Breaking News:

Diet Plastik, Langkah Kecil Selamatkan Bumi

ATAS nama bumi yang lebih layak huni, genderang ‘perang’ terhadap penggunaan plastik pun ditabuh

Diet Plastik, Langkah Kecil Selamatkan Bumi
IST
REUSABLE straw (sedotan bisa dipakai ulang), pengganti sedotan plastik sehingga lebih ramah lingkungan.

ATAS nama bumi yang lebih layak huni, genderang ‘perang’ terhadap penggunaan plastik pun ditabuh. Tidak berlebihan, karena dampak penggunaan plastik sudah menjelma menjadi kegelisahan manusia. Menjadi gerakan masif yang gencar dikampanyekan sejak beberapa tahun ke belakang. Gaungnya pun sampai ke Aceh. Diet plastik, langkah kecil selamatkan bumi.

Adalah Nanda Mariska (29). Kegelisahan perempuan yang bekerja sebagai staf lembaga lingkungan tersebut, berawal saat ia melihat penggunaan plastik sedotan yan tidak terkelola dengan baik dan menjadi gunungan sampah. Lingkaran pertemanannya pun, yang notabene adalah pegiat lingkungan merasakan hal yang sama. Berawal dari kebutuhan diri sendiri, ia yang tergabung dalam organisasi earth hour Aceh pun, kemudian gencar mengkampanyekan diet plastik dan menggantinya dengan materi reusable (bisa dipakai ulang).

“Idenya berawal dari kebutuhan sendiri. Cari reusable straw (sedotan pakai ulang) tapi nggak ada. Jadi inisiatif beli untuk sendiri sambil jual beberapa,” cerita Nanda.

Ia menjatuhkan pilihan pada sedotan berbahan metal. Sedotan untuk minuman itu jauh-jauh didatangkan dari Cina. Ia mengaku, produsen Indonesia kebanyakan menawarkan straw jenis stainless, namun dengan harga yang tak bisa dibilang ramah di kantong.

Nanda menjelaskan, pada dasarnya sedotan tersebut perawatannya sama dengan alat makan lainnya, yaitu cukup dicuci saja. Dijual dalam jumlah satuan maupun paket. Jika mau membayar lebih, sedotan yang tersedia dalam aneka warna tersebut juga dijual lengkap dengan sikat khusus. Dikemas dalam wadah khusus pula, sehingga selain higienis juga travel friendly (mudah dibawa).

“Rencananya selain straw, nanti juga mau jual reusable bag, reusable menstrual pad, dan tumbler juga. PO nya bisa sampai 10 harian karena kan pesannya jauh,” imbuh Nanda yang membuka lapak online shop.

Ayi, seorang warga Banda Aceh mengaku, baru-baru ini beralih ke reusable kit. Selama ini ia pun konsisten membawa sedotannya kemana-mana saat nongkrong. Alasannya sederhana, mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Terutama untuk mengurangi sampah plastik.

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup, sekitar 70 persen sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang oleh pelaku daur ulang sampah. Namun tidak demikian halnya dengan sedotan. Hal ini karena sedotan nilainya rendah dan sulit untuk didaur ulang. Sehingga para pelaku usaha tersebut, tidak berminat mengolahnya kembali.

Ya, sedotan plastik dalam minuman membutuhkan waktu jutaan tahun mengambang di lautan, sehingga merusak ekosistem laut. Sejumlah usaha waralaba dunia pun, sebut saja McDonald’s dan Starbucks menggadang-gadangkan tahun ini dan tahun 2020 mendatang, akan beralih dari sedotan plastik ke sedotan berbahan kertas. Bagaimana dengan Anda? (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved