Citizen Reporter

Tur Religius ke Gua Hira

SIAPA yang tak kenal Mekkah? Kota paling tua yang terdapat di bumi dan merupakan pusat bumi

Tur Religius ke Gua Hira
IST
EFFIYANTI

OLEH EFFIYANTI, traveler sekaligus jamaah umrah dari Banda Aceh, kandidat doktor ilmu manajemen pada Program Pascasarjana Unsyiah, melaporkan dari Mekkah, Arab Saudi

SIAPA yang tak kenal Mekkah? Kota paling tua yang terdapat di bumi dan merupakan pusat bumi. Kota Mekkah sering disebut pula dengan Bakkah atau Makkah, kota suci selain Madinah. Keduanya dijaga oleh Raja Arab Saudi, saat ini Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud yang disebut penjaga dua kota suci. Mekkah adalah kota religius yang selalu dirindukan untuk didatangi kembali.

Atas izin Allah Swt serta hadiah untuk melakukan umrah dan tur religius dari seorang sahabat, saya mengikuti ritual ibadah umrah bersama keluarga dan rombongan lainnya selama hampir dua pekan di Arab Saudi. Sepanjang penglihatan mata di Kota Mekkah hanya terhampar gunung dan bukit batu serta terdapat beberapa pepohonan yang menghijau karena di bawahnya dipasang pipa air yang terus-menerus menyirami pepohonan agar tetap hidup dan menghijau. Nama pohon tersebut adalah mindi (Melia azedarach) dan mimba (Azadirachta indica). “Labbaika Allaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika“… pengeras suara dari dalam bus yang kami tumpangi terus-menerus melantunkan talbiyah oleh muthawif (pembimbing ibadah) Dr Tgk Sulfanwandi dari Tungkop, Aceh Besar. Merdu dan syahdu lantunannya. “ Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.”

Banyak tempat tur religius yang setiap waktu padat dikunjungi jamaah selama berada di Mekkah. Yang terutama banyak pengunjungnya sudah pasti Kakbah, merupakan Baitullah, beserta area Safa dan Marwah, serta air zamzam.

Di luar lokasi Masjidil Haram terdapat Gunung Tsur yang terkenal dengan Gua Tsur di puncaknya, tempat persembunyian Nabi Muhammad saw beserta sahabat Abubakar alaihi salam dari kejaran musuh kaum Quraisy di Kota Mekkah yang terjadi pada 26 Safar tahun 1 Hijriah (9 September 622 M). Pada arah selatan dari Padang Arafah terdapat Jabal Rahmah yang menjadi tempat pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa.

Satu hal yang jarang dilakukan jamaah adalah mendaki gunung yang berbatu cadas dan gersang seperti Gunung (Jabal) Tsur dan Jabal Nur. Saya telah merencanakan sebelum berangkat ke Tanah Suci akan melakukan pendakian ke Gua Hira di Jabbal Nur. Keinginan tersebut adalah sebagai tapak tilas perjalanan Rasullullah yang selama hampir lima tahun berkontemplasi di tempat yang tenang pada sebuah gua yang kecil dengan akses yang cukup sulit menuju ke sana.

Saat itu Rasululllah berusia sekitar 35 tahun, dimusuhi oleh kaumnya sendiri, kaum Quraisy yang belum dapat menerima perintah Tuhan agar tidak menyembah berhala. Di tempat yang sepi dari hiruk pikuk Kota Mekkah, Rasulullah terus memohon petunjuk Tuhan yang dilakukan hampir lima tahun lamanya, sehingga pada suatu malam turun malaikat Jibril di atas bebatuan di balik Gua Hira di puncak Jabal Nur.

Tempat turunnya Jibril serta kondisi Gua Hira masih dalam keadaan baik. Jamaah cukup ramai secara terus-menerus menuju tempat bersejarah tersebut. Atas izin Allah swt dan ditemani keluarga serta seorang pemandu jalan bernama Ustaz Zulkifli yang berasal dari Madura, kami menaiki gunung batu yang bagian pendakiannya telah terpahat menjadi anak tangga, sementara kemiringan lereng gunung ada yang mencapai 60 derajat dengan temperatur Kota Mekkah di sekitar 29-30 derajat Celsius saat kami berumrah.

Beberapa kali kami beristirahat bahkan sempat tertidur sejenak di sebuah tenda tua pada lereng bukit. Pendakian yang kami pilih adalah pagi hari agar mata puas memandang segalanya. Beberapa peziarah memilih pendakian sore hari untuk menghindari teriknya matahari. Saat itu kami hampir tidak pernah berpapasan dengan jamaah dari Indonesia, kecuali sekali bertemu jamaah dari Lombok yang lebih dulu turun dari puncak gunung. Sempat terpikir mungkin jamaah dari Tanah Air lainnya lebih senang mendaki pada sore atau malam hari.

Setelah tiba di puncak Jabal Nur, perlu sedikit waktu lagi untuk turun ke bawah seberang gunung, sekitar dua meter untuk menjangkau gua, dan harus berjuang untuk menuju gua, yakni melewati celah batu sempit. Akhirnya, kami tiba di pintu gua yang padat jamaah, kebanyakan dari India, Banglades, dan Turki. Sebagian mereka shalat di dalam gua yang sebenarnya tidak ada tuntunan untuk melakukan shalat di tempat itu.

Di atas pintu gua terdapat kaligrafi ayat-ayat Quran, sebagian dari Surah Al-Alaq. Di bagian belakang gua terdapat bidang batu datar tempat malaikat Jibril turun untuk menjumpai Muhammad saw di dalam Gua Hira untuk menurunkan wahyu pertama yang diyakini saat itu adalah pada salah satu malam di bulan suci Ramadhan 610 M. Turunnya wahyu pertama ini sekaligus menjadi momentum penting diangkatnya Muhammad menjadi rasul dan usia beliau saat itu genap 40 tahun.

Waktu yang kami perlukan untuk mencapai Gua Hira adalah dua jam lebih. Setelah duduk sejenak pada bidang datar yang menjadi pertapakan turunnya malaikat Jibril, sambil memandang ke arah Kota Mekkah, yakni ke menara jam di Masjidil Haram. Kami bersiap untuk turun karena hampir masuk jadwal shalat zuhur. Tapak tilas menyisakan kegundahan hati betapa beratnya medan yang dilalui dengan ketinggian gunung batu hampir 642 meter dari permukaan laut yang dilalui Rasulullah serta Khadijah istri beliau dalam menegakkan agama terakhir ini. Selanjutnya adalah turun ke kaki gunung, meski lebih mudah dibandingkan saat pendakian, tapi tetap perlu kehati-hatian agar tidak terjatuh. Apabila menggunakan tongkat akan lebih mudah untuk naik dan turun dari gunung cahaya atau Jabal Nur ini. Kami juga melihat beberapa pedagang menjual tongkat untuk membantu pendakian ini di kaki Jabal Nur. Di antara jamaah pun saling berbagi air mineral serta tongkat untuk mempermudah pendakian.

Uniknya, sepanjang tapak tilas ini tidak terdapat fasilitas dari pemerintah setempat seperti toilet dan lain-lain pada jalur yang dilalui. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada anjuran untuk berkunjung ke tempat turunnya wahyu tersebut, karena ini bukan bagian dari ibadah. Akan tetapi, jamaah yang menuju Gua Hira tidak pernah sepi, baik siang maupun malam, bahkan jamaah yang sudah mulai renta pun pantang surut meskipun medan pendakian sangat berat dan melelahkan. Melihat langsung tempat yang memiliki histori yang mahapenting dalam sejarah perkembangan agama Islam adalah seperti bermimpi. Penulis serasa ikut terbawa suasana malam Nuzulul Quran. Alif laam miim, Telah datang kepadamu kitab yang suci, peringatan dari Allah bagi manusia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved