BI dan Himki Bahas Potensi Rotan Aceh

Bank Indonesia (BI) Aceh dan Himpunan Industri Meubel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Aceh, membahas terkait upaya

BI dan Himki Bahas Potensi Rotan Aceh
Iqbal Musyaffa - Anadolu Agency
Ilustrasi - Kantor Bank Indonesia di Jakarta. 

BANDA ACEH - Bank Indonesia (BI) Aceh dan Himpunan Industri Meubel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Aceh, membahas terkait upaya pengembangan industri rotan di Aceh, yang berlangsung di Ruang Auditorium BI Aceh, Jumat (8/3). Kegiatan ini dihadiri ketua dan pengurus Himki Aceh, tim pokja Komite Ekonomi dan Industri Nasional (Kein), Kepala Biro Ekonomi Setda Aceh, Bappeda, SKPA, PDPA, serta pengusaha rotan.

Pertemuan itu dipimpin Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis, yang memaparkan mengenai kondisi perekonomian di Aceh, serta perkembangan dan potensi rotan nasional dan Aceh. Ia juga menyoroti kinerja perbankan Aceh dalam menyalurkan kredit atau pembiayaan ke sektor UMKM.

Ketua Himki Aceh, Razali Idris menyampaikan, sebagian besar rotan mentah Aceh dibawa ke Medan, Cirebon, dan daerah lainnya untuk dipasok ke sejumlah industri rotan. Potensi bahan baku yang dimiliki ini sangat besar, sehingga ke depan Aceh juga dapat menjadi sentra industri rotan seperti Cirebon.

Sementara seorang pengusaha rotan Aceh yang hadir dalam pertemuan tersebut menyebutkan, Aceh memiliki jenis rotan terbaik di dunia, yaitu manau. Selama ini kendala yang dihadapi pengusaha rotan adalah minimnya teknologi, dan perajin rotan yang memiliki skill dalam menghasilkan produk rotan sesuai permintaan pasar ekspor.

Selanjutnya Pimpinan Tim Pokja Kein, Han Prajanto menyebutkan, meskipun sudah terdapat larangan untuk melakukan ekpor rotan mentah, namun praktik ekspor ilegal masih kerap terjadi.

“Kebijakan pemerintah diharapkan dapat mengakomodir ini, baik kepentingan petani rotan maupun pelaku usaha rotan. Nantinya, hasil diskusi ini akan menjadi referensi bagi Kein dalam memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Pusat terkait pengembangan industri rotan,” sebutnya.

Menurutnya, sebagai daerah dengan kekayaan alam yang melimpah, sudah seharusnya Aceh memberi kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Berbagai kendala yang selama ini menghambat pengembangan produk-produk unggulan Aceh perlu dirumuskan, dan diimplementasikan solusinya secara bersama.

“Sinergi dan kolaborasi seluruh stakeholder di Aceh menjadi faktor penting dalam menyatukan berbagai potensi, program, dan keunggulan yang tersebar dan dimiliki masing-masing stakeholder,” demikian katanya.(una/rel)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved