Harga Beli Sawit oleh Perusahaan Lebih Rendah dari yang Ditetapkan Pemerintah, Petani Merugi

Petani kelapa sawit di Kabupaten Aceh Singkil dan Subulussalam, mengalami kerugian akibat re ndahnya harga sawit yang dibeli pihak perusahaan.

Harga Beli Sawit oleh Perusahaan Lebih Rendah dari yang Ditetapkan Pemerintah, Petani Merugi
Serambinews.com
Tandan buah segar kelapa sawit milik petani di Aceh Singkil. 

Laporan Dede Rosadi | Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Petani kelapa sawit di Kabupaten Aceh Singkil dan Subulussalam, mengalami kerugian akibat re ndahnya harga sawit yang dibeli pihak perusahaan.

Pihak perusahaan membeli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani di bawah harga yang ditetapkan Tim Penetapan Harga Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Padahal saat dilakukan penetapan harga, juga dihadiri pihak perusahaan dan Apkasindo.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Aceh Singkil, Syafril Harahap, Minggu (31/3/2019) mengatakan, kerugian petani dapat dihitung dari selisih harga yang ditetapkan pemerintah dengan harga sawit di perusahaan.

Dimana harga sawit yang dibeli perusahaan lebih rendah dari yang ditetapkan tim penetapan harga.

Syafril mencontohkan, di PT PLB harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pada 30 Maret hanya Rp 1.165 per kilogram untuk segala umur.

Harga di PLB itu lebih tinggi dibanding harga di perusahaan lain. Namun jika dibandingkan dengan harga yang ditetapkan pemerintah, tetap masih di bawahnya.

Baca: Turun Lagi, Petani Minta Pemerintah Stabilkan Harga TBS Sawit

Baca: Pemerintah Siap Boikot Produk Eropa Masuk Pasar Indonesia Bila Diskriminatif Terhadap Sawit

Baca: Kritik Usulan Jokowi karena Sarankan Petani Sawit Tanam Durian, Rizal Ramli Tawarkan Solusi Lain

Padahal dalam rapat pada 13 Maret 2019 lalu, tim penetapan harga yang dibentuk pemerintah, menetapkan harga TBS kelapa sawit umur lima tahun Rp 1.199,53 per kilogram dan umur sepuluh tahun Rp 1.379.96 per kilogram.

Harga tersebut berlaku sampai pekan pertama April. "Hal itu bisa diartikan perusahaan tidak mematuhi hasil kesepakatan, berdasarkan rumus rata-rata harga CPO, inti sawit dan indeks K," kata Syafril.

Menurut Syafril, dengan tidak dipatuhi hasil kesepakatan harga TBS sawit oleh perusahaan, petani berencana membawa masalah ini ke ranah hukum untuk menuntut kerugian.

"Kerugian petani  disebabkan selisih harga yang jumlahnya bila diperhitungkan secara keseluruhan mencapai miliaran rupiah," ujarnya.(*)

Baca: Walkot Subulussalam Berang, Ada Oknum Caleg Klaim Dana PKH Perjuangannya

Baca: Permintaan Pepaya Madu di Pidie Capai 200 Buah/Hari

Baca: Sosialisasi Bahaya Narkoba, Rafli Hibur Warga Lewat Konser di Aceh Barat

Penulis: Dede Rosadi
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved