Reses Jelang Pemilu Akal-akalan Dewan

Sebanyak 81 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dikabarkan akan melakukan reses (kegiatan di luar masa sidang)

Reses Jelang Pemilu Akal-akalan Dewan
TAUFIQ A RAHIM, Akademis

BANDA ACEH - Sebanyak 81 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dikabarkan akan melakukan reses (kegiatan di luar masa sidang), yakni turun ke daerah pemilihan (dapil) masing-masing. Reses yang idealnya bertujuan menjaring aspirasi masyarakat itu dilaksanakan sejak 23 Maret hingga 2 April 2019 atau sekitar dua minggu menjelang hari pencoblosan, 17 April 2019.

Rencana kegiatan reses anggota parlemen Aceh ini ternyata dikritisi oleh pengamat politik dan pemerintahan di Aceh, Dr Taufiq A Rahim MA. Menurut Taufiq, kegiatan reses itu hanyalah akal-akalan para anggota DPRA jelang Pemilu 2019 yang tinggal sekitar tiga pekan lagi. Tujuan utamanya, kata Taufiq, adalah untuk kepentingan Pemilu 2019. Dengan kata lain, mereka ingin meraup suara dari para konstituen dengan menebar janji-janji manis yang akan disampaikan dalam program reses tersebut.

“Reses menjelang pemilu akal-akalan mereka (anggota DPRA). Ini hanya permainan serta praktik politik anggota DPRA untuk kepentingan politik mereka jelang kontestasi lagi,” kata Taufiq A Rahim secara khusus kepada Serambi di Banda Aceh, Jumat kemarin.

Dia tambahkan, publik jelas sangat paham pada keinginan dan keputusan rapat Badan Musyawarah DPRA terkait reses itu. Menurutnya, program reses ini memang sesuai dengan hak legislatif dan telah diatur dalam UU MD3 dan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2018 mengenai protokoler dan keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD.

Namun, ketika reses dilakukan menjelang hari pencoblosan Pemilu 2019, tentu ini hanyalah “bungkusan” anggota DPRA yang sebenarnya bertujuan untuk berkampanye jelang hari pencoblosan, 17 April mendatang. “Konon pula kegiatan yang dilakukan pada masa reses itu adalah menjaring aspirasi masyarakat yang diwakilinya di dapilnya masing-masing,” kata Taufiq.

Menurut akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh ini, insting, intuisi, serta akal-akalan politik anggota DPRA memang terlihat jelas untuk kepentingan politik 2019 karena kesempatan ini dimanfaatkan pada saat momen politik jelang Pemilu 2019. Namun, Taufiq tak merasa heran dengan upaya anggota DPRA tersebut karena, menurutnya, ini salah satu ikhtiar mereka untuk tetap menjadi anggota DPRA ataupun sebagiannya yang berkeinginan naik kelas jadi anggota DPR RI.

“Ini jelas kerja dan usaha luar biasa yang dilakukan anggota DPRA sekaligus akal-akalan agar semakin dikenal lagi oleh rakyat menjelang pemilu, mungkin selama ini mereka terlalu sibuk bekerja di dalam Gedung DPRA sehingga tak sempat menjumpai rakyat atau konstituennya di daerah pemilihan,” ujar Taufiq.

Reses ini, lanjutnya, pasti akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh anggota DPRA dengan kedok menjaring persoalan atau fakta yang sesungguhnya di tengah kehidupan masyarakat. “Masyarakat pasti akan mendapatkan retorika politik yang indah-indah, cantik, menggiurkan, serta pesan-pesan harapan palsu jika nanti terpilih kembali,” katanya.

Menjelang berakhirnya periode DPRA ini pada 30 September 2019, tentunya juga banyak oleh-oleh, buah tangan, dan perihal lainnya yang akan dibawa atau dibagikan kepada rakyat sekaligus kampanye lanjutan serta penebaran citra dan janji lanjutan. “Semua itu akan dilakukan dalam masa reses kali ini,” ujar Taufiq.

Kesibukan kegiatan reses ini juga berdampak pada kerja sesungguhnya anggota DPRA. Menurutnya, dapat dipastikan program legislatif (prolega) 2019 yang harus menyelesaikan qanun sebanyak 24 buah dapat dipastikan tidak akan maksimal atau akan lahir qanun seadanya, banyak yang tidak selesai, dan juga alasan waktu menjadi logika serta retorika politik tambahan anggota DPRA.

Reses, kata Taufiq, hanyalah alasan mereka untuk bisa turun ke daerah dan jumpa konstituen dengan menggunakan fasilitas negara dan dibiayi negara. Padahal, dalam kegiatan itu anggota DPRA berhasrat berjumpa dengan rakyat di daerah pemilihannya untuk kepentingan Pemilu 2019.

“Ini adalah langkah cerdas dan akal-akalan juga sudah menjadi rutinitas dan klasik setiap menjelang pemilu, sekaligus sebagai salah satu ikhtiar atau pun usaha untuk terpilih kembali sebagai anggota DPRA maupun naik kelas menjadi anggota DPR RI,” pungkas Taufiq A Rahim. (dan)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved