Opini

Memformat Wajah Kota

APRESIASI buat Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh yang terus mencari format penataan wajah kota tua ini

Memformat Wajah Kota
DOK. DKP BANDA ACEH
FOTO Maket Museum Digital Taman Sari Banda Aceh 

Taman Sari
Taman Sari atau Taman Bustanussalatin mestinya menjadi introspeksi Pemko dalam mengembangkan taman-taman baru di pusat kota. Pada masa Pemerintahan Illiza-Zainal, Taman Sari disulap menjadi gundukan tanah di bagian tengah, sehingga terkesan memisahkan dua buah taman. Sampai kini, tidak tahu apa fungsi gundukan tanah tersebut.

Pada masa Aminullah-Zainal, Taman Sari diformat semakin sempit dengan berdirinya panggung permanen. Sampai kini, panggung tersebut tidak pernah digunakan. Bahkan, Pemko Banda Aceh sendiri lebih memilih Blangpadang sebagai lokasi kegiatan tinimbang Taman Sari. Padahal, Pemko yang menyulap taman itu tidak lagi “ber-sari”.

Jika kita melihat kota-kota lain di Indonesia bahkan kota-kota besar di luar negeri, memang ada taman di pusat kota. Taman tersebut menjadi pusat keramaian keluarga. Di sana, ada orang tua membawa anak-anaknya bermain, terutama pada hari libur atau sore hari biasa. Warga kota bebas menikmati sejuknya hawa taman, indahnya tata taman, dan ranumnya bunga-bunga di taman. Apakah lokasi seperti ini ada di Kota Banda Aceh?

Taman Sari yang mestinya menjadi pusat keramaian keluarga, kini diformat menjadi entah pusat keramaian siapa. Panggung permanen yang menghabiskan dana nyaris dua miliar rupiah itu, sampai kini terbengkalai.

Banyak lembaga atau instansi lebih memilih lokasi lain dalam perhelatan seni daripada harus di panggung Taman Sari. Mengapa? Di sinilah kurang sangkil dan mangkus sebuah panggung permanen ukuran besar di tengah taman kota. Pada akhirnya, pemubaziran keberadaan panggung tersebut benar seperi disitir oleh endatu, buet walanca walance, asai ka na buet hana payah pike.

Sejatinya, wajah kota tua ini memang harus ditata. Penataannya mesti ramah lingkungan, menghargai sejarah, tetapi juga tidak melupakan kearifan lokal masyarakat Aceh. Untuk apa Banda Aceh memiliki banyak taman bermain, jika sampah berserakan di sana-sini. Raibnya penghargaan Adipura 2018 merupakan indikator wajah Kota Banda Aceh sekarang sudah kurang terurus.

Pemko sibuk mengejar pembangunan fisik, tetapi melupakan pembangunan karakter. Oleh karena itu, apa pun bentuk penataan kota mesti diberikan kepada ahlinya, yakni Ahli Tata Kota, bukan ahli proyek bangunan. Inilah yang disebut orang Aceh dengan nyang utoh tayu ceumulek, nyang lisek tayu keunira; nyang bagah tayu seumeujak, nyang bijak tayu peugah haba.

Berikanlah pekerjaan itu sesuai pada ahlinya, sehingga setelah tidak lagi menjabat pun, Wali Kota dan Wakil Wali Kota sekarang tetap dikenang di masa datang. Jangan sampai seperti kata Khalil Gibran, banyak warga memilih dan menyambut pemimpin dengan terompet kemenangan, tetapi melepasnya dengan cacian. Semoga tidak sampai terjadi demikian!

* Herman RN, Dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh, berkhidmat pada kerja-kerja kebudayaan dan kearifan lokal. Email: hermanrn13@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved