Opini

Penghapusan Istilah

SAYA tak punya cukup pengetahuan untuk menjelaskan kapan pertama kali istilah cuak digunakan orang Aceh

Penghapusan Istilah
NASKAH sumpah Wali Nanggroe Aceh Ke-9, Malik Mahmud Al-Haytar dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia. SERAMBI/ANSARI HASYIM

Oleh Bisma Yadhi Putra

SAYA tak punya cukup pengetahuan untuk menjelaskan kapan pertama kali istilah cuak digunakan orang Aceh, termasuk asal-usulnya; apakah ia bahasa Aceh asli, istilah dari bahasa Melayu, bahasa Turki, atau jangan-jangan diambil dari nama seseorang yang pernah berkhianat (seperti quisling [pengkhianat] dalam vokabuler bahasa Norwegia yang berasal dari nama Vidkun Quisling, pemimpin Norwegia yang berkolaborasi dengan Jerman saat Perang Dunia II).

Yang pasti istilah itu sudah dipakai dalam waktu yang tidak sebentar. Dulu saya berpikir cuak pertama kali muncul dalam konflik GAM-RI. Kemudian saya diberitahu bahwa penggunaan istilah itu sudah ada di masa Perang Cumbok. Tapi di kemudian hari dalam Atjeh-nya Zentgraaf, saya mendapati istilah cuak ternyata sudah ada sejak masa perjuangan bangsa Aceh melawan Belanda.

Bisa jadi umur istilah cuak lebih tua dari riwayat di atas. Barangkali ia sudah ada sebelum orang Aceh tertua saat ini lahir. Mungkin juga ia sudah terlibat di perang-perang yang berusia lebih tua. Dan semakin menua karena penggunaannya masih ada sampai hari ini.

Tetapi cuak ternyata bukan cuma dipakai untuk menyebut orang yang berkhianat dalam perang. Ia dipakai sembarang dalam narasi konflik yang lebih luas atau dalam berbagai konteks serta kepentingan. Ada siswa yang dipanggil cuak, karena dia memberitahu guru bahwa kawan-kawannya kemarin cabut sekolah. Ketika Irwandi Yusuf ditangkap KPK, beberapa pendukungnya menyebut seorang bawahan Irwandi sebagai cuak. Sementara dulu para uleebalang dicap cuak karena bersekutu dengan penjajah.

Meski sebuah kata punya makna yang sama dengan (sejumlah) kata lainnya, kemampuan dalam memberi dampak terhadap perasaan orang tidak pernah sama. Kekuatan kata-kata yang bermakna sama, bisa jadi berbeda-beda. Orang Aceh akan lebih merasa jijik memandang orang yang dicap cuak, ketimbang dengan mereka yang dimaki dengan istilah “pengkhianat”. Akan lebih sakit ketika oleh khalayak dipanggil cuak. Akan beda rasanya dimaki orang banyak dengan cuak paleh ketimbang “pengkhianat” paleh. Maka untuk memberi rasa sakit yang lebih besar kepada orang-orang yang berkhianat, cuak yang lebih suka dipakai.

Dampak-dampak yang diderita oleh mereka yang diidentitaskan cuak pun bisa bertahan lama. Ada yang lantas dibunuh, diusir dari kampung, hingga anak kandung mereka harus hidup dengan beban sosial yang terkandung dalam predikat aneuk cuak. Siapa saja yang menjadi cuak akan dipandang nista. Apa pun persoalan yang melatarbelakangi mereka menjadi cuak. Baik karena takut dibunuh, diancam akan diperkosa kalau tidak memberi informasi, atau faktor lainnya, orang-orang tidak mau tahu. Pokoknya tetap akan dipandang begitu.

Memandang pemberian stigma cuak yang masih berlaku sampai hari ini dapat mengganggu rekonsiliasi pascakonflik, Teuku Kemal Fasya merekomendasikan agar penggunaan istilah tersebut dihapus. Rekomendasi itu disampaikan dalam diskusi kelompok terarah (FGD) yang diselenggarakan Badan Kesbangpol Aceh pada 29 Oktober 2018 lalu.

Akan tetapi memahami betapa terikatnya istilah itu dengan cara peluapan amarah orang Aceh terhadap pengkhianat tentu membuat kita bertanya: apakah usulan Teuku Kemal Fasya itu akan bisa diwujudkan? Begitu pula pertanyaannya atas usulan NU untuk menghilangkan penyebutan “kafir” terhadap warga Indonesia yang bukan pemeluk agama Islam.

Saya tak akan masuk ke perdebatan tepat-keliru atau baik-buruk usulan penghapusan istilah. Apa yang ingin saya diskusikan adalah aspek politis-ideologis dalam usulan seperti itu. Kemudian soal bisa-tidaknya istilah yang sudah lama dipakai oleh masyarakat bisa dihilangkan, terutama terhadap istilah yang difungsikan untuk mengafirmasi perbedaan keyakinan, identitas sosial, dan keberpihakan politik.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved