Breaking News:

4.101 Ha Kebun Kopi Rusak

Sekitar 4.104 hektare kebun kopi jenis robusta milik petani dalam 12 kecamatan di Kabupaten Pidie mengalami kerusakan

Editor: hasyim
Warga mengamati sisa bongkahan batu giok yang telah diambil di salah satu kawasan kebun kopi di daerah Pantan Reduk, Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Kini, pencarian batu giok telah merambah ke kebun-kebun kopi. Foto direkam, Nopember 2014. SERAMBI/MAHYADI 

* Tersebar Dalam 12 Kecamatan di Kabupaten Pidie

SIGLI - Sekitar 4.104 hektare kebun kopi jenis robusta milik petani dalam 12 kecamatan di Kabupaten Pidie mengalami kerusakan. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Tangse seluas 2.166 hektare, akibat gangguan hewan liar, khususnya kawanan gajah.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Ir Syarkawi MSi, didampingi Kabid Tanaman Perkebunan, Saiful Bahri SP, Kamis (21/3) menjelaskan, sesuai data 2018, luas kebun kopi robusta di Pidie mencapai 10.287 hektare, tersebar di 12 kecamatan. Luas areal tanaman kopi yang paling banyak rusak di Kecamatan Tangse 2.166 hektare, Geumpang 994 hektare dan 745 hektare.

Berikutnya, Mila 80 hektare, Tiro Truseb 27 hektare, Padang Tiji 20 hektare, Titeu 19 hektare, Glumpang Tiga 13 hektare, Keumala 11 hektare, Sakti 9 hektare, Mutiara Timur 4 hektare dan Delima 2 hektare.

Dia menyebutkan, penyebab tanaman kopi rusak karena kurang perawatan petaniatau umur tanaman telah tua, diserang hama dan juga gangguan gajah liar. Dia mengatakan dampak kerusakan tersebut telah ikut mempengaruhi produksi kopi di setiap kecamatan.

Menurutnya, saat ini pihaknya terus melakukan peremajaan kopi robusta dengan luas areal tidak sebanding dengan kerusakan tanaman komoditi tersebut, akibat terbatas anggaran. “Pada tahun ini, kami akan melakukan peremajaan tanaman kopi robusta di Tangse dengan luas area puluhan hektare bersumber dari APBK Pidie Rp 154 juta,” ujarnya.

Dia menyatakan peremajaan tanaman kopi di Tangse akan dimulai pada Oktober 2019 atau awal musim hujan. Dia menambahkan pihaknya juga akan membantu tanaman kopi arabika di Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse untuk area 28 hektare, dengan anggaran dari APBK 2019 sebesar Rp 171 juta.

“Kita memilih Blang Pandak untuk tanaman kopi arabika, karena kawasan itu terletak di dataran tinggi, sehingga cocok untuk tanaman tersebut,” ujarnya. Dia mengatakan Tangse merupakan kawasan dataran tinggi, tapi tidak seluruhnya cocok untuk kopi arabika. Dia beralasan, kopi arabika yang ditanam bukan di kawasan dataran tinggi akan mudah terserang hama penyakit karat daun.

Sedangkan Ketua KADIN Pidie, Teuku Saifullah TS, kemarin mengatakan Dinas Pertanian dan Pangan Pidie harus memaksimalkan kembali produksi kopi robusta di Tangse, Mane dan Geumpang. Dikatakan, petani harus diberikan motivasi supaya hasil produksi bisa meningkat setiap tahun, sebab kopi robusta paling digemari oleh pecinta kopi.

“Kerusakan tanaman kopi tersebut harus cepat ditanggulangi dengan peremajaan tanaman dan jangan dibiarkan kebun produktif di tiga kecamatan tersebut tidak berpenghasilan. Apalagi Tangse, harus dikembalikan daerah penghasil kopi,” demikian T Saifullah.(naz)

kebun kopi yang rusak di pidie
* Tangse 2.166 hektare
* Geumpang 994 hektare
* Mila 80 hektare
* Tiro Truseb 27 hektare
* Padang Tiji 20 hektare
* Titeu 19 hektare
* Glumpang Tiga 13 hektare
* Keumala 11 hektare,
* Sakti 9 hektare
* Mutiara Timur 4 hektare
* Delima 2 hektare
* Jumlah petani 6.187 orang

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved