PIM Beli AAF Rp 624 Miliar

PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) mulai mengembangkan nilai investasi dengan membeli Pabrik Asean Aceh Fertilizer

PIM Beli AAF Rp 624 Miliar
SERAMBI/JAFARUDDIN
DIREKTUR Utama Pupuk Iskandar Muda (PIM), Husni Achmad Zaki menjelaskan rencana pengembangan perusahaan tersebut kepada media, Senin (25/2). 

LHOKSUKON – PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) mulai mengembangkan nilai investasi dengan membeli Pabrik Asean Aceh Fertilizer (AAF) dengan harga Rp 624 miliar. Selain itu, dalam waktu dekat PIM juga akan membangun Pabrik Natrium Phospor dan Kalium (NPK) Rp 1 triliun.

Demikian antara lain disampaikan Direktur Utama PIM, Husni Achmad Zaki menjawab Serambi dalam pertemuan media, Senin (25/2) dalam rangka HUT PT PIM Ke-37 di Kompleks perusahaan itu. Husni didampingi Direktur Produksi Teknik dan Pengembangan, Pranowo Tri Nusantoro, Direktur Komersil, Rochan Syamsul Hadi, dan Direktur SDM & Umum, Usni Syafrizal.

“Prosesnya cukup panjang. Alhamdulillah lebih clear skemanya dari likuidator. Bahwa Ada kajian dari Jam Datun (Jaksa Agung Muda Perdata Tata Usaha Negara) untuk memberikan hasil yang optimal bagi AFF. Yakni paling ideal dijual kepada PIM. Jadi tidak melalui skema ditender seperti yang dulu,” ujar Husni.

Disebutkan, setelah ada second opinion (pendapat kedua) dari Jam Datun dan Likuidator, lalu Pupuk Indonesia yang mendapat kuasa atas AAF bersama pemilik saham lainnya, termasuk PIM mempersiapkan proses penjualan. Pupuk Indonesia memiliki saham mayoritas dari pemegang saham lainnya. “Saat penentuan harga lumayan alot,” ujar Dirut PIM.

Karena, lanjut Husni, harga itu minimal harus cukup untuk AFF guna melunasi utang pada Pupuk Indonesia, PIM dan Pemerintah Indonesia. Sebab, jika ditotal utang AAF lebih dari Rp 600 miliar. “Di angka itulah, akhirnya terjadi kesepakatan dan mendapat pesertujuan dari pemegang saham serta komisaris PIM. Sehingga, kami membeli AAF dengan harga Rp 624 miliar,” ujar Husni.

Dari sisi harga, kata Husni, nilai yang dibeli masih di bawah Nilai Objek Jual Pajak (NJOP) dengan luas areal 230 hektare yang terdiri areal pabrik, pelabuhan, dan perumahan. “Supaya clear untuk perumahan, kami beli 105 unit dari 349 rumah yang ada. Sedangkan 244 unit sudah dijual sebelumnya oleh likuidator lama kepada eks karyawan,” katanya.

Perpindahan kepemilikan tersebut sudah sah dan 244 rumah itu tidak termasuk yang dibeli PIM. “Jadi yang akan dimanfaatkan dari AFF adalah H202 (hidrogen peroksida) yang masih memiliki nilai pasar dan dua tangki amonia,” pungkas Dirut PIM.

Dirut PIM dalam kesempatan tersebut juga menyebutkan, pihaknya terus berkomitmen kepada visi yang sudah dicanangkan yaitu menjadi perusahaan yang pupuk dan petrokimia yang kompetitif. Untuk mencapai cita-cita itu, pada 2019 PIM akan membangun pabrik NPK berkapasitas 500 ribu ton pertahun yang akan menjadi diversifikasi PIM dengan nilai investasi Rp 1 triliun.

Masa konstruksi selama 28 bulan. Selama masa puncak konstruksi diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja 700-800 orang. Sedangkan saat beroperasi komersil diperkirakan akan menyerap tenaga kerja 150-200 orang. “Rekrutmen tenaga kerja untuk operasi pabrik akan dilakukan setahun atau enam bulan beroperasi. Karena, tenaga kerja yang direkrut akan dilatih dan didik dulu,” tambah Direktur SDM & Umum Usni Syafrizal.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved