2 Alat Pengolah Trombosit Rusak

Dua alat pengolah trombosit di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Utara

2 Alat Pengolah Trombosit Rusak
SERAMBI/SAIFUL BAHRI
KARYAWAN PT Perta Arun Gas (PAG) dalam rangka memeriahkan HUT Ke-6 mengikuti donor darah di Main Office perusahaan itu di kawasan Muara Satu, Lhokseumawe, Selasa (12/3). 

LHOKSEUMAWE – Dua alat pengolah trombosit di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Utara sejak Kamis (7/3) lalu mengalami kerusakan. Akibatnya, sejak Senin (11/3) mereka tidak dapat memberi pelayanan kepada rumah sakit yang memesan trombosit.

Padahal, selama ini, tiap hari rata-rata pihak UTD harus menyediakan 4-5 kantong trombosit bagi pasien yang dirawat di 12 rumah sakit yang ada di Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe.

Kepala UTD PMI Aceh Utara, dr Ivo Febriani kepada Serambi kemarin menjelaskan, selama ini pihaknya melayani pasien yang dirawat di 12 RS yang ada di Lhokseumawe dan Aceh Utara, baik itu berupa kebutuhan sel darah merah, trombosit, atau plasma. “Proses untuk mendapatkan tiga item itu berawal dari darah pendonor, dan dilakukan pemeriksaan apakah ada penyakit menular. Bila tidak ada, maka darah akan disimpan di kulkas. Saat ada permintaan, apakah untuk sel darah merah, trombosit atau plasma, baru diolah dengan menggunakan alat-alat khusus,” katanya.

Khusus untuk mengolah trombosit, lanjut dr Ivo, pihaknya memiliki dua unit alat. Namun, sejak Kamis (7/3), kedua alat tersebut mengalami kerusakan. “Saat ini, kedua alat tersebut rusak. Kita masih memiliki stok beberapa kantong trombosit. Namun, sampai Minggu (10/3) malam, hanya tersisa cuma satu kantong. Itupun sudah kadaluarsa, karena trombosit yang sudah diolah hanya bertahan lima hari saja,” katanya.

Menurutnya, pada Senin (11/3), memang ada permintaan sebanyak dua kantong trombosit dari pasien yang dirawat di RS Arun. Tapi tidak tersedia lagi. “Sekarang ini, kita sudah layangkan surat ke seluruh rumah sakit, bahwa sementara ini kita tidak bisa menyediakan trombosit,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Ivo mengakui, teknisi untuk memperbaiki alat pengolah trombosit sudah tiba di Lhokseumawe. Hanya saja, proses perbaikan belum bisa dilakukan karena harus menunggu suku cadang yang dikirim dari Jakarta. Diperkirakan, untuk perbaikan kedua alat tersebut membutuhkan biaya mencapai Rp 200 juta. “Sejauh ini kita belum bisa pastikan kapan kedua alat itu bisa difungsikan kembali,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam rangka memeriahkan HUT Ke-6, PT Perta Arun Gas (PAG) menggelar donor darah dan penyuluhan narkoba di Main Office perusahaan tersebut kawasan Muara Satu, Lhokseumawe, kemarin.

Vice President Production PT PAG, Tarmizi menyebutkan, kegiatan sosial ini diikuti karyawan, mitra dan masyarakat sekitar perusahaan. “Semoga darah yang terkumpulkan melalui kegiatan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Di sisi lain, Dr Ivo Febriank menyebutkan, rusaknya alat pengolah trombosit di UTD tentu saja sangat menyulitkan masyarakat. Untuk sementara ini, bila ada pasien yang membutuhkan trombosit terpaksa harus ke Langsa ataupun Banda Aceh.

“Kondisi ini sangat merepotkan keluarga pasien. Karena, sampel untuk pencocokan darah harus dibawa ke UTD di mana pasien bisa mendapatkan trombosit. Belum lagi proses membawa trombosit, tentunya harus hati-hati. Intinya kita akan upayakan supaya alat di tempat kami bisa cepat siap,” demikian dr Ivo.(bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved