Breaking News:

Mengubah Sampah Menjadi Rupiah

JARI jemari itu dengan cekatan memilah-milah sampah. Seorang pria paruh baya, tampak bergumul dengan tumpukan sampah

SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
SUASANA proses pengolahan sampah di Bank Sampah Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Foto direkam Sabtu (23/2). 

JARI jemari itu dengan cekatan memilah-milah sampah. Seorang pria paruh baya, tampak bergumul dengan tumpukan sampah plastik yang menggunung di sudut ruangan. Aneka sampah yang kebanyakan adalah botol air mineral layaknya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mini. Sementara di sisinya, beberapa goni juga menyimpan barang serupa. Sampah plastik itu sebagian dibawa jauh-jauh dari Pulo Aceh. Sebuah kecamatan di kabupaten Aceh besar yang berupa gugusan pulau terluar Indonesia dan kerap menjadi tempat sampah-sampah plastik dari belasan negara terdampar.

Sementara di sudut lain, seorang pria muda dengan wajah tertutup masker tengah berkutat dengan hal serupa. Sampah organik berupa daun dan sampah rumah tangga lainnya, memenuhi bak penampungan beton berbentuk persegi. Menguarkan aroma tak sedap. Sementara di samping bak, berderet-deret mesin pencacah, biophosco dan mesin ayak. Ya, itu lah Lambung, sebuah gampong di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, yang telah mandiri mengelola sampahnya.

“Awalnya dari inisiatif masyarakat. Setelah bebarapa tahun usai tsunami, warga mulai bercocok tanam di rumah, tapi karena lahannya tidak subur lagi dan kalau beli pupuk mahal, jadi kami pikir kenapa nggak coba buat pupuk kompos sendiri,” ujar Gemal Bakri, Koordinator Bank Sampah Lambung Lestari kepada Serambi, Sabtu (23/2).

Ia menuturkan, awalnya mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah. Tapi karena relatif susah, sehingga beralih mengumpulkan di satu titik, yang sedianya adalah tempat pembuangan sampah. Pihaknya beruntung mendapat mesin-mesin pengolah sampah dari Dinas Lingkungan Hidup. Sejak 2015 dan sampai sekarang, seluruh sampah rumah tangga dikelola sendiri oleh bank sampah. Seluruh rumah di gampong setempat mempunyai tong-tong sampah terpisah, sesuai kategori dan diangkut oleh petugas ke bank sampah.

Gemal menuturkan, sampah organik itu membutuhkan waktu sekitar dua pekan sebelum menjadi kompos. Sampah rumah tangga warga setempat tersebut, telah melalui serangkain proses mulai dari pemilahan, pencacahan, penggilingan, pengeringan, hingga proses pengayakan. Saban bulan, bank sampah Lambung memproses seribu Kg sampah organik dengan hasil bersih 300 Kg kompos.

“Kalau sudah jadi kompos dibagi-bagikan secara gratis kepada warga di sini. Sedangkan kalau sampah non organik, ada yang reusable (pakai ulang) seperti botol air mineral dijadikan sebagai pot tanaman dan biofilter untuk safety tank, Kalau lainnya di recycle (daur ulang),” kata Gemal.

Ia membeberkan, recycle dilakukan dengan pencacahan. Sebelum akhirnya, serpihan plastik tersebut dipasok ke Medan, Sumatra Utara untuk dijual. Berawal dari kegiatan sosial hingga merambah ke ranah bisnis. Bank sampah memperkerjakan empat orang yang terdiri atas pengepul, pemilah, dan dua pencacah untuk masing-masing sampah organik dan anorganik. Sebagai bank sampah, Lambung juga menjadi tempat riset bagi mahasiswa. Selain tentu saja menjadi penampungan sampah hasil aksi bersih-bersih pantai mulai dari seputaran Banda Aceh hingga Aceh Besar, termasuk Pulo Aceh. Gugusan kepulauan di Aceh Besar yang notabenenya merupakan laut lepas.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved