Citizen Reporter

Pengalaman Seru Ikut Simulasi Sidang PBB

Sepuluh hari berada di dataran Kerajaan Ratu Elizabeth memberikan banyak pengalaman yang bisa saya bagikan

Pengalaman Seru Ikut Simulasi Sidang PBB
IST
KRISAL PUTRA

OLEH KRISAL PUTRA, Best Second Presenter “Asean Islamic Students Summit 2017” Kuala Lumpur dan penerima Beasiswa Mahasiswa Berprestasi Aceh Selatan tahun 2018, melaporkan dari London, Inggris

Sepuluh hari berada di dataran Kerajaan Ratu Elizabeth memberikan banyak pengalaman yang bisa saya bagikan ke kerabat dan teman-teman terdekat di Indonesia, khususnya Aceh. Saya adalah alumnus Pondok Pesantren Darul Ulum Banda Aceh yang sekarang melanjutkan studi di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Bukan sebuah proses yang singkat untuk berhasil menginjakkan kaki di rumah Pangeran William. Melalui seleksi yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia Model United Nations (UII MUN) mulai dari seleksi berkas, wawancara hingga simulasi sidang PBB, saya akhirnya berkesempatan jadi delegasi resmi yang mewakili UII untuk acara London Internasional Model United Nations (LIMUN) 2019.

Simulasi sidang PBB LIMUN 2019 yang diselenggarakan di Universitas King’s College London ini menjadi acara yang ke 20th. Acara ini bertujuan sebagai forum di mana mahasiswa dari perguruan tinggi di seluruh dunia dapat bertemu untuk mendiskusikan tantangan-tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini, baik di bidang perdamaian maupun keamanan internasional untuk kemajuan ekonomi, sosial, dan hak asasi manusia. Dalam semangat ini, LIMUN juga memulai proses debat konstruktif dengan asumsi bahwa debat yang dilakukan hari ini dapat menjadi solusi untuk masa depan.

LIMUN berusaha untuk memastikan bahwa komite yang ditawarkan memberikan tampilan pendidikan dan komprehensif di berbagai macam masalah yang mendesak.

Acara LIMUN pada tahun ini dilaksanakan tiga hari. Delegasi Universitas Islam Indonesia untuk Limun yang berjumlah empat orang, termasuk saya. Kami berangkat ke London empat hari lebih cepat. Hal ini dikarenakan kami ingin mencari tahu letak apartemen yang sudah dipesan sebelumnya dan bagaimana akses menuju ke tempat acara.

Pada tanggal 22 yang lalu acara dimulai dengan pendaftaran ulang peserta pada pukul 10.00-13.00 waktu setempat. Setelah itu, saya mengikuti acara perkenalan dasar mengenai PBB. Dari acara tersebut saya mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana cara berkerja di PBB, ada apa saja bagian di dalam PBB, dan bagaimana mempersiapkannya. Acara selanjutnya adalah pembukaan yang dilaksanakan di Westminster Abbey di mana kurang lebih 4.000 peserta memasuki ruangan tersebut. Kepada kami disuguhkan beberapa penampilan dan pidato dari ketua acara dan ahli yang menjadi pembicara utama pada acara Limun 2019.

Kemudian setelah pembukaan kami diarahkan untuk mendatangi Universitas King’s College dan mencari ruang untuk dilaksanakannya sidang. Kebetulan saya berada di Council UN Women yang pada saat itu berada di ruang 1.06 dari Universitas King’s College. Sidang dilaksanakan sejak pukul 19.00 hingga 21.00 diawali dengan pemanggilan nama perwakilan negara setiap delegasi. Saya sendiri “mewakili” negara Peru pada LIMUN 2019. Pada hari pertama saya bertemu banyak delegasi dari berbagai negara, seperti Perancis, Jerman, Portugal, Turki, Cina, Inggris, dan negara-negara lain.

Kemudian pada saat itu juga saya berkesempatan untuk berbicara tiga kali dan menyampaikan pendapat mengenai masalah yang diperdebatkan di Council UN Women. Pada hari kedua, acara dimulai pukul 09.00-18.00. Hari itu kami banyak membahas mengenai permasalahan dasar yang ada di UN Women, seperti kesetaraan cuti antara istri dan suami, bagaimana cara menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan di dunia kerja, kampanye seperti apa yang harus diperkenalkan kepada masyarakat dunia, dan bagaimana cara memberdayakan perempuan untuk meningkatkan ekonomi negara.

Saya sendiri memperkenalkan kampanye #WomenCan kepada semua delegasi UN Women sebagai solusi untuk menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan. Tak hanya itu, kampanye ini juga diharapkan bisa menghilangkan pekerjaan yang dianggap berbasis gender. Misalnya, tidak semua sopir bus harus laki-laki, tidak semua buruh bangunan harus laki-laki, dan tidak semua tukang parkir juga harus laki-laki. Di tingkat yang lebih tinggi, misalnya, tidak selamanya CEO di sebuah perusahaan itu harus diisi oleh laki-laki.

Tiga hari melaksanakan simulasi sidang PBB, saya belajar banyak mengenai bagaimana cara public speaking dan bernegosiasi dengan negara-negara yang kurang menerima solusi saya. Sidang hari ini adalah sidang terakhir, oleh karena itu pada sidang hari terakhir MUN pasti akan meloloskan satu berkas tertulis untuk digunakan sebagai panduan negara dalam melakukan tindakan yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah terhadap perempuan. Tidak hanya itu, saya sendiri bisa mengerti ternyata solusi atas permasalahan terhadap wanita tidak bisa disamakan ke semua negara anggota UN Women. Contohnya saja kita harus mempertimbangkan kepentingan negara maju dan negara berkembang. Tidak hanya itu perbedaan budaya dan norma agama juga menjadi pertimbangan setiap negara di council tersebut.

Hal inilah yang menjadikan acara simulasi sidang PBB itu menjadi lebih seru. Setiap delegasi dituntut untuk berpikir secara kritis dan berusaha menjadi pemimpin atas negara-negara lain. Keseruan lainnya saya juga berkesempatan bertemu dengan mahasiswa yang kuliah di universitas ternama dunia, seperti Universitas Oxford, Harvard, dan Cambridge. Tidak hanya itu, bertemu dengan orang baru berarti harus bisa menjaga silaturahami yang baik dengan mereka, karena saya yakin, siapa yang saya temui pada saat ini akan berguna di masa depan. Terbukti, sampai saat ini saya masih berhubungan dengan teman-teman yang berada bermil-mil jauhnya dari Indonesia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved