Pulau Banyak Krisis Es

Nelayan di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil kekurangan es untuk mengawetkan ikan

Pulau Banyak Krisis Es
SERAMBI/M ANSHAR
Nelayan dan anaknya pulang melaut di Pulau Banyak 

* Nelayan tak Bisa Melaut

SINGKIL - Nelayan di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil kekurangan es untuk mengawetkan ikan. Kondisi itu membuat kapal penangkap ikan di sana tidak bisa pergi melaut.

Arianto, warga Pulau Banyak kepada Serambi, Senin (1/4), mengatakan, es yang diproduksi di kepulauan itu tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan para nelayan setempat. Sebab, meningkatnya jumlah alat tangkap dan kapal nelayan membuat kebutuhan es untuk mengawetkan ikan pun menjadi tinggi. “Jumlah alat tangkap di Pulau Banyak kini sudah bertambah sehingga kebutuhan es tidak lagi mencukupi,” kata Arianto. “Dampaknya, sejumlah kapal terpaksa tidak pergi melaut karena tidak punya stok es,” imbuhnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, beber Arianto, beberapa nelayan sempat mencoba mencari alternatif dengan mendatangkan es dari daratan Aceh Singkil dan Sumatera Utara ke Pulau Banyak. “Namun, solusi mendatangkan es dari daratan itu tidak efektif dan efisien, sebab ada tambahan biaya ongkos serta es lama di perjalanan,” ulasnya.

Oleh sebab itu, ucap Arianto, nelayan mendesak Pemkab Aceh Singkil segera membangun pabrik es tambahan di Pulau Banyak. “Jika pun belum bisa membangun pabrik baru, setidaknya pemerintah bisa menambah kapasitas produksi pabrik es yang telah ada. Solusi ini kalau bisa dilakukan dalam waktu dekat,” harapnya.

Untuk diketahui, di Pulau Banyak terdapat tiga pabrik es dengan kapasitas produksi sekitar 13 ribu ton per hari. Dari tiga unit pabrik es itu, dua unit di antaranya milik Pemkab Aceh Singkil, dan satu lagi dimiliki swasta.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Aceh Singkil, Ismed Taufiq yang dikonfirmasi Serambi, kemarin, membenarkan, bahwa nelayan di Kepulauan Banyak kekurangan es sehingga kapal tidak bisa melaut. Menurutnya, hal itu menyusul meningkatnya kesejahteraan ekonomi nelayan sehingga mampu membeli kapal dan alat tangkap modern. “Karena kesejahteraan meningkat, sekarang jumlah kapal 30 GT dengan alat tangkap modern milik nelayan lokal sekitar sembilan unit. Hasil tangkapan ikannya pun banyak, makanya butuh es lebih banyak,” kata Ismed.

Ia menerangkan, produksi es dari tiga pabrik di Pulau Banyak saat ini hanya sekitar 13 ribu ton per hari. Sedangkan, kebutuhannya lebih dari 20 ton per hari. Meski kekurangan es itu coba dipasok dari pabrik di TPI Anak Laut dan Sumatera Utara, namun masih belum mencukupi. “Hitungan kami, kekurangan es per harinya mencapai 10 ribu ton,” ujarnya.

Sebagai solusi, ulas Ismed, pada tahun ini akan dibangun tambahan pabrik es di TPI Anak Laut dengan kapasitas produksi 10 ribu ton per hari. Namun begitu, melihat jumlah alat tangkap modern yang terus bertambah di Pulau Banyak, ia memperkirakan pasokan es tetap tidak akan mencukupi. “Oleh karena itu, kami berharap Pemerintah Aceh pada tahun 2020, merealisasikan pembangunan pabrik es di Pulau Banyak. Produksinya minimal 20 ribu ton per hari,” tukas Ismed.(de)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved