Opini

Menjaga Marwah Ulama

KONTESTASI dan pesta demokrasi kian hari semakin mendekati pemungutan suara dalam menentukan calon pemimpin

Menjaga Marwah Ulama
Twitter/Sekretariat Kabinet
Tgk. H. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) dan puluhan ulama Aceh bersilaturahmi dengan Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta 

Oleh Munawir Umar

KONTESTASI dan pesta demokrasi kian hari semakin mendekati pemungutan suara dalam menentukan calon pemimpin dan wakil rakyat lima tahun mendatang. Para calon pun berusaha mencari simpati dari berbagai elemen masyarakat, tak terkecuali ulama pun mencari sasaran politisasi dan pemuas nafsu para kandidat. Mereka berusaha sekuat tenaga bahkan menghalalkan segala cara demi meraih tujuan dan jabatan tanpa pertimbangan moral dan akal sehat. Memang jabatan begitu menggiurkan, laksana makanan yang siap disantap dengan berbagai menu dan racikan “ala padang dan kuah leumak rasa ayam panggang”. Padahal jabatan adalah amanah Tuhan sebagai titipan dan akan diminta pertanggungjawaban di hari kemudian.

Tulisan ini muncul karena kegelisahan dan tanggung jawab moral sebagai insan yang menjadikan ulama sebagai “wakil Tuhan” di seluruh alam. Memang kontestasi ini perlu dijalankan, tetapi bukan sebuah kewajiban, bahkan sampai kepada tataran menghujat sesama makhluk Tuhan. Kunjungan para ulama ke Istana Kepresidenan sepertinya menjadi sorotan di Aceh, yang notabene menjalankan syariat Islam dalam segala aspek hukum Tuhan. Perlu untuk diperhatikan bahwa ulama adalah penerang bagi setiap relung kehidupan, sedangkan kontestasi pemilihan hanya lima tahun sekali. Lalu mengapa persaudaraan terlalu gampang untuk dikorbankan?

Patut diperjuangkan
Titah ulama patut untuk diperjuangkan sebagai amanah Tuhan, namun bukan menjadi guyonan di kalangan orang awam. Tindakan para ulama terkadang tidak sepenuhnya dipahami oleh kalangan awam, mengingat keterbatasan pengetahuan dan budaya tabayyun yang masih diabaikan. Perlu diperhatikan firman Tuhan, “...katakanlah (hai Muhammad): apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakal sehat yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9).

Ada dua hal penting dalam firman Allah ini yang perlu perhatikan. Pertama, seruan Allah kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengabarkan kelebihan seorang yang berilmu. Kedua, jauh panggang dari api untuk menyamakan diri dengan pemilik pusaka ilmu Tuhan, apalagi menghujatnya tanpa dasar pertimbangan.

Ada kalimat populer di kalangan para ahli ilmu, bahwa “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama. Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka merupakan petaka besar dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta serta mengada-ada merupakan kebiasaan buruk dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu”. Kalimat ini adalah untain berlian Ibnu Asakir ketika membela Abu Hasan Al-Asy’ari sekaligus memberi nasehat kepada umat Islam agar menghormati ulama dan tidak mencela serta mengghibahnya. Akibatnya banyak orang terdahulu binasa karena kecerobohan dan hawa nafsu yang telah meninabobokkan hati dan pikiran mereka.

Persoalan politik adalah persoalan pilihan yang memiliki kriteria idaman menurut kacamata masing-masing yang dijamin oleh konstitusi dan undang-undang. Ada ungkapan bahwa “perbedaan adalah rahmat”. Pemaksaan terhadap orang lain adalah bentuk kriminal besar. Bahkan dalam Islam pun melarang pemaksaan terhadap orang yang “ingkar” untuk memeluk Islam sebagai agama paripurna, terlebih dalam persoalan politik partisan. Politik jangan sampai membelah persatuan, menghilangkan moralitas karena hasutan, menghapus segala tatanan dan norma agama yang telah ditanamkan.

Fenomena semacam ini, sepertinya telah mengakar dalam diri orang Islam di zaman sekarang, dengan penguasaan media sosial tanpa safety dengan akses yang begitu “liar”. Fitnah bertebaran laksana jamur tumbuh dalam jerami yang siap dipanenkan. Hoaks menjadi konsumsi sehari-hari tanpa klarifikasi dan filterisasi yang matang, seakan itu adalah wahyu dari Tuhan yang mutlak kebenaran. Ber-husnuzzan adalah bagian dari anjuran Tuhan melalui lisan Rasul saw dengan menjauhkan ghibah dan mengumpat orang lain, terlebih saudara seagama dan seiman. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhi olehmu akan perasangka buruk, sesungguhnya sebagian prasangka tersebut adalah dosa.” (QS. al-Hujurat: 12).

Begitu pula dalam hadits disebutkan, “Jauhi olehmu akan prasangka buruk, karena prasangka tersebut adalah seburuk-buruk ucapan.” (HR. Muttafaqun `Alaihi). Lebih jauh, dalam hadis lain bahkan menjadi konsekuensi terhadap keimanan bagi siapa saja yang menebarkan kebencian, tanpa ada landasan dan bukti secara terang benderang. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkann perkataan yang baik atau ia diam.” (HR. Bukhari).

Saling membutuhkan
Perlu dibedakan kontestasi politik dan acuan hidup yang menjadi tujuan, sekalipun itu tidak bisa dipisahkan, namun keduanya saling membutuhkan laksana hujan turun menyirami tanaman dan rerumputan. Kedua calon presiden adalah beragama Islam, lalu apalagi yang terus dipertentangkan? Ragam isu disebarkan untuk memuluskan syahwat dan nafsu setan demi tercapainya tujuan. Kesempurnaan adalah milik Tuhan, bukan milik mereka manusia yang penuh dosa dan kotoran. Tapi ulama adalah “pewaris Tuhan”, yang dalam setiap tindakannya selalu menghadirkan nama Tuhan, lalu apa yang harus diragukan?

Menumbuhkan kesadaran dan budi luhur pada setiap pribadi insan merupakan bagian untuk menjaga kedamaian dan kedaulatan. Kedaulatan, kedamaian dan harga diri agama dan bangsa akan lost contact, serta hilang dari peredaran manakala role model tidak lagi dianggap sebagai acuan dalam beragama dan berbangsa. Maka ulama menjadi panutan dalam segala hal, kalau pun berbeda dalam soal pilihan maka tindakan hanif dan bijak perlu diaplikasikan agar terpelihara kerukunan dan kedamaian.

Terlebih ulama adalah pewaris para nabi sampai akhir zaman di mana setiap tindakan mereka sudah terlebih dahulu dipertimbangkan tanpa ada alasan dan kekeliruan. Kalaupun mereka keliru, maka lidah jangan sampai menjalar liar laksana benalu tertancap di pohon-pohon besar yang mengancam keberadaan pohon untuk melakukan perkembangbiakan. Toh mereka pun masih bisa melakukan perbaikan dengan pengetahuan yang telah Allah berikan.

Terakhir perlu disampaikan, bahwa ulama mempunyai peran penting dalam kemerdekaan bangsa ini. Antara ulama dan bangsa bahkan umara sekalipun pada hakikatnya tidak bisa dipisahkan. Perlu sinergisitas untuk membangun energi serta menyuntik vitamin kebaikan dalam setiap lini kehidupan berbangsa. Dulu, di awal kemerdekaan bangsa ini, ulama menjadi garda terdepan mengumandang “resolusi jihad” melawan dan mengusir penjajah Belanda, Jepang dan lainnya. Karena semangat perjuangan merekalah bangsa ini merdeka dan bebas dari para marsose untuk menguasai negeri tercinta ini.

Patut dicatat pula, tanpa sinergisitas ulama dan umara maka tunggulah kehancuran akan datang bertubi-tubi terhadap bangsa ini, baik itu datang dari dalam maupun dari luar. Keduanya perlu saling mengisi ruang-ruang kosong agar tidak menjadi bumerang bagi bangsa ini antara satu sama lain. Keutuhan sebuah bangsa sangat tergantung pada keutuhan persatuan yang dipelihara dan dirawat bersama agar tercipta kedamaian, ketenteraman dan kesejukan. Maka ulama perlu dihormati dan dimuliakan.

* Munawir Umar, Santri dan Mahasiswa Program Magister Pengkajian Islam, Konsentrasi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: munawirumar93@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved