Pasien RSUZA Mengeluh Kepanasan

Pasien rawat inap di ruang kelas II Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) mengeluh ruangan yang mereka tempati

Pasien RSUZA Mengeluh Kepanasan
Azharuddin

* Minta Dipasang AC

BANDA ACEH - Pasien rawat inap di ruang kelas II Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) mengeluh ruangan yang mereka tempati kepanasan, baik pada siang maupun malam hari. Sebagian keluarga pasien terpaksa membeli kipas angin, namun sebagian lainnya tak memiliki dana yang cukup.

Ani, salah seorang pasien rawat inap kepada Serambi, Rabu (27/3), mengatakan, untuk mengurangi rasa panas pada ruang rawat inap kelas III lantai II RSUZA, dia harus membeli kipas angin kecil seharga Rp 150.000 per unit. Keluhan serupa juga disampaikan Abdullah, pasien rawat inap di ruang pria.

Abdullah mengatakan, dalam ruang rawat inap kelas III pria itu memang punya kipas angin. Namun, hembusan angin dari kipas tersebut tidak cukup untuk menurunkan suhu dalam ruangan, yang rata-rata diperkirakan di atas 30 derajat selsius.

Seperti juga imbauan petugas, keluarga Abdullah berusaha untuk tidak berada dalam ruangan pada siang hari. Ini untuk mengurangi bau keringat, karena suhu udara dalam ruangan sangat panas. Abdullah berharap pihak manajemen rumah sakit bisa memasang AC pendingin udara dalam ruangan kelas II tersebut. “Mudah-mudahan pihak rumah sakit bisa memasang alat pendingin udara ruangan,” kata pria setengah baya itu.

Dikatakan, bagi pasien yang berdomisili di Banda Aceh dan Aceh Besar, memang banyak meminta keluarganya pulang mengambil kipas angin. Namun, untuk pasien yang jauh jaraknya, tentulah sulit. Apalagi pasien miskin yang memang tak memiliki kipas angin di rumah.

“Bagi pasien yang berasal dari Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Gayo Lues, Aceh Selatan dan daerah lainnya, tidak bisa pulang ke rumah untuk mengambilnya. Apalagi jika pasien miskin, maka harus membeli kipas plastik untuk mengipasnya,” kata Ali, pasien lainnya.

Direktur RSUZA Dr dr Azharuddin SpBO, K-Spine FICS yang dimintai konfirmasinya, Rabu siang (27/3), seusai rapat dengan dewan pengawas RSUZA, mengatakan, keluhan pasien rawat inap kelas III sudah dilaporkan kepada Dewan Pengawas RSUZA, di antaranya kepada Kadinkes Aceh, Asisten I Setda Aceh, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh. ” Mereka juga sudah meninjau dan melihat suasana panas di ruang rawat inap kelas III yang baru itu,” pungkas Azharuddin.

Jumlah tempat tidur pasien di ruang rawat inap sebanyak 300 tempat tidur. Itu artinya, kata dia, setiap hari tidak kurang dari 300 orang yang dirawat di ruang rawat inap tersebut. Belum lagi anggota keluarganya yang lalu lalang.

Pada dokumen KUA dan PPAS 2019 dan dalam pembahasan RAPBA 2018, Desember 2018 lalu, kata Azharuddin, pihaknya sudah mengusulkan pemasangan AC di ruang rawat inap tersebut.

Untuk pemasangan AC, jaringan listrik baru, dan lainnya pada ruangan rawat inap itu, berdasarkan pengkajian pihak konsultan perencana, membutuhkan dana Rp 14 miliar.

Kebutuhan dana sebanyak itu, kata Azharuddin, sudah dimasukkan ke dalam usulan tahun lalu. “Tapi, pada saat pembahasan RAPBA 2019, program pemasangan AC di ruang rawat inap itu belum disetujui, dengan alasan dananya belum tersedia,” kata Azharuddin. Pihaknya mengupayakan untuk dimasukkan kembali ke dalam KUA dan PPAS Perubahan RAPBA 2019.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved