Opini

Titik Kritis Pemilu 2019

PADA 20 Februari 2019, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh

Titik Kritis Pemilu 2019
Kolase/Tribunnews/Kompas.com
Capres Nomor Urut 01 Joko Widodo dan Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto, saat Debat Pilpres pertama di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan 

Oleh Teuku Kemal Fasya

PADA 20 Februari 2019, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe melaksanakan diskusi publik bertema “Titik Kritis Pemilu 2019”. Para pembicara yang diundang adalah Ridwan Hadi, mantan Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dan saat ini menjabat Direktur Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI); Aryos Nivada, Direktur Jaringan Survei Inisiatif (JSI); dan penulis sendiri. Para peserta yang hadir di diskusi publik ini selain civitas akademika Unimal, juga relawan demokrasi, aktivis LSM, dan juga jurnalis (Serambi, 21/2/2019).

Seminar politik yang diinisiasi kampus cukup jarang dilakukan, paling tidak di Unimal. Beberapa kegiatan kepemiluan dan politik kerap disponsori pihak luar seperti politikus dan penyelenggara pemilu. Tentu agak kesulitan menarik pemikiran kritis terhadap pihak yang mensponsori acara.

Pihak kampus selayaknya makin intensif mengadakan diskusi yang mengkritisi problem publik termasuk dimensi etika dari kekuasaan. Perbincangan yang menarik jarak dari dominasi politik dan ekonomi yang bisa meremukkan kebebasan masyarakat dan kelompok pinggiran harus dilakukan kampus, agar tetap bisa tegak sebagai blok sejarah (historical block).

Kritik demokrasi
17 April mendatang akan menjadi hari penting penyelenggaraan demokrasi elektoral bagi bangsa ini. Hampir seluruh doa dan harapan publik menyertai agar pemilu kelima pascareformasi ini bisa berjalan jujur, adil, transparan, adil, dan demokratis. Meskipun demikian, harapan juga tak boleh terlalu tinggi. Konteks demokrasi sebuah negara tidak pernah serta-merta hebat. Secara empris yang lebih sering terjadi malah dialektika negatif, ketika demokrasi yang muncul dengan menggebu-gebu malah tersungkur sendiri.

Mengutip dari pemikir Prancis, Jean Francois Revel (1924-2006) dalam buku Democracy Against Itself: The Future of the Democratic Impulse (1993), insular utama demokrasi berasal dari filsafat pemikiran Barat tidak serta-merta akan berhasil di seluruh dunia. Keberhasilam demokrasi sangat ditentukan pada kemampuan membuka sumbatan pemikiran pada hulu agar lancar di tingkat hilir melalui pemilihan model-model, kultur, dan sistem politik sebuah bangsa.

Deskripsi statistik di buku itu menyimpulkan, negara-negara dunia ketiga yang baru memilih demokrasi pada fase akhir abad 20 sebenarnya kerap melamun pada impian-impian lama yang nostalgik. “Kuman-kuman demokrasi (the germs of democracy) masih banyak memengaruhi pikiran masyarakat sipil dibandingkan yang mencoba berbaju demokratis”.

Menurut Revel, pada negara pasca-otoriter, apalagi ketika pengalaman otoriterisme itu sedemikian dalam menghunjam pikiran, akan menilai bahwa rezim yang menjalankan peran non-demokratis dianggap normal, daripada melakukan peran-peran demokrasi partisipatif. Kaum demokrat di elite kekuasaan pun tidak semuanya memiliki pandangan yang ideologis. Sebagian hanya kaum demokrat palsu yang telah begah dengan kekuasaan dan kehidupan sejahtera di era lama.

Sikap kritis --untuk tidak mengatakan sinis-- Revel sesungguhnya baik untuk menjadi cermin dalam melihat pengalaman demokrasi kita 20 tahun terakhir. Satu hal yang harus dikritik adalah mekanisme demokrasi prosedural tidak serta-merta akan mengubah struktur dan kultur demokrasi bangsa. Indonesia menjadi contoh sempurna ekstrapolasi ide itu.

Pengalaman pemilihan presiden (Pilpres) keempat yang akan kita jelang sebentar lagi, belum lagi memunculkan sikap pandai mengonsolidasikan demokrasi. Pilpres dan Pileg 2019 masih menjadi pertaruhan (La Pari); apakah berhasil memutus transisi demokrasi atau malah gagal dan kembali ke era pra-reformasi dengan kekuasaan yang menumpuk pada kaum plutokrat atau oligark?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved