Breaking News:

Pengusaha Aceh Harus Go Digital

Para pengusaha Aceh dituntut go digital dalam menyongsong Revolusi Industri 4.0

Editor: bakri
Pengusaha Aceh Harus Go Digital
SYAIFULLAH MUHAMMAD

BANDA ACEH - Para pengusaha Aceh dituntut go digital dalam menyongsong Revolusi Industri 4.0. Tujuannya, agar produk atau layanan bisnis lebih bersaing di pasar dan ditemukan pelanggan.

Hal itu merupakan kesimpulan dari Talkshow Digitalpreneur yang digelar Dimila.co bekerja sama dengan Nyuci.in Laundry, di Aula Digital Innovation Lounge (DILo) Banda Aceh, Sabtu (2/3).

Acara tersebut menghadirkan tiga pembicara utama yaitu Ketua Atsiri Research Center (ARC) Unsyiah, Syaifullah Muhammad. CEO Ija Kroeng, Khairul Fajri Yahya, dan Founder Nyuci.in Laundry, Suhil Alfata. Mereka secara bergantian membahas sejauh mana sepak terjang pebisnis Aceh dalam menyambut era industri 4.0.

Syaifullah yang menjadi pembicara pertama, membahas fase-fase peralihan industri mulai dari 1.0 hingga 4.0. Menurutnya, di setiap fase, lahir teknologi baru yang menuntut manusia untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi.

Dia menjelaskan, revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Kunci keberhasilan pada industri 4.0 ini, menurutnya, adalah inovasi, kreatifitas dan kecepatan. Para pengusaha Aceh, yaitu pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil dan Menengah (IKM), juga harus beradaptasi dengan perubahan teknologi terbarukan.

Saifullah mengatakan, petani nilam Aceh pun harus menggunakan teknologi penyulingan terbarukan. Sehingga sebagai minyak atsiri terbaik dunia itu menghasilkan minyak nilam kualitas terbaik dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian para petani nilam itu sendiri.

Khairul Fajri Yahya dalam kesempatannya memotivasi peserta agar terus berbisnis dengan mengembangan produk lokal. “Kita harus menjual lokalitas Aceh ke masyarakat global, di samping memberdayakan masyarakat lokal,” kata CEO Ija Kroeng ini.

Dia menjelaskan, Ija Kroeng dengan produk sarung premium-nya, berhasil go internasional. Pada 1 Desember 2018, Ija Kroeng tampil di ajang Fashion Muslim International Festival di Paris, Prancis, bersama sejumlah fashion designer Indonesia lainnya.

“Kita berharap dengan hadirnya produk Ija Kroeng, masyarakat luar menjadi tahu bahwa di Aceh ada produk fashion Ija Kroeng yang sudah mendarah daging dalam masyarakat Aceh,” ungkap Khairul.

Sementara Suhil Alfata selaku Founder Nyuci.in Laundry mengajak pebisnis Aceh untuk go digital. Menurutnya dengan hadirnya teknologi berbasis digital akan memudahkan pebisnis mengontrol bisnis mereka dan juga memudahkan pelanggan dalam menggunakan layanan jasa/produk mereka.

“Saya membangun bisnis Nyuci.in Laundry berbasiskan digital. Jadi masyarakat yang mau memanfaatkan fasilitas laundry tidak perlu lagi keluar rumah untuk mencuci pakaian mereka. Cukup dengan hanya menggunakan smartphone urusan laundri menjadi beres,” ujar alumni Politeknik Aceh ini.

Suhil menambahkan, selain menciptakan inovasi dalam bisnis laundry, Nyuci.in Laundry juga ingin memberikan parameter pelayanan terbaik untuk konsumen laundry di Aceh. Selain teknologi, servis terhadap pelanggan sangat penting.(mun)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved