Kuasa Hukum Siap Ungkap Nama Jenderal Polisi Terlibat Kasus Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan

"Tapi ada nama-nama jenderal, tidak hanya satu jenderal, tapi lebih dari satu jenderal yang kita cantumkan, yang kita temukan dalam investigasi,"

Kuasa Hukum Siap Ungkap Nama Jenderal Polisi Terlibat Kasus Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan
(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Penyidik KPK Novel Baswedan tiba di gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/2/2018). Novel kembali ke Indonesia setelah sepuluh bulan menjalani operasi dan perawatan mata di Singapura akibat penyerangan air keras terhadap dirinya.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG) 

"Kenyataan tragis yang terjadi di tengah ribuan janji-janji mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia. Janji tinggal lah janji. 700 hari tidak ada yang terjadi," papar Yudi Purnomo.

Baca: Makin Banyak Negara Cekal Pesawat 737 MAX, Trump Bicara Dengan CEO Boeing Lewat Telepon

Ia pun menyatakan, tepat pada 700 hari penyerangan Novel Baswedan pada 12 Maret 2019, Wadah Pegawai KPK meminta segenap komponen bangsa untuk sejenak meninggalkan suara nyaring yang terus disuarakan oleh berbagai kalangan, yang menuntut keadilan dan melawan kezaliman ini.

Yudi Purnomo mengatakan, perlindungan terhadap putra dan putri Indonesia yang bekerja di KPK dan berupaya menjalankan cita-cita bangsa, semakin jauh dari keadilan.

"Sejauh perjalanan 700 hari menjauh dari keadilan. Suara kebenaran seakan hanya dianggap angin lalu. Di tengah hiruk pikuk berebut kekuasaan, keadilan menemui jalan gelap, buntu, sunyi, dan tanpa kepastian," beber Yudi Purnomo.

Baca: Mahathir Bantah Pembebasan Siti Aisyah Hasil Lobi Pemerintah Indonesia

Ia melanjutkan, pada 12 Maret 2019, 700 hari penyerangan Novel Baswedan, pegawai KPK sudah menunggu realisasi janji pimpinan negara untuk membongkar kasus penyerangan Novel Baswedan.

Ia mengatakan, berbagai suara sudah disuarakan, berbagai aksi telah dilakukan, protes dan aksi sudah digelar di seluruh penjuru Indonesia, namun akhirnya tiba masanya bagi mereka menyuarakan suara kalbu.

"Kalimat yang hanya bisa terdengar saat diam. Diam adalah bahasa tanpa sandiwara dan kebohongan. Diam adalah bahasa terakhir saat lidah kita semua sudah membeku menjeritkan keadilan. Mari bersama selama 700 detik, melawan dengan bahasa diam," ajak Yudi Purnomo.

Baca: Nikahi Wanita Indonesia, Bule Inggris Jatuh Miskin, Ternyata Istrinya Gunakan Uang Untuk Ini

Angka 0700 di layar kemudian mulai terus berkurang, menjadi 0699, 0698, 0697, dan seterusnya.

Seterusnya hanya terdengar suara lampu kilat kamera.

Samar-samar, terdengar suara kendaraan yang melintas di depan Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.

Samar-samar terdengar bisik-bisik puluhan wartawan yang mengabadikan aksi diam dalam kegelapan tersebut. (Tribunnews.com/Gita Irawan)

Editor: Hadi Al Sumaterani
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved