Berharap CPO Terserap Kebijakan Biodiesel (habis)

INDONESIA dan Malaysia adalah penyuplai 85 persen kebutuhan sawit dunia, khusus Indonesia adalah penyuplai utama

Berharap CPO Terserap Kebijakan Biodiesel (habis)
IST
PESERTA Media Gathering foto bersama CEO PT AAL, Santosa di Padma Hotel, Bandung, Jawa Barat, pekan lalu. 

INDONESIA dan Malaysia adalah penyuplai 85 persen kebutuhan sawit dunia. Khusus Indonesia adalah penyuplai utama dengan total produksi crude palm oil (CPO) yang terus meningkat setiap tahunnya. Sebagai gambaran, tahun 2012 produksi CPO indonesia menohok angka 28,5 juta ton. Kala itu diprediksi pada tahun 2020 produksi CPO Indonesia akan mencapai angka 40 juta ton.

Namun ekspansi lahan sawit secara besar besaran membuat produksi sawit nasional melesat melebihi perkiraan. Tahun 2018, produsi CPO Indonesia membubung tinggi di angka 45 juta ton, naik secara signifikan dibanding tahun 2017 pada angka 41,95 juta ton. Khusus PT AAL selaku salah satu pemain besar sawit, produksi tahun 2018 produksi CPO mencapai 1,9 juta ton, meningkat sebanyak 8,5 persen dibanding tahun 2017.

Bludakan produksi itu ternyata tak sebanding dengan daya serap pasar dunia. Embargo beberapa negara Eropa akibat terhimpitnya pemasaran minyak nabati produk Amerika dan Eropa seperti Kamola, membuat pasaran minyak sawit sedikit terjepit. Walaupun diakui oleh Presdir PT AAL, Santosa, itu sifatnya temporer karena daya serap pasar dunia tetap potensial. “Selain itu, ketergantungan terhadap minyak nabati sawit masih tampak dominan, hingga prospek pasar masih terbentang,” kata Santosa.

Karena prospek itu pula, PT AAL menggelontorkan belanja modal untuk tahun 2019 sebesar Rp 1,5 triliun yang diarahkan untuk perawatan pohon yang belum menghasilkan. Angka itu menurun dari tahun 2018 yang mencapai Rp 1,7 triliun, akibat adanya pembangunan pabrik baru. Saat ini saja, total kapasitas produksi CPO pabrik PT AAL di seluruh Indonesia mencapai 1525 ton/jam.

Optimisme di tengah lemahnya geliat sawit Indonesia itu, menurut Santosa, karena kebijakan pemerintah menerapkan kombinasi bahan bakar kendaraan, antara bahan bakar fosil (tak terbarukan) dengan bahan bakar terbarukan atau minyak nabati. Komponen utama itu adalah palm oil atau minyak sawit. Kelak jika konsep bio diesel terwujud, sebagian besar CPO akan terserap pasar dalam negeri. Saat ini, kombinasi biodiesel itu baru B20 yang sudah diresmikan oleh pemerintah pada akhir Agustus 2018.

Definisi sederhananya, biodiesel B20 adalah bahan bakar diesel campuran minyak nabati 20% dan minyak bumi (petroleum diesel) 80%.

Sedikit lebih teknis, biodiesel B20 adalah bahan bakar diesel yang ditambahkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 20%.

Namun, Santosa menyisakan sedikit rasa skeptis, penerapan B20 itu belum diikuti dengan kebijakan produksi otomotif, terutama dalam hal komponen mesin kendaraan. Akibatnya, masih saja konsumen BBM tergantung dengan bahan bakar fosil. “Ini yang membuat prospek konsumsi dalam negeri palm oil tetap ‘menggantung’,” tutur Santosa.

Sejauh ini pun, pihak Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan jajaran industri otomotif Indonesia di bawah bendera GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), belum melakukan duduk bersama secara intensif untuk saling berkoordinasi menyamgkut penerapan B20 hingga B100 atau pwnerapan boidisel secara penuh. Karena ini menyangkut perubahan struktur pendukung masinal.

Salah satu target realistis penerapan biodiesel adalah pembangkit listrik, dalam hal ini listrik PLN. “Jika ini mampu diterapkan, 70 persen CPO dalam negeri akan terserap, dan ini adalah pangsa pasar luar biasa serta mengurangi ketergantungan dengan BBM fosil di dalam negeri,” tutur Santosa.

Walaupun prospek biodiesel di listrik PLN itu masih meredup, hukum ekonomi tetap saja berlaku. Suplai CPO dunia yang menurun, menguatnya harga minyak kedelai, memunculkan sentimen positif pasar CPO dunia saat ini. Pada penutupan perdagangan, Senin (18/2), harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) untuk kontrak Mei di Bursa Derivatif Malaysia naik 0,6% ke level harga MYR 2.286/ton atau setara US$ 559,88/ton. Artinya, CPO tetap saja masih punya harapan walau kadang sedikit megap-megap.(nurdinsyam)

Tags
sawit
Harga
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved