Warga Hadang Truk Batu Bara

Puluhan warga yang didominasi para ibu-ibu di Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir

Warga Hadang Truk Batu Bara
SERAMBI/SA'DUL BAHRI
SEORANG ibu memperlihatkan foto rontgen salah satu warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya yang terkena penyakit paru-paru diduga dampak dari debu batu bara, saat aksi penghadangan truk pengangkut batu bara di Jalan Nasional Meulaboh-Tapaktuan, kawasan Suak Puntong, Kamis (21/3). 

* Tak Tahan Diselimuti Debu Setiap Hari

SUKA MAKMUE – Puluhan warga yang didominasi para ibu-ibu di Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Kamis (21/3), menghadang truk pengangkut batu bara yang menuju ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kawasan tersebut. Namun begitu, tak ada satu pun truk yang dihentikan warga lantaran mobil milik PT BEL tersebut tidak melakukan aktivitas pengangkutan batu bara sejak pagi hingga pukul 15.00 WIB.

Meski demikian, para warga tetap terlihat siaga menunggu truk pengangkut batu bara itu melintas di Jalan Nasional Meulaboh-Tapaktuan, tepatnya kawasan Desa Suak Puntong. Aksi warga itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pihak perusahaan terkait pencemaran debu batu bara dan persoalan ganti rugi tanah serta rumah warga yang berada di sekitar PLTU dan PT Mifa Bersaudara.

“Kami sebagai ibu rumah tangga sangat mengeluhkan debu batu bara. Sebab, dalam sehari minimal hingga 3 kali kami harus menyapu lantai akibat diselimuti debu batu bara. Sedangkan kepedulian perusahaan kepada kami tak ada selama ini,” kata Darna, salah satu warga yang terlibat dalam aksi penghadangan truk pengangkut batu bara kepada Serambi, Kamis (21/3), didampingi puluhan ibu-ibu lainnya.

Warga lainnya, T Fakruddin yang ditemui Serambi di lokasi penghadangan, siang kemarin, menegaskan, pihaknya akan terus melakukan aksi tersebut agar tanah dan rumah mereka bisa segera diganti rugi oleh pihak perusahaan. Pasalnya, ujar dia, kondisi Dusun Geulanggang Meurak yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini tidak layak lagi untuk dihuni karena sudah sangat parah terdampak pencemaran debu batu bara dari PLTU dan PT Mifa Bersaudara.

“Jika perusahaan dan pemerintah tidak menampung aspirasi kami terkait ganti rumah dan tanah tempat kami berdomisili saat ini, maka kami tetap terus berjuang dengan cara-cara kami,” tegas T Fakruddin.

Pantauan Serambi di lokasi, aksi penghadangan truk pengangkut batu bara oleh puluhan warga Dusun Meurak, Desa Suak Puntong hanya berlangsung setengah hari. Pasalnya, sekitar pukul 14.00 WIB, massa yang didominasi para ibu-ibu itu membubarkan diri dengan tertib lantaran truk pengangkut batu bara tak satu pun melintas di jalan nasional tersebut.

Pengakuan sejumlah warga, mereka akan terus melakukan aksi penghadangan terhadap truk pengangkut batu bara ke PLTU itu sebelum ada kejelasan masalah ganti rugi tanah dan rumah mereka. Tuntutan ganti rugi tanah dan rumah tersebut lantaran rumah mereka tidak lagi layak huni karena setiap hari diselimuti debu batu bara yang masuk hingga ke tempat tidur.(c45)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved