan perdamaian yang dilanjutkan dengan bersalaman.

Ketua Badan Kerjasama Antar Desa, Kecamatan Sakti, Tarmizi Ismail, kepada, Sabtu (16/2) mengatakan, proses mediasi telah dilakukan empat kali di Mapolsek Sakti, pasca pengeroyokan dilakukan warga Lam Ujong terhadap pemuda Mali Mesjid. Pada awal mediasi, sempat tidak tercapainya kesepakatan, tetapi pada mediasi keempat kali, kedua gampong akhirnya melunak.

Tarmizi mengatakan pemuda kedua gampong dipeusijuek dan menandatangani surat perdamaian, bahwa tidak mengulangi perbuatan yang sama di masa mendatang. Dikatakan, jika salah satu gampong mengingkari, maka akan diproses secara hukum.

“Kita memberikan apresiasi kepada Kapolsek Sakti, Iptu Chairil Anshar dan Plh Danramil 12 Sakti, Lettu Inf Roni S serta Camat Sakti, Marzuki, yang telah berhasil mendamaikan kedua gampong tersebut,” kata Tarmizi.

Dia menambahkan, sesuai Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 dan Pergub Nomor 60 Tahun 2013 tentang peradilan adat, bahwa setiap gampong harus memplotkan dana dalam APBG.

Dana tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah seperti pidana ringan yang terjadi di dalam gampong. “Jadi masalah kecil jangan dilaporkan kepada polisi, karena kita memiliki peradilan adat di gampong,” ujarnya.

Camat Sakti, Marzuki menjelaskan kejadian antara Gampong Lam Ujong dengan Mali Mesjid tidak terjadi lagi. Setiap adanya masalah hendaknya diselesaikan dengan aparatur gampong dan jika di gampong tidak membuahkan hasil, maka dapat dilaporkan kepada muspika, ujarnya,.

“Jangan sekali-kali main hakim sendiri. Kami muspika akan mengupayakan menyelesaikan masalah. Seperti saat ini, berkat dukungan semua pihak kita berhasil mendamaikan kedua gampong,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian dan warga, Rabu (6/2) sore, pengeroyokan berawal saat tim Muda Sebaya Mali Mesjid bertanding sepakbola dengan Porla Lam Ujong di lapangan Lhok Panah, Kecamatan Sakti. Saat pertandingan sedang berlangsung, kedua suporter saling mengejek.

Pendukung Lam Ujong yang tidak menerima ejekan itu, menghadang pemuda Mali Mesjid di simpang jalan kawasan Gampong Cumbok Niwa, Kecamatan Sakti, saat pemain bersama suporter pulang dari pertandingan. Penghadangan tersebut berakhir kepada pengeroyokan terhadap pemuda Mali Mesjid.

Tercatat empat pemuda masing-masing bernama Hanif Fauzan, Novalis Wardi, Ismadi, Mulfandani mengalami luka-luka serius sehingga harus dirawat di rumah sakit. Tapi, keempat pemuda itu telah pulih dan hadir pada proses damai di Masjid Besar Istiqamah Kota Bakti, Sabtu (16/2).(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved