Dinsos Jaring 9 Pencari Dana

Petugas Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banda Aceh menjaring delapan orang pencari dana yang mengatasnamakan

Dinsos Jaring 9 Pencari Dana
SERAMBINEWS.COM/M NASIR
Dinas Sosial Aceh bersama personel Satpol PP Aceh, Satpol PP Banda Aceh dan Polresta Banda Aceh menggelar razia terhadap gelandangan dan pengemis (Gepeng) di sejumlah sudut dalam Kota Banda Aceh 

* Mengatasnamakan Dayah

BANDA ACEH - Petugas Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banda Aceh menjaring delapan orang pencari dana yang mengatasnamakan dayah di sebuah kecamatan di Kota Lhokseumawe dan satu pemuda penggalang dana untuk dayah di satu gampong di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Selasa (19/2) siang.

Para pencari dana yang diamankan dari sejumlah persimpangan traffic light (lampu lalu lintas) di Kota Banda Aceh itu, selanjutnya dibawa ke rumah singgah milik Dinsos Banda Aceh di Gampong Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Kepala Dinas Sosial Kota Banda Aceh, Drs Muzakir, mengatakan dari sembilan pencari dana yang dijaring itu delapan orang mengaku melakukan penggalangan dana untuk satu dayah di Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Usia mereka pun masih sangat belia, mulai 13 sampai yang paling tua berumur 17 tahun. Hanya bermodalkan sebuah kardus yang bertuliskan ‘Bantulah Dayah..’, delapan remaja yang terjaring petugas dinsos ini pun disebar di traffic light Simpang BPKP, Simpang Jambo Tape, dan Simpang Batoh, Banda Aceh. Di sejumlah lokasi itulah mereka terjaring.

Lalu, delapan remaja pencari dana yang mengatasnamakan sebuah dayah di Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, ternyata tidak memiliki legalitas apa pun. “Terlepas, benar atau tidak mereka mencari dana untuk dayah yang mereka sebutkan. Tapi, apa pun bentuk kegiatan itu, yang namanya meminta-minta di persimpangan, tetap tidak diizinkan. Kecuali, penggalangan dana itu yang bersifat insidentil, misalnya bencana alam. Itu pun sifatnya sementara dan harus mengenakan atribut resmi, misalnya mahasiswa atau sebuah organisasi lainnya,” ujar Muzakir.

Ia jelaskan delapan remaja yang berstatus lajang plus satu pemuda yang telah menikah dan menggalang bantuan untuk sebuah dayah di Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, itu dijaring langsung oleh Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi Sosial, Dinsos Kota Banda Aceh, T Syukri. Ia bergerak bersama tiga petugas dinsos lainnya, tanpa dibantu petugas dari instansi lainnya.

“Mereka kita bawa ke Rumah Singgah Dinsos Banda Aceh di Lamjabat, kita beri pembinaan mental dan aqidah, untuk tidak mengulangi perbuatan itu. Lalu kita sampaikan juga aturan, di mana tidak diperbolehkan melakukan aktivitas meminta-minta di persimpangan dalam bentuk apa pun. Mungkin selanjutnya mereka akan kita pulangkan,” pungkas Muzakir.

Kabid Rehabilitasi Sosial, T Syukri menambahkan dari keterangan yang diperoleh dari delapan remaja yang terjaring menggalang bantuan untuk satu dayah di Blang Mangat itu, sudah tiga hari berada di Banda Aceh dan melakukan aktivitasnya meminta-minta di persimpangan traffic light. Lalu seluruh remaja tersebut mengaku dimobilisasi oleh seseorang. “Seluruh remaja itu tinggal di kawasan Gampong Kayee Lee, Kecamatan Ingin Jaya. Sementara satu pemuda lainnya dan terjaring saat melakukan aktivitas yang sama, tinggal di satu gampong dalam Kecamatan Kuta Alam,” sebut Syukri.

Menurut T Syukri, penertiban terhadap aktivitas para peminta-minta yang marak di persimpangan akan terus dilaksanakan, sampai seluruh traffic light serta berbagai tempat bersih dari aktivitas pengemis. “Kalau dari segi ekonominya, mereka tidak seperti yang kita lihat dan kita bayangkan. Tapi, aktivitas peminta-minta yang dilakukan itu lebih pada penyakit masyarakat,” pungkas T Syukri. (mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved