Tujuh Anak ‘Scooter’ Ditahan

Tim gabungan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banda Aceh bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banda Aceh

Tujuh Anak ‘Scooter’ Ditahan
IST
MUZAKIR, Kepala Dinsos Banda Aceh

* Berpenampilan Seperti Punk

BANDA ACEH - Tim gabungan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banda Aceh bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banda Aceh, menangkap tujuh anak scooter (vespa) yang berpenampilan punk di kawasan Punge, Banda Aceh, Sabtu (23/2) malam. Mereka bersama tiga motor scooternya dan seorang pengemis yang ditangkap di Seutui, selanjutnya ditahan untuk dibina di Rumah Singgah Lamjabat, Banda Aceh.

Kedelapan tuna sosial itu terjaring dalam razia pada malam hari yang digelar Pemko Banda Aceh sejak 22-24 Februari 2019. Khusus tujuh pemuda yang berpakaian lusuh itu, awalnya petugas mengira mereka adalah anak punk. Namun setelah diinterogasi, mereka mengaku komunitas scooter dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Medan, dan Pekanbaru.

Informasi itu diungkapkan Kepala Dinsos Kota Banda Aceh, Drs Muzakir kepada Serambi, Minggu (24/2) malam. Mulanya petugas menduga ketujuh orang itu anak punk karena berpakaian lusuh, rambut acak-acakan, bertato, serta menggunakan aksesoris anting khas preman. “Meskipun penampilannya sangar, mereka berperilaku baik dan sangat kooperatif saat kita bawa ke rumah singgah untuk dibina,” ujarnya.

Berdasarkan hasil interogasi di rumah singgah, kata Muzakir, ketujuh pemuda itu mengaku baru mengunjungi Nol Kilometer di Sabang. Namun saat hendak pulang ke daerah asalnya, mereka kehabisan bekal dan uang saku di Banda Aceh. “Jadi mereka minta izin ke pemilik supermarket di Punge untuk mengamen dan bermalam di situ. Tapi kegiatan seperti itu tetap tidak bisa kita tolerir,” jelas Muzakir.

Menurut Kepala Dinsos Banda Aceh, anak scooter itu hanya sekadar ngamen untuk mengisi minyak vespa dan membeli makanan seadanya, lalu akan kembali melanjutkan perjalanan mereka lewat jalur darat ke Medan, Padang, dan kota lainnya. “Tiga scooter modifikasi itu sementara kami tahan. Selain itu juga ada gitar kecil dan gendang dari paralon yang digunakan untuk mengamen,” imbuh Muzakir, dan mengaku komunitas seperti itu tidak ada di Aceh.

Muzakir memastikan, tujuh anak scooter tidak memiliki motif jahat di Banda Aceh. Menurutnya, mereka adalah penggemar vespa modifikasi yang ingin menaklukkan titik nol kilometer Sabang menggunakan scooter. “Mereka cuma modal nekat datang kemari. Bisa jadi pengalaman hidupnya buruk, tapi mereka juga hamba Allah kan,” terangnya.

Pada bagian lain, Kepala Dinsos Kota Banda Aceh, Drs Muzakir mengatakan, pembinaan terhadap tuna sosial yang ditangkap itu bekerja sama dengan Rindam Iskandar Muda dan Dinas Syariat Islam (DSI) Banda Aceh. Ketujuh anak scooter tersebut sedang ditatar di Rumah Singgah Lamjabat. “Pihak Rindam memberi nasihat dan melatih fisik mereka. Sedangkan DSI membina mental dan memberi pengetahuan agama,” ujarnya.

Sebelumnya, kata Kepala Dinsos, para anak scooter sudah disuruh mandi, rambutnya dirapikan, diberi pakaian yang layak, dan diberi makan. “Mereka ini sebenarnya bisa menghafal Alfatihah dan doa-doa, tapi sayangnya tidak shalat. Bagaimana mau sembahyang sementara badan dan pakaian mereka joroknya nauzubillah,” demikian Muzakir.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved