Perusahaan Tunggu Rekom Tim 19

Aksi penghadangan warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya terhadap

Perusahaan Tunggu Rekom Tim 19
SERAMBI/SA'DUL BAHRI
SEORANG ibu memperlihatkan foto rontgen salah satu warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya yang terkena penyakit paru-paru diduga dampak dari debu batu bara, saat aksi penghadangan truk pengangkut batu bara di Jalan Nasional Meulaboh-Tapaktuan, kawasan Suak Puntong, Kamis (21/3). 

* Terkait Tuntutan Ganti Rugi Warga Korban Debu Batu Bara

SUKA MAKMUE – Aksi penghadangan warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya terhadap truk pengangkut batu bara pada Kamis (21/3) kemarin, untuk menuntut ganti rugi rumah dan tanah mereka yang tak layak tinggal lagi karena terdampak debu batu bara mendapat atensi dari pihak perusahaan, yakni PT Bara Energi Lestari (BEL) dan PT Mifa Bersaudara. Kedua perusahaan pemilik truk pengangkut batu bara itu menyatakan, mereka kini sedang menunggu hasil rekomendasi dari Tim 19 Pemkab Nagan Raya.

“Menyangkut dengan adanya pemblokiran jalan pengangkutan batu bara pada Kamis (21/3), telah diadakan pertemuan di Kantor Bappeda Nagan Raya. Salah satu keputusannya, bahwa PT Mifa dan PT BEL akan dipanggil oleh Pemkab Nagan Raya pada 25 Maret ini terkait ganti rugi tersebut,” kata Kepala Teknik Pertambangan PT BEL, Rahmat Zahri kepada Serambi, Jumat (22/3).

Rahmat melanjutkan, pada pertemuan itu juga diterangkan bahwa Tim 19 Pemkab Nagan Raya akan menemui manajer PLTU Nagan terkait pembebasan lahan. “Kita dari PT BEL dan PT Mifa akan komit dengan kesimpulan dan rekomendasi dari Tim 19 nantinya,” tukasnya.

Menurut Rahmat, jika kawasan Geulanggang Meurak nantinya dinyatakan tidak layak huni lagu dan harus dibebaskan, maka pihak perusahaan siap melakukan pembebasan tanah di dusun tersebut. “Tapi dengan syarat profesional, yaitu di daerah tersebut ada PLTU dan PT Mifa Bersaudara, dan kalau pun PT BEL dilibatkan, ya silakan dilibatkan meski PT BEL sebenarnya hanya terkena dampaknya dari kasus PLTU dan PT Mifa ini,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan, apa pun nantinya rekomendasi dari Tim 19 Pemkab Nagan Raya, pihaknya tetap komit dan siap mematuhinya, termasuk terkait ganti rugi lokasi permukiman warga di Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir. Hanya saja, pinta Rahmat, selama proses rekomendasi digodok Tim 19 yang diprediksi membutuhkan waktu beberapa hari, aktivitas perusahaan, termasuk pengangkutan batu bara tidak diganggu.

“Kita sudah bangun komunikasi baik dengan bupati dan kepala Bappeda Nagan Raya, bahwa kita dari pihak perusahaan tetap komit apa pun keputusan dari pemerintah dalam rekomendasi nanti. Cuma kami dari pihak perusahaan meminta selama proses rekomendari itu berjalan supaya aktivitas PT BEL jangan diganggu,” tandas Rahmat Zahri.

Sudah Salurkan CSR
PADA bagian lain, Kepala Teknik Pertambangan PT Bara Energi Lestasi (BEL), Rahmat ZahriIa menambahkan, selama ini pihak perusahaan sudah memberikan perhatian kepada masyarakat sekitar, terutama melalui program corporate social responsibility (CSR). Dia mengungkapkan, PT BEL sudah pernah menyalurkan dana CSR untuk membantu pesantren dan anak yatim di kawasan Desa Suak Puntong.

“Untuk tahun 2019 ini, kita telah memprogramkan sejumlah kegiatan melalui Bappeda Nagan Raya, yaitu pembersihan lingkungan, bantuan meugang, dan paket lebaran kepada anak-anak yatim. Semua program tersebut akan direalisasikan melalui dana CSR,” tutupnya.(c45)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved