Breaking News:

Melirik Krueng Daroy yang Kian Berseri

KRUENG Daroy tampak berseri. Pemandangan kali yang dulunya kumuh, kini berganti rupa

Editor: bakri

KRUENG Daroy tampak berseri. Pemandangan kali yang dulunya kumuh, kini berganti rupa. Jika berkunjung kemari, Anda tak akan lagi menjumpai perumahan kumuh yang ‘memagari’ bantaran kali. Kawasan tersebut telah disulap menjadi pedestrian yang tak hanya nyaman dilalui, tapi juga enak dipandang.

Bantaran kali tersebut membelah kawasan pedestrian menjadi dua jalur. Dihubungkan oleh jembatan-jembatan kayu di tengahnya. Di salah satu sisi, deretan rumah warga sambung menyambung ‘membingkai’ kali. Jika dulunya kawasan permukiman ini terlihat kusam, maka kini polesan cat di dinding membuat penampakannya berseri. Lukisan mural dan seni instalasi karya mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI), Jantho menyulap wajah Krueng Daroy. Ditambah deretan rak berisi pot-pot bunga hidup kreasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuha), Banda Aceh. Merekah memamerkan keindahannya.

Semarak mural yang menghiasi dinding rumah-rumah warga, mencuri perhatian pengunjung. Lukisan buah karya para mahasiswa tersebut, bertutur tentang kepedulian lingkungan, sejarah dan tokoh-tokoh pahlawan, hingga kuliner khas Aceh. Dilengkapi seni instalasi yang ikonik, berupa sepeda ontel berlatar mural anak muda dengan gaya khas zaman now. Di sisi dinding lain, para pria paruh baya dalam balutan baju adat terlihat tengah mengaduk kuali besi berisi kuah beulangong. Menjadi spot foto ‘wajib’ jika anda berkunjung kemari.

“Kalau dulu rasanya berjalan dari gang hingga ke ujung lama sekali sampai, tapi sekarang rasanya lebih dekat saja,” terang Nur, warga setempat.

‘Taman Krueng Daroy’, demikian nama yang disematkan pada pedestrian sepanjang 1.800 meter tersebut. Sebuah gapura berwarna tanah dipenuhi ukiran, menyambut pengunjung di salah satu jalur masuk. Dua sisi pedestrian yang mengapit bantaran sungai itu, dihubungkan oleh tiga jembatan berkonstruksi kayu yang dibangun di tengahnya. Dilengkapi taman dengan landmark berdiri gagah berlatar Gunongan. Dipercantik batu-batu khas taman urban, dari pintu gerbang hingga sepanjang jalur yang diperuntukkan bagi pejalan kaki tersebut.

Jalur pedestrian itu, membentang mulai Jembatan Putroe Phang hingga Jembatan Seulawah. Sepanjang pedestrian, sejumlah bangku taman menunggu pengunjung untuk rehat. Semilir angin menciptakan riak di permukaan air. Pepohonan yang ‘memagari’ bantaran sungai, mengembuskan kesejukan sekaligus melindungi pejalan kaki dari sengatan matahari langsung. Sinarnya jatuh membayang di permukaan kanal buatan yang ‘membelah’ dua gampong di Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh itu. Refleksi peninggalan kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang kini tengah bersolek.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman (Perkim) Kota Banda Aceh, Ir Jalaluddin MT menyebutkan, pembangunan tahap 1 telah dimulai sejak 2018. Dengan menelan dana Rp 14,1 miliar yang bersumber dari APBN Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembangunan meliputi rabat beton, jembatan kayu, bangku, dan taman. Proyek besutan Kementerian PURR tersebut, mengusung program ‘Kotaku: Kota tanpa Kumuh. Diresmikan langsung oleh Menteri PURR, Basuki Hadimuljono, Senin (11/3).

Tak hanya membuat betah warga setempat, keelokannya juga membuat pengunjung mengalir ke tempat ini. Seperti pemandangan yang terlihat saat Serambi menyambangi Taman Krueng Daroy, Banda Aceh, Jumat (15/3). Sejumlah pedagang jajanan mulai meramaikan tempat ini, Bangku-bangku taman dengan rumput hijaunya tertata apik. Sementara warga setempat memilih bersantai di muka rumah atau di sisi bangunan menyerupai balkon di muka kali, para pengunjung memilih leyeh-leyeh di rumput taman. Krueng Daroy adalah potret revitalisasi pemukiman kumuh menjadi pemukiman layak huni yang mendulang sukses.(nurul hayati)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved