Saluran Irigasi Tertimbun Sampah Banjir

Sekitar 700 meter saluran irigasi tersier dan areal persawahan siap tanam di Gampong Padang Baru

Saluran Irigasi Tertimbun Sampah Banjir
Foto kiriman warga
Pemukinan warga Desa Kuta Bahagia, Blangpidie, Abdya, Senin (11/3/2019) malam, terendam banjir luapan Sungai Krueng Beukah setelah diguyur hujan 

* 56 Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam

BLANGPIDIE - Sekitar 700 meter saluran irigasi tersier dan areal persawahan siap tanam di Gampong Padang Baru, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya (Abdya) tertimbun puing banjir berupa sisa potongan kayu ukuran kecil dan besar serta lumpur ekses luapan Krueng Beukah pada Senin (11/3) malam.

Praktis, kondisi ini membuat pasokan air ke sawah terhenti total, terlebih lagi saluran irigasi di Dusun Binca, Desa Pawoh juga ambruk diterjang banjir. Dampaknya, areal persawahan yang sudah diolah dan siap tanam seluas 56 hektare (ha) yang dikelola sekitar 80 petani terancam tak bisa dimanfaatkan.

Ketua Kelompok Tani (KT) Padang Pisang Klat, Safrizal, bersama Ketua KT Padang Jati, Asmadi, dan Asnawi selaku perwakilan KT Padang Subur yang ditemui Serambi, Rabu (13/2), menjelaskan, dampak banjir luapan Krueng Beukah sangat parah dirasakan pihaknya. Sebab, para petani dari tiga kelompok tersebut terancam gagal turun ke sawah atau terlambat tanam pada MT Gadu 2019, karena saluran irigasi tertimbun dan ambruk sehingga pasokan air terhenti. Imbasnya, lahan yang sudah diolah dan siap tanam mengeras kembali.

“Permukaan sawah mengeras sehingga harus diolah kembali. Benih yang masih dalam persemaian juga habis disapu banjir, termasuk padi yang baru ditanam oleh sejumlah petani,” kata Ketua KT Padang Pisang Klat, Safrizal yang dibenarkan Keujruen Padang Baru, Muntari.

Untuk mengatasi permasalahan ini, ujarnya, petani dari tiga KT tersebut pada Rabu pagi, melaksanakan gotong royong membersihkan puing banjir yang menimbun saluran irigasi dan areal persawahan. Namun, yang mampu diangkat dan dibersihkan hanya sisa kayu ukuran kecil, sedangkan kayu besar seukuran batang kelapa perlu dipotong-potong dulu menjadi ukuran kecil untuk bisa membersihkannya.

“Untuk itu, kami sangat mengharapkan bantuan gergaji mesin (chainsaw) untuk memotong batang kayu ukuran besar yang masih bergelimpangan di lokasi. Kami juga perlu bantuan goni dan terpal untuk memperbaiki tebing beton saluran yang ambruk di sejumlah titik,” timpal Asnawi dari KT Padang Subur. Di sisi lain, Ketua KT Padang Jati, Asmadi meminta, Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya segera memberbaiki saluran tersier yang rusak parah dihantam banjir. “Total panjang saluran 1,7 kilometer, sebagiannya dalam kondisi hancur karena tak pernah diperbaiki. Padahal, permintaan rehab sudah disampaikan sejak 2003, namun hingga 2019 ini, belum ada realisasinya,” tukas Asmadi. “Keadaan ini membuat air yang bisa dipasok dari saluran irigasi itu paling hanya 20 persen saja,” tandas dia.

Efek dari situasi itu, beber mereka, mengakibatkan setiap mulai jadwal turun ke sawah banyak petani berebut air yang tidak jarang berujung terjadinya ketegangan. “Makanya, kami sangat berharap saluran irigasi yang rusak itu segera diperbaiki agar petani tidak lagi bersitegang saat rebutan air,” harap para ketua kelompok tani tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Abdya, Amiruddin menjelaskan, Kabid Kedaruratan BPBD, Wan Fadli bersama beberapa staf pada Rabu (13/3) kemarin, sudah turun ke lokasi untuk melihat dampak banjir luapan Krueng Beukah di areal persawahan Desa Padang Baru, Kecamatan Susoh.

Diakui Amiruddin, dampak di lapangan memang tergolong parah, selain puing banjir berupa sisa potongan kayu banyak menimbun saluran, juga saluran beton irigasi pecah di sejumlah titik. BPBD menjanjikan akan kembali turun ke lokasi pada Kamis (14/3) hari ini, untuk membersihkan sisa potongan kayu yang menutup saluran dan sawah. “Insya Allah, mulai besok (hari ini-red), kami turun ke lokasi untuk membersihkan saluran dari sisa potongan kayu,” janji Amiruddin.

Kegiatan pembersihan puing sisa banjir tersebut, urainya, akan dilakukan anggota BPBD dengan ikut melibatkan petani setempat. Untuk pembersihan potongan kayu itu, bebernya, BPBD akan mengerahkan sejumlah peralatan seperti gergaji mesin (chainsaw), termasuk membawa membawa sejumlah goni pasir untuk penanganan darurat saluran tersier yang ambruk di beberapa titik.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved