GeRAK Sorot Gedung Serbaguna

Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat menyoroti pembangunan gedung Serbaguna Nagan Raya di Kompleks

GeRAK Sorot Gedung Serbaguna
SERAMBI/SA'DUL BAHRI
KONDISI gedung Sebaguna Nagan Raya di Kompleks Perkantoran Suka Makmue yang terbengkalai dan mulai rusak. Foto direkam Rabu (20/3). 

* Telan Anggaran Rp 6,7 Miliar

SUKA MAKMUE – Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat menyoroti pembangunan gedung Serbaguna Nagan Raya di Kompleks Perkantoran Suka Makmue yang kini terbengkalai karena tuntas pengerjaannya. Pembangunan gedung tersebut sudah menghabiskan anggaran Rp 6,7 miliar.

Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syah Putra kepada Serambi, Rabu (20/3), mengatakan, pihaknya yang telah memantau langsung ke lokasi mendapatkan fakta kalau kondisi bangunannya sangat terbengkalai dan tidak terawat. Bahkan, bebernya, kaca jendela bangunan itu sudah hancur, ditambah dindingny yang retak.

“Ironisnya, saat ini gedung serbaguna itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai tempat pesta sabu-sabu, dengan bukti ditemukannya alat pengisap barang haram itu di dalam gedung,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dari data yang didapatkan, diketahui pembangunan gedung tersebut bersumber dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) dan otonomi khusus (otsus) selama tiga tahun berturut-turut, mulai tahun 2015, 2016, dan 2017.

“Tercatat alokasi anggaran yang telah digunakan untuk pembangunan gedung tersebut mencapai Rp 6,7 miliar,” sebut Edy. “Rinciannya, pada tahun 2015 sebesar Rp 2,85 miliar dan tahun 2016 Rp 1,95 miliar, keduanya bersumber dari APBK. Kemudian, dialokasikan dari dana otsus tahun 2017 senilai Rp 1,93 miliar,” imbuhnya.

Terkait apakah pembangunan gedung serbaguna tersebut terindikasi korupsi, menurut Edy, pihaknya masih menelusuri data-datanya. Hanya saja, tukas dia, pihaknya sangat menyayangkan gedung bernilai miliaran rupiah itu dibiarkan telantar begitu saja sehingga perlahan-lahan mulai rusak. “Tidak sepatutnya, pemerintah membiarkan bangunan tersebut begitu saja. Semestinya, aset daerah ini kembali dilanjutkan pembangunannya dan difungsikan agar uang negara tidak sia-sia,” harapnya.

Untuk mengetahui apakah ada indikasi pelanggaran hukum dalam proyek bernilai Rp 6,7 miliar tersebut, Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syah Putra GeRAK mendorong pihak berwenang untuk melakukan audit terhadap pembangunan gedung serbaguna itu. Sebab, paparnya, fakta di lapangan ditemukan ada sebagian dinding yang telah retak, belum lagi kaca jendela di sekeliling gedung tersebut yang juga sudah hancur semua. Audit ini, ucapnya, untuk memastikan apakah bangunan tersebut sesuai dengan spesifikasi atau tidak, supaya tidak menimbulkan asumsi yang negatif dari publik.(c45)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved