Jumat, 17 April 2026

Warga Aceh Luput dari Insiden Christchurch

Ada satu Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP Unsyiah) sedang kuliah S3 di Kota Christchurch

Editor: hasyim
aljazeera.com/Mark Baker/AP
Staf ambulans membawa seorang pria yang terluka dari luar masjid di Christchurch tengah pada hari Jumat 

Ada satu Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP Unsyiah) sedang kuliah S3 di Kota Christchurch, Selandia Baru. Namanya, Dian Fajrina. Dian bersama suaminya selalu shalat Jumat di Masjid Al Noor, Christchurch. Tapi Jumat kemarin Dian tidak datang ke masjid tersebut karena kurang sehat.

“Allah telah mengatur semuanya,” tulis Dian dalam WhatsApp-nya yang dikirim kepada sohibnya di Banda Aceh, Mawardi Hasan MEd. Serambi mendapatkan rekaman pembicaraan itu di Grup WA Beudoh Gampong tadi malam.

“Alhamdulillah, Dian beserta keluarga sehat karena tadi tak jadi ke masjid akibat hujan, mobil di bengkel, dan kesehatan sedang kurang fit. Rencana awalnya kalau mobil sudah baik, seluruh keluarga akan ke masjid. Tapi Allah masih memberi kesempatan untuk meneruskan kehidupan bagi Dian sekeluarga,” tulis Dian Fajrina.

Ia juga berdoa semoga semua yang wafat di dua masjid itu kemarin memperoleh pahala syuhada.

Sangat sedih
Ungkapan duka dan solidaritas warga Selandia Baru untuk muslim di negara itu turut mewarnai suasana pascainsiden penembakan brutal di dua masjid di Kota Christchurch, Jumat (15/3).

Hal itu pula yang dialami warga Aceh lainnya di Selandia Baru, yakni Niklin Jusuf, warga Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara, Pidie, yang menetap di Kota Wellington, Selandia Baru.

Mantan pejuang GAM di luar negeri ini kepada Serambi memastikan tak ada warga Aceh yang ikut shalat Jumat di Masjid Al Noor saat penembakan brutal itu terjadi kemarin siang.

Saat dihubungi Serambi sekitar pukul 18.00 WIB kemarin, Niklin mengaku sangat sedih karena korban yang berjatuhan merupakan warga muslim yang menetap di sana. “Tentu kita sedih, karena banyak saudara seiman yang menjadi korban,” katanya lirih. Apalagi dalam insiden itu ada warga negara Indonesia asal Sumatera Barat yang ikut menjadi korban bersama anaknya.

Niklin mengaku, selama ini, Selandia Baru (New Zealand) termasuk negara kepulauan yang sangat kondusif dan temasuk negara yang toleran.

“Selama ini ya aman-aman saja, tidak kejadian semacam ini. Kita diberi hak (toleransi) dan sangat dijaga,” kata Niklin.

Bahkan, katanya, dia bersama keluarga sama sekali tidak pernah terpikir akan terjadi insiden penembakan tersebut. “Sama sekali kami tidak terbayang akan terjadi peristiwa ini,” ucapnya.

Pascaperistiwa itu, Niklin bersama keluarga juga berkomunikasi dengan warga Aceh lainnya yang kini tersebar di beberapa kota di Selandia Baru.

Setelah peristiwa kemarin siang, para tetangga dan sahabat Niklin ikut bertandang ke rumahnya untuk memberi semangat.

“Mereka datang ke rumah untuk bersama-sama kami, katanya tidak apa-apa, memberi semangat dan ada juga sahabat yang menanyakan keadaan saya dan keluarga via sms,” katanya.

Niklin bersama istri dan tiga anaknya kini menetap di kawasan 29 Naenae RdNaenae, Lower Hutt5011, Selandia Baru.

Niklin mengaku sudah menetap di Selandia Baru sejak 1999. Sedangkan istrinya menyusul tahun 2003 silam.

Ia bekerja di salah satu perusahaan di Kota Wellington, ibu kota Selandia Baru.

Menurut Niklin, saat ini, jumlah warga Aceh di Selandia Baru sekitar 41 orang. Di Wellington tujuh orang, di Palmerston North tiga orang, di Auckland sekitar 25 orang, dan di Invercargill satu keluarga sekitar enam orang.

Niklin sepertinya belum tahu bahwa ada Dosen FKIP Unsyiah, yakni Dian Fajriana sekeluarga yang kini berada di Christchurch, tempat tragedi paling menyayat nurani kemanusiaan itu terjadi.

Plt Gub mengutuk
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT mengutuk penembakan puluhan jamaah yang sedang shalat Jumat di dua masjid Selandia Baru kemarin. “Siapa pun pelakunya harus mempertanggungjawabkan kebiadabannya di dunia dan akhirat,” tulis Nova Iriansyah lewat cuitan di akut twitternya @niriansyah kemarin.

Nova juga menyerukan umat untuk bersatu melawan teroris. “Mari kita bersatu untuk melawan teroris anti-Islam demi kemanuasian dan tegaknya peradabata,” cuit Nova. (dik/dan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved