Dubes Uni Eropa Puji Perkembangan Aceh

Duta Besar Uni Eropa, Vincent Geurend memuji perkembangan Aceh yang menurutnya kondisi saat

Dubes Uni Eropa Puji Perkembangan Aceh
SERAMBI/HERIANTO
WAKIL Ketua II DPRA, Irwan Djohan menjelaskan tentang kondisi lingkungan hidup di Aceh, terutama soal TNGL kepada rombongan Dubes Uni Eropa yang berkunjung ke DPRA, Rabu (13/3). 

BANDA ACEH - Duta Besar Uni Eropa, Vincent Geurend memuji perkembangan Aceh yang menurutnya kondisi saat ini sudah lebih baik dari 14 tahun lalu. “Pada tahun 2005 lalu, pascatsunami dan konflik, kami langsung melihat sendiri waktu itu, kondisinya rusak berat dan sangat parah. Sekarang ini, sudah bagus dan kotanya kelihatan sangat indah dan bersih,” ujar Vincent Geurend kepada wartawan usai pertemuan dengan Wakil Ketua II DPRA, Irwan Djohan di ruang kerjanya, Rabu (13/3).

“Tugas Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota berikutnya untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya. Kami sarankan fokuskan program pembangunan kepada pendidikan untuk peningkatan SDM dan investasi, serta ciptakan pemerintah yang baik dan bersih, tanpa korupsi,” ujarnya.

Vincent menjelaskan, misi kunjungan kerjanya ke Aceh selama tiga hari bersama tiga temannya, pertama untuk melihat kondisi Aceh jelang Pemilu 2019. “Ternyata, kondisinya cukup bagus seperti dijelaskan Wakil Ketua II DPRA, Irwan Djohan. Dalam penjelasannya, Irwan Djohan menyatakan kondisi pemilihan legislatif 2019 di Aceh lebih baik dari situasi Pemilu 2014 lalu. Sampai kini juga belum ada keributan atau kerusuhan massal,” urainya. Mendengar penjelasan itu, ucap Vincent, dirinya sangat senang dan gembira. Karena dengan kondisi seperti itu, tugas Pemerintah Aceh berikutnya adalah bagaimana caranya memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya, yakni dengan memfokuskan program pembangunan bidang pendidikan untuk peningkatan SDM lokal. “Kalau SDM lokalnya sudah bagus, ini akan menjadi daya tarik bagi investor untuk masuk ke Aceh menanam modalnya di daerah ini,” ulas Vincent.

Selain masalah Pemilu 2019, isi pembicaraan Dubes Uni Eropa dengan Wakil Ketua II DRRA, Irwan Djohan juga meluas ke berbagai sektor lainnya. Termasuk rencana pelaksanaan proyek listrik panas bumi (geothtermal) di Kawasan TNGL oleh Hitai dari Turki. Irwan Djohan mengaku, dirinya kurang setuju potensi panas bumi (geothermal) yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Luoser (TNGL) di Aceh Tenggara dan Gayo Lues diizinkan untuk dieksloitasi menjadi sumber pembangkt tenaga listrik, karena masih banyak titik lokasi geothermal lain yang bisa dijadikan sumber tenaga listrik.

Di Aceh, sebutnya, da 17 sumber lokasi geothermal, misalnya Seulawah Agam di Aceh Besar, geothermal Jaboi di Sabang, geothermal Burni Telong di Bener Meriah, dan lainnya. “Kenapa yang berada di kawasan TNGL diizinkan. Meski proyek listrik panas bumi tidak merusak lingkungan, tapi jika di kawasan TNGL sudah ada kegiatan, cepat atau lambat di kawasan itu akan ada muncul kegitan lain yang bisa merusak lingkungan hidup,” tukasnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved