Cita-cita Umrahkan Orang Tua tak Kesampaian

Raihan Alsyahri (16) mulai bersekolah di SUPM Ladong, Aceh Besar, sejak Juli 2018. Ia rela meninggalkan rumah dan keluarganya

Cita-cita Umrahkan Orang Tua tak Kesampaian
IST
Alm Raihan Alsyahri

Raihan Alsyahri (16) mulai bersekolah di SUPM Ladong, Aceh Besar, sejak Juli 2018. Ia rela meninggalkan rumah dan keluarganya di Mabar, Medan, Sumatera Utara, untuk melanjutkan studi ke Aceh dengan harapan membahagiakan dan mengubah nasib keluarganya.

Kepada Reni Rahayu (41), ibunya, Raihan yang biasa disapa Aan, sempat menceritakan keinginan putranya tersebut untuk mengumrahkan kedua orang tua jika sudah lulus dan bekerja nanti.

“Dia selalu bilang, Ma Aan kalau nanti sukses, semua duit Aan untuk mama. Aan mau umrahkan mama. Aan bakal jadi anak kebanggaan mama,” kenang Reni mengingat ucapan buah hatinya sambil menyeka air mata, seperti dikutip dari Tribun Medan.

Masih kata Reni, pada hari-hari terakhir sebelum ditemukan tak bernyawa, Aan sempat chatingan dengannya. Pesan-pesan yang dikirim juga terkesan sangat manja. “Iya mamaku cinta, mamaku sayang. Gitu jawabnya waktu chatting samaku. Kayak mau pacaran aku ini sama anakku,” ucapnya haru.

Sementara itu, ayah kandung korban, Sofyan (42) juga terlihat sangat terpukul meratapi kepergian Aan. “Yang paling aku ingat tentang dia, selalu saya bilang kau adalah pahlawan kecilku. Karena dia pengertian sering bantu cari makan. Saya dagang kerupuk jangek masukkan ke grosir-grosir. Kalau dilihatnya saya capek, dia minta agar dirinya saja yang antar barang. Pas siang pulang kerja setelah pulang kerja malam, dilihatnya saya belum bangun. Selalu dibilangnya sama mamanya biar Aan saja yang jualan kerupuk jangek,” kata Sofyan meneteskan air mata mengingat Aan.

Kata Sofyan, anaknya itu sempat mengungkapkan keinginannya bersekolah jauh-jauh ke Aceh dengan harapan nanti bisa mengubah nasib keluarga. Di matanya, Aan merupakan sosok pengertian dan tidak mengeluh. Karena selama ini anak tidak mengeluh mengenai jumlah jajan yang diberikan.

Namun, semua harapan itu belum mampu diwujudkan. Ia bahkan tidak sempat ikut praktik kerja lapangan (PKL) pertamanya di kapal nelayan.

Karena saat teman-teman seangkatannya dilepas PKL, untuk ikut berlayar dengan kapal-kapal nelayan, Jumat (1/3) pagi, Aan masih belum diketahui keberadaanya. Namun, pada sore di hari yang sama Aan ditemukan tak bernyawa di bukit belakang sekolah, bukit kenangan, tempat biasa mereka bercanda ria bersama teman-temannya.

Diawasi petugas
Semua aktivitas siswa SUPM Ladong, Aceh Besar, sebenarnya diawasi oleh petugas asrama maupun guru. Mulai sejak bangun pagi, belajar, ekstrakurikuler, hingga belajar malam, seperti diutakan Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Harun kepada Serambi, Selasa (5/3). Menurutnya, selama ini terdapat sepuluh petugas yang mengawasi asrama siswa dan siswi SUPM secara bergantian. Sementara saat di sekolah, sama seperti di tempat lain, para siswa juga diawasi oleh guru.

Harun menjelaskan, siswa diwajibkan mengikuti semua tahapan kegiatan di sekolah dan setiap sesinya diberlakukan absen. Dirincikan bahwa kegiatan diawali dengan shalat Subuh, lalu sarapan, sekolah (08.00-11.30 dan 14.00-16.00 WIB), lalu sore dilakukan kegiatan ekstrakurikuler secara bebas dan malam hari siswa belajar di asrama.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved