Breaking News:

Opini

Penghapusan Istilah

SAYA tak punya cukup pengetahuan untuk menjelaskan kapan pertama kali istilah cuak digunakan orang Aceh

Editor: bakri
Penghapusan Istilah
NASKAH sumpah Wali Nanggroe Aceh Ke-9, Malik Mahmud Al-Haytar dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia. SERAMBI/ANSARI HASYIM

Destruksi-konstruksi
Usulan penghapusan istilah tidak bertujuan untuk menghentikan penggunaan istilah yang dimaksud. Di dalamnya ada pembicaraan yang lebih besar, yang melampaui persoalan leksikal. Penghapusan istilah hanyalah sarana untuk membangun sesuatu yang besar/penting/substansial, yang dipandang kamilmukamil oleh pengusulnya.

Maka usulan penghentian penggunaan istilah tidak pernah tak ideologis-politis, sebab tujuan pemrasarannya ingin mendestruksi “ini” untuk mengonstruksi “itu”. Baik dalam konteks rekonsiliasi, pembangunan konsensus, edukasi, integrasi wilayah, revitalisasi kebudayaan, penguatan religiositas, dan lain-lain.

Seorang ibu melarang anaknya memakai “woi” ketika memanggil temannya. Anaknya diharuskan membuat pemanggilan dengan menggunakan nama saja. Substitusi ini berada dalam konteks edukasi, atau yang lebih dikenal umum dengan “pendidikan karakter”. Dalam kasus ini, yang didestruksi adalah kebiasaan tidak baik dan yang dikonstruksi adalah kesopanan dalam bertutur sehari-hari.

Lantaran istilah “lonte” dan “pelacur” dinilai kasar/vulgar, dibikinlah satu eufemisme: wanita tunasusila (WTS). Tetapi di kemudian hari, penyebutan itu pun dirasa tidak adil karena pelaku prostitusi bukan cuma wanita. Maka dikenallah sebutan pekerja seks komersial (PSK). Kasus ini menunjukkan penggunaan istilah baru di ruang sosial bisa dilakukan, meski faktanya tidak mungkin istilah atau sebutan sebelumnya yang dianggap tidak pas bisa betul-betul dilenyapkan. Dalam contoh lain, sudah tak terhitung banyaknya imbauan agar memakai “kemaluan” untuk menghindari penggunaan istilah “vagina” dan “penis”. Tetapi tetap ada yang memakainya baik verbal maupun nonverbal di ruang sosial.

Penerapan hukuman atas penggunaan istilah tertentu pun hanya mampu menekan keseringan penggunaannya. Tidak menghilangkan secara keseluruhan. Itulah yang disebut disensus. Dan itu lumrah terjadi. Selalu akan ada disensus itu dalam penerapan hal-hal yang ideologis-politis. Sebagaimana disensus yang terjadi setelah NU mengusulkan penghentian pemakaian istilah “kafir”.

Tetapi fakta lain juga menunjukkan bahwa jangankan satu istilah, satu bahasa pun bisa lenyap atau tidak ada lagi penggunanya. Ada cukup banyak bahasa yang sudah punah. Beberapa dari sekian banyak cerita sedih mengenai punahnya bahasa bisa kita baca di Dunia Hingga Kemarin (2015), halaman 500-504. Di situ Jared Diamond memberitahu, ada beberapa penyebab yang dapat menghapus bahasa.

Cara tercepat dengan membunuh penutur-penuturnya, sebagaimana kasus “orang-orang kulit putih California melenyapkan bahasa orang Indian `liar’ terakhir di Amerika Serikat ... dalam serangkaian pembantaian antara 1853 dan 1879". Lenyapnya bahasa juga bisa terjadi akibat epidemi yang membunuh sebagian besar penutur bahasa tersebut. Mobilitas penduduk dan “pernikahan campur” juga bisa memusnahkan bahasa. Nah!

* Bisma Yadhi Putra, esais dari Gampong Panggoi, Lhokseumawe. E-mail: bisma.ypolitik@gmail.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved