Pagi Panas Terik, Sore Hujan, Begini Penjelasan BMKG Aceh

Meskipun sudah berada di awal musim kemarau tahun 2019, wilayah Aceh masing sering dilanda hujan pada sore hari.

Pagi Panas Terik, Sore Hujan, Begini Penjelasan BMKG Aceh
Shutterstock
Ilustrasi cuaca buruk. 

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Meskipun sudah berada di awal musim kemarau tahun 2019, wilayah Aceh masing sering dilanda hujan pada sore hari.

Perubahan cuaca drastis dari panas ke hujan itu diprediksi masih akan terjadi pada awal April ini.

Penyebabnya ternyata karena Aceh berada di wilayah ekuatorial.

Kondisi ini membuat sebagian besar wilayah sering dilanda hujan pada sore hari, akibat penguapan air laut yang mengelilingi Aceh.

Secara rinci, Kasi Data dan Informasi BMKG Bandara SIM Blangbintang, Zakaria Ahmad SE kepada Serambinews.com, Minggu (31/3/2019) mengatakan, Aceh masih mendapat tambahan hujan hingga beberapa hari ke depan.

Hal ini karena matahari yang berada di garis khatulistiwa memanaskan dan menguapkan air laut. Sehingga membentuk awan hitam yang membawa uap air di atas wilayah ini.

“Perubahan cuaca ini akan kita rasakan hingga beberapa hari ke depan. Kalau paginya cerah bahkan panas terik, pada sore hari bisa tiba-tiba berubah menjadi hujan,” katanya. 

Baca: Musim Kemarau Tiba, Warga Diingatkan tidak Membakar Lahan dan Hutan, Hukumannya 15 Tahun Penjara

Baca: Cuaca Ekstrem Masih Landa Subulussalam, Waspadai Longsor dan Pohon Tumbang

Baca: Hindari Lokasi Ini Jika Terjadi Hujan Lebat di Bener Meriah, Rawan Banjir dan Longsor

Suhu di awal kemarau ini, menurut Zakaria masih tergolong aman, yakni 32-33 derajat celcius.

Namun pada Agustus 2019 mendatang yang diprediksi menjadi puncak kemarau, panas yang dirasakan bisa mencapai 35-37 derajat celcius. 

“Bagi masyarakat perlu minum lebih banyak air putih dan makan buah-buahan, agar tidak dehidrasi,” timpalnya.

Terkait ancaman asap akibat kebakaran lahan di musim kemarau ini, Zakaria menyebut potensinya tetap ada, terutama di wilayah Aceh Timur.

“Pengaruhnya memang tidak sampai ke Banda Aceh atau Aceh Besar. Jadi, kalau nanti terjadi kabut asap, bisa jadi itu karena pembakaran jerami di sekitar kita,” pungkasnya.(*)

Baca: Sisi Indah Gampong Jawa Banda Aceh, dari Lokasi Pembuangan Sampah Jadi Tempat Wisata

Baca: Brunei Terapkan Hukum Rajam Sampai Mati LGBT, Ulama Aceh: Tak Perlu Hiraukan Kecaman dari Pihak Luar

Baca: Cewek Sales Rokok Diciduk Sekamar dengan Bosnya di Hotel di Banda Aceh

Penulis: Eddy Fitriadi
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved