RSUTP Rawat 69 Pasien DBD

Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) semakin meningkat

RSUTP Rawat 69 Pasien DBD
IST
Petugas dari Dinas Kesehatan Abdya melancarkan fogging atau pengasapan di kawasan Gampong Keude Siblah, Blangpidie, Senin (18/2) untuk membunuh jentik nyamuk yang menularkan penyakit DBD yang sudah menyerangkan beberapa warga desa setempat 

* Periode Januari-Februari 2019

BLANGPIDIE - Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) semakin meningkat. Sejak Januari sampai 17 Februari 2019, Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RSUTP) Abdya sudah merawat 69 pasien DBD, di mana 7 orang di antaranya masih menjalani perawatan sampai Senin (18/2).

Direktur RSUTP Abdya, dr Adi Arulan Munda dan dokter spesialis anak, dr Aris Fazeriandy MKed (Ped) SPA saat dihubungi Serambi, Senin (18/2), menjelaskan, dari 69 pasien suspek DBD yang menjalani perawatan itu, 7 orang di antaranya masih dirawat. Selebihnya, 62 orang sudah diperbolehkan pulang setelah beberapa hari menjalani perawatan.

Tujuh pasien suspek DBD yang masih dirawat, sebutnya, terdiri dari 5 anak dari Gampong Alue Padee, Kecamatan Kuala Batee, Keude Siblah, Geulumpang Payong, dan Pasar Blangpidie, Kecamatan Blangpidie, serta dari Alue Jeureujak, Kecamatan Babahrot. Sedangkan 2 pasien dewasa yang masih dirawat, yaitu dari Gampong Kuta Murni, Kecamatan Setia dan Gampong Lhueng Tarok, Kecamatan Blangpidie. “Para pasien tersebut dinyatakan menderita suspek DBD berdasarkan hasil pemeriksaan kadar trombosit darah,” ujarnya.

Direktur RSU TP Abdya itu mengakui, terjadi peningkatan penderita suspek DBD selama dua bulan terakhir. Sebab, pada bulan Januari jumlah pasien yang dirawat 27 orang terdiri dari 10 anak-anak dan 17 dewasa. Sedangkan, bulan Februari bertambah menjadi 42 orang terdiri dari 20 anak-anak dan 22 dewasa. Sedangkan pada tahun 2018 lalu, total pasien suspek DBD yang menjalani rawatan di RSUTP Abdya sebanyak 194 orang, baik anak-anak maupun dewasa.

Pasien DBD yang menjadi perawatan di RSUTP, menurut dr Adi Arulan Munda, dilaporkan secara rutin kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Abdya. Laporan itu meliputi nama, umur, alamat atau tempat domisili pasien, serta kadar trobosit darah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium. Data itu nantinya menjadi dasar Dinkes melakukan tindakan penanggulangan, seperti fogging di lingkungan tempat tinggal pasien bersangkutan.

Seperti diberitakan, seorang pasien DBD warga Rubek Meupayong, Kecamatan Susoh meninggal dunia sekira satu jam setelah masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUTP Abdya pada Rabu (6/2) malam. Pasien pria berumur 17 tahun itu mengembuskan napas terakhir setelah kadar trombositnya anjlok ke angka 14.000 dari kadar normal 150.000. Namun, pasien DBD yang meninggal itu tidak masuk dalam data 69 pasien yang dirawat di RSUTP.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Abdya melakukan tindakan penanggulangan penyebaran demam berdarah dengue (DBD) dengan mengencarkan fogging (pengasapan) untuk membunuh jentik nyamuk aedes aegypti yang menularkan penyakit mematikan tersebut. Pengasapan dilancarkan sekitar rumah dan lingkungan tempat domisili pasien DBD berdasarkan data dari rumah sakit.

Pantauan Serambi, Senin (18/2) kemarin, fogging dilakukan di Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie. Sekretaris Gampong Keude Siblah, Hendra saat dihubungi Serambi membenarkan adanya fogging oleh petugas Dinkes Abdya. Dijelaskannya, pengasapan itu dilakukan karena ada empat warga Gampong Keude Siblah yang menderita DBD, bahkan seorang di antaranya masih menjalani perawatan di RSUTP Abdya. “Fogging dilakukan di rumah dan lingkungan penderita DBD dengan radius tertentu,” ujarnya.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved