Breaking News:

Agar Sawit Menguntungkan Semua Pihak (1)

INDUSTRI sawit memiliki rangkaian hulu hilir yang terhitung panjang, mulai dari level petani hingga pemain besar di sektor

SERAMBI/NURDINSYAM
CEO PT Astra Agro Lestari Tbk, Santosa (kanan) memaparkan perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia dalam Media Gathering’ di Hotel Padma, Bandung, Jawa Barat, pekan lalu. 

Pengantar Redaksi;
SERBUAN black campaign--terutama--dari LSM luar negeri yang mengusung isu lingkungan, serta diikuti oleh langkah ‘embargo’ pembelian beberapa negara Eropa, diakui atau tidak, membuat industri sawit Indonesia terpuruk berat di tahun 2018. Tahun ini, walau mulai bangkit tertatih, serta diikuti mimpi indah tentang biodiesel B20, industri sawit tetap saja menyisakan rasa was was seperti diungkapkan CEO PT Astra Agro Lestari (AAL), salah satu perusahaan pemain utama sawit nasional, dalam acara Media Gtahering di Padma Hotel, Bandung, pekan lalu. Berikut wartawan Serambi, Nurdinsyam menurunkan dua tulisan seputar kegiatan itu, mulai hari ini.

INDUSTRI sawit memiliki rangkaian hulu hilir yang terhitung panjang, mulai dari level petani hingga pemain besar di sektor eksport. Namun salah satu pemain sawit yang paling terpukul dalam prahara yang menimpa industri sawit adalah petani sawit itu sendiri.

Tentu saja petani dalam ukuran general, mulai dari individu hingga pemain besar yang memiliki areal ribuan hektar. Namun yang sangat terpukul adalah petani sawit tradisional, yang memiliki lahan terbatas, namun tak memiliki akses langsung ke pabrik pengolahan tandan buah sawit (TBS).

Kelompok ini sudah terpuruk lebih ketika tak sanggup menutup biaya operasional lapangan, terutama untuk pemeliharaan hingga jasa panen. Akibatnya banyak yang menelantarkan lahan, hingga TBS yang membusuk di batang.

Bahkan ada pemain besar di Aceh yang dengan sangat terpaksa menutup operasional lahan mereka, seperti salah satu perusahaan yang beroperasi di Nagan Raya.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) seperti diakui Chief Executif Officer (CEO) atau Presiden Direkturnya, Santosa, pekan lalu, di depan awak media daerah dan nasional, di Hotel Padma, Bandung, PT AAL punya komitment memberdayakan petani sawit lokal di seputar areal perkebunan kelapa sawit (PKS) milik AAL.

Salah satunya adalah dengan mengabsor (menyerap) TBS petani dengan harga bersaing. “Tujuan kami, agar petani di seputar kebun AAL memiliki jaminan TBS mereka terserap selalu berapapun produksinya,” kata Santosa.

Seperti diketahui PT AAL memiliki tiga kebun di Aceh, yaitu di Aceh Jaya melalui bendera PT Tunggal Perkasa Plantation 3 (TPP3), di Aceh Barat PT Karya Tanah Subur (KTS) dan PT Perkebunan Lembah Bakti (PLB) di Aceh Singkil.

Menurut orang nomor satu lingkup PT AAL ini, solusi pemberdayaan itu sifatnya menyeluruh, baik itu petani maupun pedagang pengumpul (pengepul) yang menjadi perantara antara perkebunan dengan petani. “Kita terus cari solusi agar petani jangan terjepit, sementara pedagang perantara juga bisa hidup. Artinya, petani juga bisa menikmati hasil yang signifikan dari TBS yang mereka hasilkan,” tandas Santosa.

Sesuai dengan data yang ada, hampir 80 persen sawit yang diolah di PKS Astra Grup di Aceh adalah milik petani seputar kebun AAL, hanya 20 persen dari bahan baku olahan itu adalah TBS dari internal korporat.

Dalam kaitan keberimbangan value dari TBS itu, PT Astra yang juga salah satu raja otomotif di Indonesia itu, terus mencari titik temu yang kira kira menguntungkan semua pihak. “Petani makmur, perantara juga bisa menikmati hasil kerjanya,” tandas Santosa yang malam itu tampil sporty.

Konsep keberimbangan itu juga tak lepas dari empat misi corporate social responsibility (CRS) PT Astra, yaitu bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup serta income generatif actifity (IGA) atau pemberdayaan petani seputar kebun.

Sesuai dengan data terakhir yang terpantau di lapangan, harga TBS di tingkat petani di Aceh, saat ini sedikit bergerak naik antara level Rp 850 s/d 1000 per kilo. Sementara pihak pabrik membeli dari pedagang pengepul dalam kisaran harga Rp 1250/kg. Artinya, margin yang didapat pengepul atas biaya operasionalnya mencapai Rp 250/kg. Nilai inilah yang kadang memunculkan nada getir di kalangan petani, karena mereka telah terjepit dengan biaya produksi dan biaya kerja yang kadang jauh dari nilai layak operasional.

Toh, Santosa mengunci statemennya dengan nada optimis, jika sawit tahun 2019 akan lebih cerah, karena daya serap pasar dunia akan membaik. Lebih dari itu, mimpi soal biodiesel mendatangkan harapan tersendiri.(bersambung)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved