Puluhan Warga Datangi Mapolres

Puluhan warga Desa Meunasah Mee, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Selasa (19/3) sore mendatangi Mapolres

Puluhan Warga Datangi Mapolres
ARI LASTA IRAWAN, Kapolres Lhokseumawe

* Laporkan Dugaan Dana BUMG

LHOKSEUMAWE – Puluhan warga Desa Meunasah Mee, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Selasa (19/3) sore mendatangi Mapolres Lhokseumawe untuk melaporkan dugaan penggelapan dana Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) desa setempat tahun 2017, dan 2018 Rp 215,5 juta oleh Keuchik Saifuddin. Hal itu dilakukan warga karena batas waktu pembayaran dana itu sudah melewati dari yang dijanjikan keuchik.

Bersama warga hadir juga ke Mapolres Lhokseumawe kepala dusun, kepala urusan (kaur), dan juga ketua tuha peut bersama anggotanya. Awalnya warga mendatangi Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) untuk melaporkan dugaan penggelapan dana BUMG tersebut. Lalu beberapa warga diarahkan petugas ke Satuan Reskrim.

Dalam surat laporan yang ditujukan kepada Kapolres Lhokseumawe disebutkan, persoalan ini sebelumnya sudah pernah dimusyawarah di meunasah desa setempat. Lalu di Kantor Camat Meurah Mulia dan di Mapolsek Meurah Mulia. Hanya saja, masalah itu tak kunjung selesai. Dalam surat tersebut, warga juga berharap kepada Kapolres Lhokseumawe untuk menindaklanjuti proses kasus yang dilaporkan. “Karena, selain dana BUMG tahun 2017 dan 2018 yang dihabiskan keuchik (digelapkan), juga termasuk dana pembangunan MCK dan dana pemasangan tiang listrik,” tulis dalam surat yang diteken tuha peut M Gade. Warga juga menyerahkan kwitansi bermaterai 6.000 yang diteken Keuchik SFD pada 16 Februari 2019.

Dalam kwitansi itu menyebutkan, pembayaran dana untuk BUMG 2017 dan 2018 Rp 215, 5 juta, jatuh tempo pembayaran pada 10 Maret 2019. Bila tidak dibayar, maka akan berurusan dengan pihak hukum. “Sampai kemarin, dana itu belum diserahkan ke BUMG. Karena itu, kami aparat desa bersama warga dan tuha peut melaporkan kasus ini ke polisi,” ujar Kepala Dusun, Maimun kepada Serambi, Rabu (20/3).

Dana itu awalnya akan digunakan untuk sewa sawah guna diserahkan kepada warga untuk menambah pendapat desa dari hasil sewa. “Tapi, ketika kami pertanyakan, keuchik selalu beralasan. Bahkan sebelum kami melaporkan kasus itu, dana tersebut belum juga diserahkan. Kasus ini tidak akan selesai jika tidak ditangani penegak hukum,” kata Maimun.

Sementara Bendahara BUMG Meunasah Mee, Zulfikar kepada Serambi menyebutkan, sebelum mendatangi Mapolres Lhokseumawe sudah mengeprint buku tersebut, tapi dana tersebut belum masuk satu rupiah pun. “Dulu dana untuk BUMG pada 2016 Rp 53,5 juta juga sempat bermasalah. Tapi akhirnya sisanya selesai dengan cara mengambil sound speaker,” kata Zulfikar.

Keuchik Meunasah Mee, Saifuddin yang dihubungi tidak berhasil dihubungi karena handphone tidak aktif lagi. Serambi juga berusaha menghubungi Saifuddin melalui panggilan WhatssAp (WA). Meskipun panggilan WhatssAp berdering (terhubung) tapi tidak diangkat. Bahkan, ketika dihubungi kembali sudah tidak aktif lagi.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim AKP Indra Trinugraha Herlambang SH kepada Serambi kemarin menyebutkan, setelah mengecek laporan yang disampaikan pada Selasa (19/3), penyidik akan mempelajari terlebih dahulu. “Laporan warga masih kami teliti,” tulis Kasat Reskrim melalui pesan singkat.

Sementara Camat Meurah Mulia, M Jamil Rasyid kepada Serambi menyebutkan, dirinya sudah pernah melayangkan surat panggilan kepada Keuchik Meunasah Me, Saifuddin setelah mendapat laporan warga untuk klarifikasi. “Tapi sampai sekarang dia belum hadir, ketika kami hubungi ke handphone tidak diangkat, sehingga kami tidak tahu cara menyelesaikannnya, karena dia tak bersedia hadir,” jelas M Jamil.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved