Opini

Hukum Mati Teroris Selandia Baru!

PERTAMA kita harus apresiasi kinerja kepolisian Selandia Baru, yang berhasil meringkus teroris dalam tempo 24 jam

Hukum Mati Teroris Selandia Baru!
ISTIMEWA Via Warta Kota
Brenton Tarrant (28), pria asal Australia yang disebut sebagai pelaku penembakan brutal di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019). 

Oleh Amiruddin

PERTAMA kita harus apresiasi kinerja kepolisian Selandia Baru, yang berhasil meringkus teroris dalam tempo 24 jam. Sebuah gerakan cepat menindak secara tepat. Terlepas dari pertanda bahwa mereka anti terorisme, atau sekadar penghibur hati umat Islam yang sedang sedih melihat saudara seiman dibantai. Setidaknya langkah awal menindaklanjuti kasus tersebut telah dilakukan dengan menangkap otak pelakunya.

Sehari berselang pasca-aksi terorisme yang terjadi di dua tempat, Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, di Chirtchurch, Selandia Baru, pihak penegak hukum berhasil menyeret Brenton Harrison Tarrant, teroris ke pengadilan. Disebut-sebut ia bakal menjalani hukuman seumur hidup. Untuk sementara, Tarrant didakwa sebagai tersangka pembunuhan atas meninggalnya 49 muslim, dan melukai 48 orang. Total mencapai 97 orang.

Hukuman mati
Rasanya, untuk tindak pidana terorisme yang dilakukaan Tarrant tidak cocok ditetapkan hukuman seumur hidup. Karena Tarrant telah menghabiskan nyawa 49 orang muslim. Sejatinya, ia diberikan hukuman mati. Itu pun belum sebanding dengan jumlah nyawa yang ia bunuh secara brutal dan membabi buta, terlebih di tempat yang sangat disucikan oleh umat Islam.

Tarrant bukan hanya melanggar konstitusi Selandia Baru, tetapi menunjukkan rasa tidak suka pada muslim. Tindakan yang dilakukannya telah merongrong sisi kemanusiaan, yang seyogyanya harus saling menjaga dalam menunaikan hak-hak dasar seperti ibadah. Siaran langsung yang dilakukan Tarrant juga terindikasi delik pidana. Sebab telah membuat masyarakat internasional resah (ketakutan). Dalam konstitusi negara mana pun, wajib menjunjung tinggi perdamaian dunia, tidak membuat kegaduhan dan pembantaian. Sebaliknya, ikut serta dalam upaya kemakmuran dunia.

Mengharapkan Tarrant dihukum mati oleh pengadilan di Selandia Baru suatu keniscayaan. Masyarakat internasional tentu menitip harapan besar pada negara moniritas muslim itu untuk memberikan hukuman setimpal pada teroris.

Selandia Baru bisa saja meniadakan hukuman mati bagi Tarrant, sebab delik yang diajukan saat ini sebagai tindakan pembunuhan, bukan tindak pidana terorisme. Kita tahu bahwa kasus-kasus pembunuhan di Indonesia belum ada yang memvonis hukuman mati. Misalnya, Aceh yang telah lama menerapkan syariat Islam, tidak bisa menghukum mati pelaku pembunuhan. Padahal sudah maklum diketahui publik, setiap nyawa harus dibalas dengan nyawa.

Warga Indonesia, khususnya Aceh bisa saja meneriakkan teroris yang merenggut 49 nyawa wajib dihukum mati, dengan dalih dalam ajaran Islam nyawa dibayar nyawa. Tetapi kita di Aceh belum bersuara secara maksimal untuk memberlakukan hukum qishas di bumi Serambi Mekah.

Jadi bukan perkara mudah jika muslim Aceh serak suara demi menuntut hukuman mati/gantung terhadap pelaku teroris di Selandia Baru. Toh jika aksi terorisme terjadi di Aceh, dan merenggut satu nyawa saja, belum tentu hukum positif di Aceh dan Indonesia bisa menghukum mati pelakunya. Melainkan akan dicari hukuman ringan selain hukum mati.

Lihat saja kasus pembunuhan di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh. Seorang anak buah membunuh keluarga toke tempatnya bekerja. Apakah kita tahu, pelakunya dituntut pidana penjara, bukan hukuman mati? Kenapa? Karena Aceh yang dikenal bersyariat saja belum berhasil menerapkan qishas, apalagi hendak mengharapkan Selandia Baru supaya memutilasi dan menghabisi nyawa si Tarrant. Berat rasanya!

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved