Kupi Beungoh

Mengenal Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir

Belanda didukung oleh persenjataan dan pasukan yang memadai, sedangkan Aceh pada awal lima tahun pertama mengalami kekurangan pasukan dan senjata

Mengenal Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir
FOR SERAMBINEWS.COM
Surat yang dibawa oleh Habib Abdurrahman yang ditujukan kepada Sultan Turki 

Menurut keterangan keturunan beliau, Syarifah Kahiriah binti Hasan Bafaqih, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur tidak menerima sepeser pun uang dari pihak Belanda, bahkan ketika anak-anak beliau ingin bersilaturahmi ke Batavia menjumpai sanak keluarga, Belanda justru menangkapnya. Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa neneknya, Syarifah Maryam, yang merupakan putri dari Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, harus berjualan secara kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan selalu dalam pengawasan Belanda.

Baca: Bertemu Presiden Filipina, Mahathir Mohamad Ingatkan Duterte Hati-hati Terima Pinjaman Dari China

Melihat kondisi ini, penulis berkeyakinan bahwa pemberian uang tersebut hanya sebuah propaganda Belanda untuk merusak karakternya di mata masyarakat Aceh. Selama ini informasi hanya didapatkan dari pihak Belanda, tanpa kita berusaha melakukan cross check dengan pihak keluarga Habib Abdurrahman.

Kenapa Belanda ingin merusak karakter Habib Abdurrahman?

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah beliau dahulunya terlalu banyak menyusahkan dan merugikan pihak Belanda, baik sebelum maupun ketika masa peperangan. Kedua, pengaruh Habib masih ada di Aceh. Terakhir, untuk membuat masyarakat Aceh lupa terhadap jasa-jasa Habib baik sebelum dan sesudah perang. Karena pengaruh tokoh-tokoh Arab yang menyebar di seluruh nusantara menjadi fobia bagi pihak Belanda, karena pembelaan-pembelaan mereka terhadap umat Islam di Nusantara.

Ketika di Jeddah, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur diangkat menjadi Syaikh as Sadat (syaikh para Sayyid) oleh Gubernur Turki pada tahun 1886 dan beliau di sana banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para keluarga Sayid dan juga para pelajar yang berasal dari nusantara. Di antaranya kepada Habib Hasyem bin Umar Bafaqih Aidid, Habib Husein bin Umar Bafaqih, dan Tengku Ali Lampaseh (Montasik).

Ketika Habib berada di Tanah Hijaz, beliau tetap memberikan masukan tentang Aceh dengan pandangan-pandangan positif yang bertujuan untuk kedamaian Aceh. Tetapi sayang, banyak pandangan beliau yang dibelokkan oleh para sejarawan sehingga menimbulkan perspektif negatif tentang beliau. Hal inilah tentunya yang di inginkan oleh beberapa tokoh orientalis supaya kita kaum muslimin membeci tokoh dan ulama di kalangan kita.

*) Sayed Murtadha Al-Aydrus MSc adalah Ketua Asyraf Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved