Bandara SIM Rugi Rp 42 M

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, sepanjang tahun 2018

Bandara SIM Rugi Rp 42 M
IST
YOS SUWAGIYONO, Executive GM PT Angkasa Pura II Bandara Sultan Iskandar Muda

* Dampak Penurunan Jumlah Penumpang

BANDA ACEH - Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, sepanjang tahun 2018 mengalami kerugian sebesar Rp 42 miliar. Faktor yang menyebabkan ruginya bandara kebanggaan masyarakat Aceh itu akibat menurunnya jumlah penumpang yang tiba dan berangkat, sehingga berdampak ke sejumlah airlines yang ikut membatalkan penerbangannya ke Aceh.

Hal tersebut diungkapkan Executive General Manager PT Angkasa Pura II, Bandara SIM, Yos Suwagiyono, kepada wartawan, seusai menyerahkan bantuan dua gedung serbaguna untuk Kecamatan Blangbintang dan Kuta Baro plus dua ruang belajar untuk MTsN Montasik dari PT Angkasa Pura II melalui program bina lingkungan, Kamis (14/3) lalu.

Menurut Yos, dari Rp 48 miliar yang ditargetkan mampu ditekan menjadi Rp 42 miliar. Jumlah itu lebih besar dibandingkan tahun 2017, di mana kerugian yang dialami Bandara SIM Rp 38 miliar, dari yang ditargetkan Rp 44 miliar.

“Kalau 2017 lalu dari yang ditargetkan Rp 44 miliar, kita mampu tekan Rp 38 miliar. Lalu, tahun 2018, dari yang ditargetkan Rp 48 miliar, bisa kita tekan menurun menjadi Rp 42 miliar,” ungkap Yos.

Dikatakan Executive GM PT Angkasa Pura II Bandara SIM ini, turunnya penumpang yang drastis selama ini berdampak langsung pada pendapatan yang diperoleh Bandara SIm, di tambah kondisi itu diperparah oleh inflasi serta UMP yang naik. “Bandara itu lebih kepada servis. Kalau traffic (lalu lintas) penerbangan itu sedikit, tentu sangat berdampak pada servis-servis yang diberikan bandara. Lalu di satu sisi kita juga harus memahami manajemen airline, karena cost setiap operasional yang mereka keluarkan itu juga tidak sedikit,” pungkas Yos Suwagiyono.

Executive GM PT Angkasa Pura II Bandara SIM, Yos Suwagiyono juga mengungkapkan, pihaknya fokus mempromosikan Aceh ke semua PT Angkasa Pura dan meminta airlines memperkenalkan Aceh ke luar. “Dari sisi alamnya, Aceh sangat indah. Lalu kulinernya yang enak serta begitu banyak tempat yang menarik di Aceh, sehingga orang mau datang ke Aceh, bukan karena bandaranya. Tapi, karena alam Aceh memang sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut dia, untuk memperkenalkan Aceh ke luar serta menunjukkan Aceh telah aman, perlu ada gerakan bersama dan saling memberi dukungan. Yos mengaku sangat sayang dengan Aceh, meski dirinya bukan asli putra tanah rencong ini. “Aceh ini sangat berpotensi, kalau kita saling mendukung berkoordinasi, sehingga yang kami lakukan saat ini berkoordinasi selalu dengan Pemkab Aceh Besar dan Provinsi, bagaimana agar kita bisa memasarkan Aceh,” sebutnya.

Aceh yang begitu aman, diharapkan dapat terus dipasarkan di Aceh. Tentu hal itu lanjut Yos akan berdampak bangkitnya perekonomian masyarakat, lokasi wisata alam Aceh yang indah-indah akan segera dikenal, mungkin salah satu formulanya, harus sering dibuat even dan berbagai kegiatan yang dapat memperkenalkan Aceh. “Hal itu yang selalu kita inginkan kerja sama, untuk tujuan Aceh ini semakin lebih baik dan dikenal. Bayangkan saja jam 3 pagi kita masih bisa ngopi dan itu menunjukkan Aceh ini sangat-sangat aman,” demikian Yos.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved