Abrar Menunggu Operasi Jantung

Abrar Azizi (5) bocah sakit jantung asal Gampong Peureulak Baroh, Kecamatan Sakti, Pidie kini menjalani perawatan di Rumah Sakit

Abrar Menunggu Operasi Jantung
Serambinews.com
Abrar Azizi (5) digendong ibunya Susilawati (29) asal Gampong Peurelak Baroh, Kecamatan Sakti, Pidie, saat tiba di IGD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli 

* Bocah Yatim dari Peureulak Baroh

SIGLI - Abrar Azizi (5) bocah sakit jantung asal Gampong Peureulak Baroh, Kecamatan Sakti, Pidie kini menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita di Jakarta menunggu jadwal operasi.

“Abrar akan menjalani CT Scan, lalu jadwal operasi jantung akan ditentukan setelah itu,” kata Susilawati, ibunda Abrar kepada Serambi dari Jakarta melaui telepon selular, Rabu (27/2). Selama di Jakarta mereka tinggal di rumah Teuku Riefki Harsya, anggota DPR RI dan Abrar Azizi (5) bocah yatim mengidap penyakit jantung bawaan.

Sebelumnya, Abrar Azizi sempat terbaring di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, Pidie, Kamis (14/2). Dia dirujuk dari Puskesmas Sakti untuk menjalani pengobatan, karena di Puskesmas belum ada dokter ahli jantung sehingga dibawa ke rumah sakit kabupaten.

Abrar adalah anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Satthari (alm) dan Susilawati (29) asal Gampong Peureulak Baroh, Kecamatan Sakti, Pidie. “Ayahnya sudah meninggal tiga tahun lalu, saya sehari-hari menjaga anak saya dan untuk makan kami dibantu saudara-saudara dekat,” kisah Susilawati dengan nada sedih.

Menurut Susilawati, ia baru tahu anaknya sakit jantung waktu usia si anak 5 bulan. Waktu itu, dia melihat tangannya biru saat menggenggam lalu dibawa ke puskesmas untuk berobat. Akibatnya sakitnya, Abrar tidak tumbuh seperti anak normal lainnya.

“Anak saya mudah capek, kalau lagi main capek langsung tertidur dimana pun berada. Pernah tertidur di jalanan waktu dia jalan kecapean,” ujar Susilawati. Sementara itu, perkembangan tubuhnya juga lambat dan dia baru bisa jalan di usia tiga tahun,

Tetapi, karena mudah capek, tidak bisa berjalan lama ataupun bergerak lama langsung tangan membiru. Di saat da mengurusi anaknya sakit jantung, almarhum ayahnya juga sakit sehingga dirawat di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia, genap sudah tiga tahun.

Sebelumnya ke Jakarta, mereka juga mendapat bantuan dari sejumlah donatur di antaranya PT PLN Area Sigli. Lain halnya, kondisi Qabila Maila (4) warga Meunasah Balee, Kecamatan Sakti, Pidie hanya bisa tergeletak dan tidak bisa beraktifitas seperti halnya anak seusianya.

Kondisinya lemah karena sakit lumpuh layu, walau waktu lahir dalam kondisia normal. Setelah usia 3,5 bulan ia mengalami Celebrar Palsy (lumpuh otak) yang diketahui saat dibawa berobat ke Puskesmas.

Kini di usianya 4 tahun matanya terbuka tapi tidak bisa melihat, kakinya kaku sehingga tidak bisa berjalan. Padahal pada awalnya bocah berkulit putih ini terlahir normal dengan raut wajahnya juga cantik, hidung mancung dan kulit putih bersih. Putri dari pasangan Nuraini (32) dan Marwan ini pernah berobat di rumah sakit, bahkan sampai ke RSUZA di Banda Aceh.

“Anak saya masih terbaring di rumah,” kata Nuraini, Ibunda Qabila, Rabu (27/2). Menurutnya, pasca diberitakan hanya ada satu orang datang membesuk Qabila ke rumahnya dan setelah itu tidak ada lagi.

Dikutip dari berbagai sumber, penyakit cerebral palsy (CP) atay lumpuh otak adalah kumpulan kondisi yang mempengaruhi otot dan saraf, umum terjadi pada bayi dan anak-anak. Cerebral palsy tanda-tandanya pergelarak lengan dan kaki yang tidak normal, gangguan makan pada bayi, pembentukan otot buruk, kaku tubuh dan penghilatan tidak normal.(aya)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved