Breaking News:

Opini

Memantik Minat Baca Menyulut Semangat Tulis

UNTUK mewujudkan Indonesia Pintar atau Aceh Caröng misalnya, tidak ada upaya lain yang lebih urgen

Editor: bakri

Oleh Azwardi

UNTUK mewujudkan Indonesia Pintar atau Aceh Caröng misalnya, tidak ada upaya lain yang lebih urgen dilakukan pemerintah selain memantik minat baca dan menyulut semangat tulis rakyatnya. Hasil-hasil penelitian terkait dengan minat baca menunjukkan bahwa minat baca bangsa Indonesia masih rendah, jauh di bawah negara-negara lain. Kita tidak boleh tinggal diam atas kondisi yang tidak baik ini. Kita mesti melakukan sesuatu untuk memperpaiki kondisi tersebut. Siapa pun harus mengakui bahwa “buku adalah gudang ilmu, membaca merupakan kuncinya”.

Minat baca hanya terpantik dari pengondisian pembiasaan membaca (dan juga menulis) kepada anggota komunitas-komunitas masyarakat, seperti anggota keluarga, anak sekolah, santri dayah, warga kampus, dan masyarakat luas. Untuk itu, pemerintah, melalui kebijakan anggarannya harus benar-benar komit dan memihak kepada hal-hal yang bermuara pada kondusifnya iklim penyediaan dan penyebaran gagasan-gagasan penting demi penguatan dan pemantapan eksistensi keliterasian, baik pada level lokal maupun pada tataran nasional.

Gerakan literasi
Terkait dengan penumbuhan minat baca, bentuk kegiatan nyata yang perlu dilakukan Pemerintah, antara lain, adalah riset-riset unggulan sebagai dasar kebijakan dalam melaksanan tindakan, upaya meningkatkan minat baca masyarakat, penyediaan bahan bacaan, dan workshop kepenulisan.

Menggerakkan kegiatan literasi yang sudah dicanangkan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, secara gencar terus menerus melalui riset, penyediaan, dan penyebaran bahan bacaan demi terciptanya Indonesia Pintar atau Aceh Caröng melalui Gerakan Literasi Keluarga (GLK), Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Dayah (GLD), dan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) secara simultan urgen dilakukan.

Bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap kecerdasan anak bangsa, antara lain, dapat dilakukan melalui gerakan literasi. Idealnya, untuk membumikan minat baca dan semangat tulis, perlu dipetakan program-progran strategis seperti berikut: (1) penguatan literasi keluarga, (2) penguatan literasi sekolah, (3) penguatan literasi dayah/pesantren, (4) penguatan literasi kampus, dan (5) penguatan literasi masyarakat.

Bagi Aceh misalnya, untuk percepatan pencapaian visi, misi, dan tujuan Aceh Caröng yang telah dicanangkan oleh gubernur beberapa waktu yang lalu, penguatan literasi masyarakat urgen dilakukan demi merangkai aneka mata rantai untuk mencapai Aceh smart, pintar, kuat, meuadab, dan bermartabat. Penguatan literasi masyarakat tersebut perlu didukung oleh semua elemen bangsa, baik secara personal, organisasi masyarakat, maupun institusi negara. Di pihak lain, bentuk tangung jawab masyarakat demi terwujudnya minat baca dan semangat tulis, diperlukan sejumlah prasyarat yang dapat mendukung.

Prasyarat tersebut, antara lain, bersikap positif terhadap dunia keliterasian, memiliki banyak referensi, rajin membaca, giat berlatih menulis, dan terus-menerus menulis. Banyak referensi terlihat dari koleksi perpustakaan yang dimiliki seseorang. Orang yang hobi menulis, biasanya gemar membaca. Orang yang gemar membaca, biasanya rajin membeli buku. Orang yang rajin membeli buku, biasanya menyukai bahan bacaan. Orang yang menyukai bahan bacaan, biasanya koleksi perpustakaannya banyak. Sebaliknya, yang tidak hobi menulis malas membaca, enggan membeli buku, dan tidak suka bahan bacaan, tentulah koleksi perpustakaannya minim.

Memantik minat baca dan menyulut semangat tulis tidak semudah membalikkan tanah di sawah. Untuk itu, dibutuhkan syarat-syarat tertentu yang harus dilalui secara bertahap. Pertama, siapa pun calon pembaca mula-mula ia harus menyukai bahan bacaan (buku, koran, majalah, dan sebagainya), mau membelinya meskipun belum ingin membacanya. Setelah itu, calon pembaca harus memaksa dirinya untuk membiasakan membaca. Kegiatan ini penting dilakukan demi terpantik dan memicu minat baca. Kemudian, bila minat baca sudah didapatnya, apa pun yang dibaca mudah dipahaminya. Pemahaman yang baik dan benar terhadap bahan bacaan inilah yang dinamakan ilmu pengetahuan atau skemata.

Orang yang daya dan upayanya sudah mencapai pada level butuh akan terus membaca, membaca, dan membaca. Dia merasa rugi bila waktunya tersita begitu saja dengan kegiatan-kegiatan yang sia-sia. Dari waktu ke waktu intensitas dan kualitas membacanya kian terbina sehingga ruang memorinya terus disesaki oleh pengetahuan, pengalaman, dan perasaan. Pada tahap ini ia mulai ingin menulis, menulis, dan menulis meskipun apa yang ditulisnya masih terbatas pada meredaksikan kembali dengan bahasanya sendiri tentang apa yang dipahami dari apa yang dibacanya berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan perasaan yang ditulis orang.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved