Pabrik NPK Segera Dibangun

Pembangunan Pabrik Nitrogen Phospor dan Kalium (NPK) milik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) berkapasitas

Pabrik NPK Segera Dibangun
SERAMBI/JAFARUDDIN
DIREKTUR Utama Pupuk Iskandar Muda (PIM), Husni Achmad Zaki menjelaskan rencana pengembangan perusahaan tersebut kepada media, 

LHOKSUKON – Pembangunan Pabrik Nitrogen Phospor dan Kalium (NPK) milik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) berkapasitas produksi 500.000 ton pertahun segera dibangun bulan ini. Kepastian itu diperoleh setelah perjanjian pengerjaan proyek senilai Rp 1 triliun ditandatangani Direktur Utama PIM Husni, Achmad Zaki dengan Direktur EPC & Kerjasama Luar Negeri PT PP (Persero) Tbk, Abdul Haris Tatang, Kamis (28/2).

Penandatanganan kontrak tersebut berlangsung di Kantor PIM Jakarta disaksikan oleh Komisaris Utama PT Pupuk Iskandar Muda, Komisaris dan jajaran Direksi PIM. Sedangkan lokasi pembangunan pabrik NPK berdekatan dengan pabrik urea, dan amonia di areal PIM.

“Insya Allah, Senin besok akan ada meeting dengan pihak kontraktor untuk membahas penjadwalan pembangunan pabrik,” ungkap Dirut PT PIM, Husni Achmad Zaki kepada Serambi, Sabtu (2/3).

Pabrik NPK yang akan dibangun itu hampir sama dengan dengan pabrik di Petrokimia Gresik--produsen pupuk terlangkap di Indonesia--. “Sebelumnnya, kan sudah ada pabrik serupa di Petrokimia Gresik, yang sudah terbukti andal. Jadi arahan dari Pupuk Indonesia lebih bagus menggunakan seperti pabrik tersebut karena sudah terbukti,” ujar Dirut PIM.

Untuk masa pengerjaan pabrik NPK membutuhkan waktu selama 28 bulan dan direncanakan dapat beroperasi pada 2021. Dalam pertemuan sebelumnya, Dirut PIM menyebutkan, pabrik NPK dibangun sebagai antisipasi ke depan jika nanti jika urea nantinya ada permasalahan dari sisi bisnis. Tapi PIM tidak eksis ke depan dengan produksi produk lain selain urea. “PIM memang sudah berkomitmen mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan berinvestasi PIM dengan dana Rp 1 triliun,” katanya.

Dirut juga menceritakan rencana awal pembangunan pabrik NPK pada 2015 dengan metode yang sederhana pembuatannya berkapasitas 100.000 ton pertahun. Tapi sejalan dengan perkembangan, usulan tersebut direview kembali, karena pembangunan tersebut harus seizin pemegang saham.

“Jadi, rencana 2015 dengan kapasitas produksi 100 ribu ton pertahun dibatalkan. Lalu diganti dengan kapasitas 500 ribu ton pertahun dengan proses yang lebih canggih, dan dapat memproduksi lebih maksimal,” tutupnya.

Pada kesempatan itu, Husni Achmad Zaki juga menyebutkan, lokasi pembangunan NPK sangat cocok di kawasan PT PIM, karena untuk kebutuhan ekspor seperti Filipina, Myanmar, dan Thailand lebih dekat. Selain itu, bahan bakunya nantinya juga berasal dari Yordania. Pupuk NPK yang diproduksi di Petrokimia Gresik bahan bakunya juga jauh didatangkan, dan biaya distribusi ke Aceh lebih besar.

“Potensi penggunaan pupuk NPK untuk kebutuhan komersil mencapai 2 juta ton pertahun di wilayan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut). Karena, di kawasan ini banyak perkebunan seperti sawit, kopi, dan untuk yang lain yang membutuhkan pupuk majemuk,” katanya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved