Citizen Reporter

Membaca Quran di Kelas Musik

SETIAP tahun Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengirimkan setidaknya dua dosen

Membaca Quran di Kelas Musik
IST
SRI AGUSTINA Msi

OLEH SRI AGUSTINA Msi, Dosen Ilmu Kelautan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Oberlin College, Ohio, Amerika Serikat

SETIAP tahun Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengirimkan setidaknya dua dosen untuk menjadi bagian dalam Oberlin Shansi Visiting Scholars. Program ini sepenuhnya didanai oleh Oberlin Shansi Memorial Association yang sudah bekerja sama dengan Unsyiah sejak tahun 2007. Hingga saat ini Unsyiah telah memiliki 29 alumni Oberlin Shansi Visiting Scholars. Pada tahun 2019 ini, saya dan Pak Arismawan (Dosen Teknik Industri, Unsyiah) beruntung dapat merasakan pengalaman sebagai visiting scholars di Oberlin College selama satu semester (empat bulan).

Melalui program ini kami mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan akademik dan keahlian mengajar dengan mengikuti mata kuliah-mata kuliah yang tersedia selama semester berjalan. Mata kuliah tersebut kami pilih sesuai dengan bidang akademik atau minat.

Oberlin College merupakan institusi pendidikan tinggi yang terletak di Kota Oberlin, Ohio, Amerika Serikat. Institusi ini memiliki 26 jurusan yang terbagi dalam dua bidang besar, yaitu College of Art and Science dan Conservatory of Music. Beberapa dari jurusan tersebut menyediakan mata kuliah yang mempelajari tentang Islam, seperti mata kuliah Architecture, Art, and Literature in Islamic Culture; dan mata kuliah Introduction to Qurán.

Selain dua mata kuliah ini, Introduction to Musics of The World mempunyai satu sesi khusus dalam silabusnya yang membahas tentang seni dalam membaca Alquran.
Melalui e-mail, Professor Jennifer Fraser, dosen pengampu mata kuliah Introduction to Musics of The World, mengundang kami untuk berbagi pengalaman dengan mahasiswanya tentang Alquran dalam kehidupan sehari-hari.

Pada pertemuan sebelum kami hadir, Prof Jenny dan mahasiswanya sudah membahas tentang Alquran dalam kehidupan sehari-hari, irama, dan musabaqah membaca Quran. Prof Jenny sendiri tidak asing lagi dengan bacaan Alquran karena beliau pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia ketika melakukan penelitiannya tentang alat musik tradisional Indonesia, seperti gamelan.

Meski saya tidak dapat mempraktikkan langsung irama membaca Alquran seperti yang diperlombakan saat MTQ, kesempatan ini jadi sangat berharga bagi saya selama menjadi visiting scholars di Oberlin College. Dalam kesempatan ini, saya membacakan Surah Alkautsar dengan irama tartil biasa. Selanjutnya, selama kurang lebih 40 menit, kami melakukan diskusi tentang Aceh, muslim di Aceh, dan keterikatan muslim dengan Alquran. Para mahasiswa tersebut sangat antusias untuk tahu bagaimana interaksi kami dengan Alquran. Beberapa pertanyaan mereka ajukan, antara lain, bagian apa (surah atau ayat) dari Alquran yang paling sering dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan berikutnya adalah apakah antara laki-laki dan perempuan berbeda dalam membaca Alquran? Juga mereka tanyakan apakah membaca Alquran memberi pengaruh besar dalam kehidupan kami?

Lalu, dipertanyakan sejak umur berapa kami belajar membaca Alquran? Apakah kami belajar Alquran melalui pendidikan formal atau bukan? Terakhir, mereka juga tanyakan bagaimana cara kami belajar baca Alquran? Nah, itulah yang mereka pertanyatakan kepada kami dalam sesi diskusi yang menyenangkan, setelah mereka mendengarkan lantunan surah terperndek, Alkautsar. (*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved