Opini

Obral Terma Agama

TERMA agama telah cukup lama digunakan secara serampangan dalam proses politik

Obral Terma Agama
Fabian Januarius Kuwado
Presiden Joko Widodoo saat bersilaturahim dengan ulama se-Aceh di Istana Negara, Jakarta 

Oleh Marah Halim

TERMA agama telah cukup lama digunakan secara serampangan dalam proses politik. Demi mengeruk suara dari agama-agama tertentu, digunakanlah terma agama untuk mendeskripsikan apa saja yang terkait dengan proses pemilihan umum (pemilu). Baru-baru ini istilah “Jihad Qital” digunakan seenak perut, memang itu digunakan sebagai reaksi atas kubu sebelahnya yang juga serampangan memilih kata “Perang Total”.

Baik “Perang Total” atau “Jihad Qital” adalah dua pilihan kata yang jika dihubungkan ke situasi politik yang tidak kondusif ini adalah pilihan kata yang buruk, dua-duanya kekanak-kanakan dan tidak peka situasi. Terma jihad digunakan untuk mengolah emosional simpatisan. Di masyarakat terma ini sudah terlanjur dianggap radikal; bagaimanapun upaya kita menjelaskannya bahwa itu terma tidak ada sangkut-pautnya dengan terorisme ataupun radikalisme, namun dalam kenyataan terma itu selalu digunakan dalam konteks adanya perlawanan dalam politik. Padahal terma ini akan lebih indah digunakan dalam aspek yang lebih positif, misalnya jihad melawan kanker, jihad melawan sampah, jihad melawan kemiskinan, jihad melawan penyakit menular, jihad melawan DBD dan sebagainya; jauh lebih produktif, dijamin masuk surga.

Demikian juga dengan istilah perang, sudah terlanjur dengan konotasi pertempuran bersenjata yang siapapun yang terlibat hanya ada dua piihan, hidup atau mati. Itukah yang diinginkan oleh pihak yang menggunakan istilah ini?

Meski sudah dikonfirmasi karena yang bersangkutan berlatar belakang militer, maka istilah itu familiar dengan dirinya. Namun publik bisa saja keberatan dan menganggap yang bersangkutan terlalu ego politik, memaksa orang untuk memahami cara berpikirnya. Alangkah baiknya jika dia turunkan ego dan antenanya untuk menyamakan frekuensi dengan publik yang antenanya kebanyakan mungkin masih rata-rata.

Tidak baik
Banyak terma yang baik sekalipun karena digunakan untuk menyerang menjadi tidak baik pada akhirnya. Terma-terma seperti “akal sehat”, “orang cerdas” yang pada awalnya baik, tetapi karena digunakan sebagai narasi memuji diri dan bermaksud mengatakan kubu lain sebaliknya, adalah bentuk eksploitasi terma untuk menguntungkan kelompok sendiri.

Mengobral terma agama secara vulgar adalah bentuk ketidakkompetenan suatu pihak dalam berpolitik atau memang disengaja. Jika memang disengaja, maka betapa bobroknya sudah mental bangsa yang konon sedang direvolusi ini. Kita menyayangkan mengapa orang-orang emosional itu yang terlibat menjadi tim kampanye masing-masing kubu, kiranya masih banyak orang lain yang lebih matang untuk menjadi bagian. Begitu sulitkah mencari figur-figur yang bisa berkomunikasi eksternal secara wajar?

Hingga kini, kita dapat menyimpulkan bahwa dua tim kampanye, baik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin atau Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi sama-sama tidak dewasa berpolitik. Satu indikatornya adalah jual-beli kecaman dan sebagainya. Pantang ada kesalahan dari kubu lain, langsung disambar dan digoreng sampai gosong. Sesudah gosong sama-sama menyesal dan berjanji mengubah cara; tapi publik sudah terlanjur terbelah.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai wasit juga terkesan tidak tegas menindak “pemain” yang kasar dalam bertanding. Selama tahapan kampanye ini, memang penampilan Bawaslu terkesan malu-malu. Kiprahnya tertelan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara. Padahal ketika tahapan kampanye telah berjalan, maka giliran Bawaslu di tengah lapangan yang harus tegas mengontrol jalannya pertandingan.

Pengaruh media yang begitu bebas menyiarkan acara talkshow yang memamerkan gaya berdebat “tarung bebas” ala Oktagon, turut memprovokasi perilaku politik kasar kita hampir setahun belakangan ini. Para narasumber tidak bisa memakai kalimat-kalimat yang majazi dalam menyampaikan pendapat dan uneg-uneg-nya dengan alasan pendapat akademik.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved