1MDB: Pria Flamboyan, Perdana Menteri, Penggila Pesta di Seputar Skandal Finansial Global

Setelah sejumlah penundaan, persidangan pertama terhadap Najib Razak akan dilakukan pada tanggal 3 April 2019.

1MDB: Pria Flamboyan, Perdana Menteri, Penggila Pesta di Seputar Skandal Finansial Global
AFP/Mohd Rasfan
Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak tiba di kompleks pengadilan Duta di Kuala Lumpur, pada Rabu (4/7/2018). (AFP/Mohd Rasfan) 

Rosmah Mansor

Kebiasaan berbelanja istri Najib Razak, Rosmah Mansor dibanding-bandingkan dengan Imelda Marcos dan Marie Antoinette.

Sejak sang suami kehilangan kekuasaan, Rosmah Mansor, 67, juga dituntut dalam kasus pencucian uang dan penghindaran pajak, di mana ia juga mengaku tidak bersalah.

Selera mewah Rosmah banyak dikecam di Malaysia, di mana ia dikritik keras karena tidak sensitif terhadap masyarakat biasa yang bersusah payah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca: Baru 3 Gampong Ajukan Pencairan

Pada tahun 2018, penyergapan polisi ke sejumlah properti miliknya dan sang suami yang tersiar luas membuat panas media sosial dengan foto-foto sejumlah keranjang supermarket yang terisi lebih dari 500 tas tangan mewah, ratusan jam tangan, dan 12.000 buah perhiasan senilai hampir $US273 juta (Rp3,8 triliun) memastikan kecurigaan warga Malaysia bahwa keluarga perdana menteri tersebut memiliki gaya hidup yang luar biasa mewah.

Dengan citra Rosmah Mansor yang mencolok dan kegemarannya terhadap tas-tas mewah seperti Hermes Birkin, penampilannya di persidangan sangat diperhatikan.

"Ia tidak kasar, tetapi ia juga tidak ramah atau menyenangkan. Secara pribadi, ia tampil angkuh," tutur koresponden kantor berita Reuters di Malaysia, Rozanna Latiff.

"Pada hari-hari ketika Rosmah Mansor memenuhi panggilan pemeriksaan, banyak sekali yang memerhatikan pakaian dan tas-tas yang dikenakannya."

Mahathir Mohamad

Ini adalah kisah kembalinya situasi politik yang berbeda dari yang lain: pada usia 93 tahun, Mahathir Mohamad, sosok yang mendominasi dunia politik Malaysia sebagai perdana menteri pada era 1980an, 1990an, dan awal tahun 2000an, kembali hadir dan memimpin Malaysia.

Kembalinya Mahathir ke dalam kegaduhan politik yang ada dilatarbelakangi sebuah hasrat yang jelas - untuk menggulingkan Najib Razak, mantan anak didiknya.

"Saya mohon maaf kepada semuanya, karena saya yang mengangkatnya, kesalahan terbesar hidup saya. Saya ingin memperbaiki kesalahan tersebut," ujar Mahathir dalam kampanyenya awal Mei 2018 lalu setelah membelot ke kubu oposisi untuk menghadapi Najib.

Baca: Polres Bireuen Gelar Zikir di Masjid Agung Bireuen, Harapkan Pemilu Damai

Beberapa hari kemudian, ia mengejutkan dunia dengan berhasil mengalahkan partai lamanya, yang telah menjalankan roda pemerintahan Malaysia selama lebih dari setengah abad.

Kembalinya Mahathir disambut baik warga Malaysia, yang mana banyak di antaranya mendukung upaya pemerintah yang baru untuk menyeret pihak-pihak yang diduga menjarah 1MDB ke pengadilan.

Namun pengamat politik mengingatkan bahwa politikus senior itu, bukan hanya membukakan jalan kekuasaan kepada Najib, tetapi juga dituduh memimpin secara otoriter selama masa pemerintahannya dulu.

Najib Razak ingin bersihkan nama, unggah 'bukti sumbangan' Rp1,4 triliun dari Saudi
Mantan PM Malaysia Najib Razak dilarang terbang ke Jakarta

Jho Low

Pemodal Malaysia keturunan Cina yang berasal dari pulau Penang, Low Taek Jho - lebih dikenal dengan panggilan Jho Low - digambarkan para penyelidik Malaysia dan AS sebagai salah satu otak di balik skandal penipuan 1MDB.

Terlepas dari dirinya yang tak pernah menduduki jabatan apa pun dalam pengelolaan dana di sana, ia diduga memainkan peran krusial dalam aktivitas tersebut.

Baca: Wajarkah Anak Memukul Orang Tua Karena Kesal? Jangan Didiamkan, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Menurut wartawan Bradley Hope dan Tom Wright dalam buku laris yang mereka tulis, Billion Dollar Whale, yang menceritakan dugaan kesewang-wenangan Jho Low, jaringan luar biasa dan naluri bisnisnya yang cerdaslah yang memungkinkannya untuk berkembang.

"Jho Low adalah sosok yang paling menarik dalam kasus 1MDB, sosok dalang yang misterius," ujar Hope kepada BBC.

"Menjadi sangat jelas sejak awal bahwa ia adalah titik penghubung di antara semua pihak yang terlibat dalam dana 1MDB - serta satu-satunya yang memiliki perspektif 360 derajat dari skema multi-miliar dolar ini."

Jaksa AS menyatakan bahwa Low memengaruhi jejaring politiknya yang kuat untuk memenangkan bisnis bagi 1MDB dengan membayar suap senilai ratusan juta dolar.

Uang miliaran dolar, menurut mereka, dicuci melalui sistem keuangan AS dan digunakan untuk membeli sejumlah real estat termahal di dunia, karya-karya seni yang banyak diburu, dan mendanai produksi film-film Hollywood.

Baca: Malam Ini Giliran Faul di Liga Dangdut, Dukungan Juga Mengalir dari Madura, Jambi dan Padang

Ia dikenal sebagai seorang pria yang suka menggabungkan bisnis dengan bersenang-senang.

Pesta-pesta mewah dan hubungan pertemanan kelas atas dengan bangsawan Arab dan selebriti kelas wahid membuatnya cepat meroket.

Bahkan, Britney Spears muncul dari dalam kue ulang tahunnya saat perayaan di Vegas tahun 2012 lalu.

Dalam bukunya, kedua wartawan berspekulasi bahwa pada satu titik, Jho Low mungkin memiliki akses ke uang tunai lebih banyak daripada hampir semua orang di dunia.

Namun kejatuhan pemerintahan Najib Razak menjadi kabar buruk bagi sosok Jho Low.

Baca: Lunasi Utang Pihak Ketiga

Berbagai gugatan pidana dialamatkan kepadanya dan kini sosoknya buron di sejumlah negara.

Keberadaannya saat ini tidak diketahui, namun ia tetap mengaku tidak bersalah dalam pernyataan di situs web resminya. Para pengacaranya mengatakan bahwa ia tidak dapat memperoleh persidangan yang adil di Malaysia.

"Jho Low adalah sosok yang sangat tekun, namun ia juga teliti sekaligus sangat ceroboh. Ia dengan kalut membangun sebuah kerajaan dengan uang yang bukan miliknya dan pada akhirnya, seluruh rencananya menjadi putus asa dan tidak berkelanjutan," ujar Hope.

Timothy Leissner

Bankir lihai asal Jerman ini mewakili salah satu institusi keuangan terkuat dunia, Goldman Sachs, pada masa ketika bank itu tengah menggarap pasar Asia.

Setelah krisis keuangan tahun 2008, kesepakatan yang dibuat Timothy Leissner di Asia Tenggara (khususnya Malaysia) menghasilkan pendapatan dalam jumlah signifikan bagi banknya, dan ia pun kemudian diangkat menjadi pemimpin perusahaan regional di kawasan tersebut.

Namun kesepakatan terbesarnya tercapai saat ia bertemu dengan Jho Low - sosok yang diduga menjadi otak di balik 1MDB.

Sebelumnya, Goldman menolak Low sebagai kliennya, setelah pejabat pemenuhan kepatuhan menyoroti sumber keuangannya.

Baca: PSBU Juara Divisi Utama

Namun, dalam dakwaan di AS, Leissner dan seorang bankir Goldman lainnya, Roger Ng, memanfaatkan jejaring kuat Low untuk mendapatkan kesepakatan bisnis bagi Goldman.

Bank tersebut dituduh telah mendapatkan uang senilai USD600 juta (Rp8,5 triliun) sebagai imbalan karena telah mengatur dam menjamin tiga penjualan obligasi untuk meningkatkan dana sebesar $US6,5 miliar (Rp92,5 triliun) bagi 1MDB pada tahun 2012 dan 2013.

Leissner telah mengaku bersalah atas dakwaan di AS karena telah berkonspirasi mencuci uang dan menyalahi undang-undang anti-korupsi dengan menyuap pejabat luar negeri.

Baca: Secara Tak Sengaja, Syahrini Ungkap Alasan Reino Barack Menikahinya

Malaysia juga telah melayangkan gugatan terhadapnya, Ng dan institusi Goldman Sachs sendiri. Ng pun membantah semua tuduhan yang dialamatkan padanya.

Goldman Sachs yang menyangkal telah berbuat salah, menyebut tuduhan tersebut "salah alamat" dan berjanji akan "membela mereka sekuat tenaga". Mereka menggambarkan sosok Leissner, yang mereka tangguhkan pada tahun 2016, telah berbuat "bandel" dan telah meminta maaf atas perilakunya.

Namun pemerintah Malaysia menolak permohonan maaf tersebut dan meminta bank itu untuk membayar $US7,5 miliar (Rp106,7 triliun) untuk perbaikan.

Baca: PSBU Juara Divisi Utama

Para bintang

Uang berbicara, tetapi apakah kekuatan status selebriti bersuara lebih lantang?

Skandal 1MDB bukan hanya tentang para politikus dan penyandang dana yang kuat; pengusaha sekaligus buronan Jho Low sering berpesta dengan selebriti Hollywood papan atas.

Tak satu pun di antara mereka dituduh melakukan kesalahan, namun hubungan sosial mereka dengan Low telah menjadi subjek pemberitaan media massa.

Film Leonardo DiCaprio yang itu

Aktor pemenang piala Oscar itu membintangi film The Wolf of Wall Street tahun 2013 lalu, di mana film itu juga diproduseri dan didanai Riza Aziz, putra kandung Rosmah Mansor dan putra tiri Najib Razak.

Film garapan Martin Scorsese yang bercerita tentang keserakahan dan korupsi itu membuat DiCaprio memenangkan penghargaan Golden Globe sebagai Aktor Terbaik, di mana ia mengucapkan terima kasih kepada Aziz dan Low.

Baca: Babak Kedua Malaysia Open 2019 - Lima dari 12 Wakil Indonesia Lawan Unggulan, Jojo Vs Momota Lagi

Jaksa AS menyatakan bahwa uang 1MDB disalahgunakan untuk membiayai pembuatan film itu, dan bahwa produsen film tersebut, Red Granite, telah menyelesaikan gugatan perdata dengan pemerintah AS.

Perusahaan tersebut membantah telah melakukan kesalahan. Sementara itu, DiCaprio telah berjanji akan membantu aparat AS dan telah menyerahkan sebuah lukisan Picasso yang diduga dihadiahkan Low kepadanya.

Teman musisi Kasseem Dean (alias Swizz Beatz) dan Alicia Keys

Kasseem Dean, produser rekaman ambisius dan istri superstarnya pernah berada dalam lingkaran pertemanan Jho Low, dan seringkali difoto ketika menghadiri pesta-pesta megahnya.

Dean sendiri tampil dalam pesta perayaan ulang tahun ke-31 Low yang terkenal (di mana Britney berada dalam kue ulang tahun Low).

Baca: Ribuan Jamaah Hadiri Peringatan Isra Mikraj

Dean juga disebut-sebut memperkenalkan Low ke dalam dunia seni yang mahal, di mana ia diduga telah membeli sejumlah karya seni termasuk gambar Van Gogh dan dua lukisan Monet dengan menggunakan uang 1MDB.

Berpesta dengan Paris Hilton

Teman-teman Low lainnya yang berasal dari kalangan selebriti sekaligus pewaris hotel Hilton, Paris, dikabarkan bertemu Low tahun 2009 lalu.

Mereka kerap kedapatan bersama dalam foto-foto paparazzi (juga swafoto), berpesta keliling dunia - dari meja judi di Vegas ke lereng ski Whistler dan Saint-Tropez yang nyaman.

Bermesraan dengan Miranda Kerr dan Elva Hsiao

Apa kesamaan antara supermodel Australia dengan penyanyi sekaligus aktris Taiwan di atas? Keduanya pernah berhubungan dengan Jho Low.

Setelah serentetan kencan mewah (termasuk berpesiar mengelilingi Eropa selama 10 hari), Low menghujani Miranda Kerr, salah satu supermodel termahal dunia, dengan sebuah kado luar biasa: sebuah grand piano transparan yang terbuat dari akrilik (senilai hampir USD1 juta alias Rp14,2 miliar) serta kalung berlian 11 karat dengan anting yang serasi.

Sejak itu ia menyerahkan perhiasaan senilai jutaan dolar kepada jaksa AS.

Baca: Lunasi Utang Pihak Ketiga

Low lalu mengajak penyanyi Taiwan Elva Hsiao menikmati kencan senilai jutaan dolar ke Dubai, di mana keduanya makan malam di pantai pribadi, menurut Billion Dollar Whale.

Para reporter

Kisah 1MDB tak akan pernah terungkap jika bukan karena kerja gigih para wartawan yang memburu cerita ini selama bertahun-tahun, melemparkan berita demi berita yang mengejutkan dan mendorong kasus dana 1MDB menjadi perhatian banyak pihak.

Lebih dari satu dekade silam, wartawan Inggris kelahiran Malaysia ini mulai menyelidiki elit politik Malaysia dari meja dapurnya di London setelah menidurkan anak-anaknya.

Situs web Sarawak Report miliknya awalnya berfokus pada sejumlah transaksi gelap di salah satu negara bagian Malaysia.

Baca: Kumandang Azan dari Masjid Soekarno di Rusia

Namun ketika salah satu transaksi awal 1MDB dilakukan di Sarawak, perhatiannya mulai bergeser kepada apa yang tampak seperti "pakaian yang sangat mencurigakan".

Pada akhir tahun 2013, ia menerima sebuah petunjuk bahwa putra tiri Najib telah memproduseri film The Wolf of Wall Street.

"Itulah saat saya mulai menggali," ujarnya. "Benar-benar hanya karena saya tidak bisa menolak sebuah cerita yang jelas-jelas penting."

Seiring jejak uang yang ia ikuti, temuannya mulai bergulir, memikat orang-orang Malaysia di mana media lokalnya sebagian besar tak mampu atau tak ingin mendalami cerita tersebut.

Baca: Imigrasi Deportasi Warga Negara Tiongkok

Awal tahun 2015, Rewcastle-Brown menerima 'harta karun' berupa lebih dari 200.000 dokumen dari seorang whistleblower alias pembocor informasi Xavier Justo dan membuat sebuah dugaan mencengangkan: bahwa uang sebesar $US700 juta (Rp9,9 triliun) telah masuk langsung ke dalam sebuah rekening bank yang dimiliki oleh perusahaan yang dikuasai Jho Low sebagai bagian dari transaksi 1MDB.

Beberapa bulan kemudian - dengan berita utama berjudul "TEMUAN SENSASIONAL!" - ia menerbitkan tulisan berisi rincian dugaan bahwa uang senilai $US700 juta (Rp9,9 triliun) telah disetor ke dalam rekening bank milik perdana menteri pada tahun 2013. Aparat Malaysia lantas memblokir situs webnya dan mengeluarkan perintah penangkapannya.

"Saya memiliki sederet orang di seantero dunia yang bersedia menghubungi saya dengan berbagai informasi. Jelas sudah menjadi tugas saya untuk bertahan jika saya bisa," ungkapnya.

"Pada puncaknya, ada orang-orang yang disewa untuk menyakiti saya di London, membuntuti dan memfoto saya... Sampai-sampai saya harus lapor polisi."

Tom Wright dan Bradley Hope, The Wall Street Journal

Buku tahun 2018 berjudul Billion Dollar Whale yang mereka tulis menjabarkan secara rinci dan teliti dugaan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan Jho Low dan langsung menjadi buku terlaris di Malaysia.

Tetapi Tom Wright dan Bradley Hope telah menyelidiki jejak uang 1MDB selama bertahun-tahun di Wall Street Journal.

"Berita biasanya tersusun tidak lebih dari 2.000 kata dan rasanya kami memotong banyak rincian menarik (dari kisah tersebut)," ujar Hope. "Kami tahu orang-orang kesulitan mengikuti skandal ini dan ada cerita yang lebih besar dan berwarna yang bisa dikulik dari sosok Jho Low secara khusus."

Baca: Hasil Survei Indikator Politik, Kaum Terpelajar Lebih Banyak Memilih Prabowo-Sandi, Ini Alasannya

Hope mengatakan bahwa buku itu memperjelas seberapa buruknya skandal tersebut bagi Malaysia.

"Ada begitu banyak kebisingan dan informasi yang salah di luar sana," katanya.

"Untuk melihatnya disajikan di satu tempat, fakta demi fakta, dengan sangat jelas membuat 1MDB menjadi salah satu skandal keuangan terbesar di dunia.

Billion Dollar Whale menunjukkan bagaimana kasus itu bergulir secara kronologis dan membuat masalah tersebut menjadi relevan bagi banyak warga Malaysia."

Buku tersebut juga meningkatkan tekanan global dalam upaya memburu Jho Low (yang kini buron di sejumlah negara).

"Para pembaca mengirimi kami surat dan para politikus (Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan Menteri Keuangan Lim Guan Eng) bahkan menggunakan dan merujuk buku kami untuk menjelaskan masalah terkait 1MDB," tambah Hope.

"Billion Dollar Whale mulai tersebar ke seluruh dunia dan mereka yang sebelumnya belum pernah mendengar 1MDB mengatakan kepada kami bahwa mereka sangat tertarik dengan kasus tersebut."

The Edge Malaysia

Jika Anda tidak membaca apa pun kecuali surat kabar Malaysia dan hanya menonton laporan berita TV lokal pada puncak skandal 1MDB tahun 2015 lalu, Anda akan terkecoh untuk mempercayai bahwa semuanya baik-baik saja di negeri tersebut.

Wartawan Malaysia dan para editornya menyadari dengan cepat bahwa pemberitaan terkait skandal dana investasi bisa membahayakan dan dapat mempertaruhkan lisensi operasional media mereka.

Namun ada juga media yang tetap memberitakannya dan harus menanggung akibatnya. Salah satunya The Edge Media Group.

Koran The Edge memberitakan penyelidikan atas aktivitas 1MDB dan berakhir dengan lisensi penerbitan koran mereka ditangguhkan dengan alasan "pemberitaan yang dapat memengaruhi ketertiban umum".

"Ini tidak lebih dari upaya untuk menutup kami agar kami tutup mulut," ujar penerbit Ho Kay Tat saat itu.

Tony Pua

Tony Pua memimpin upaya gugatan terhadap 1MDB di Malaysia, di mana ia terus mengajukan pertanyaan saat menjadi oposisi di bawah pemerintahan Najib Razak.

Kini, partainya lah yang berkuasa, namun Pua tetap vokal menghina mantan sang perdana menteri.

"Najib Razak adalah pelaku utamanya. Jika kesimpangsiuran muncul akibat pernyataannya, saya akan muncul untuk membawa semuanya kembali pada jalur yang benar," ungkapnya kepada BBC di sela kunjungannya di Singapura.

Pua, yang juga merupakan sekretaris politik menteri keuangan Malaysia yang memimpin penyelidikan 1MDB, mengatakan bahwa ia tetap fokus "memperbaiki kerusakan yang telah terjadi terhadap perekonomian".

"Skandal keuangan itu adalah masa lalu dan tak ada lagi kebohongan, kini saatnya proses pembersihan," ujarnya. "Kami harus menciptakan pertumbuhan ekonomi, dan menutup lembaran kasus 1MDB adalah bagian besar di dalamnya."

Politikus asal Johor tersebut kerap menyesalkan kasus 1MDB di laman YouTube.

"Saya tahu kenyataannya dan saya mengungkapkannya," ujarnya. "Saya mendapatkan informasi dari berbagai dokumen dan para informan, lalu merangkai semuanya untuk disampaikan tentang apa yang sebenarnya terjadi."

Namun, menurutnya, pengadilan atas Najib "hanyalah permulaan" dan proses hukum itu bisa berlangsung bertahun-tahun. "Teka-teki ini hampir lengkap, namun ada beberapa bagian yang hilang. Dan saya yakin pengadilan Najib Razak akan mengungkap beberapa di antaranya."

Setelah sejumlah penundaan, persidangan pertama terhadap Najib Razak akan dilakukan pada tanggal 3 April 2019.

Waktu persidangan untuk sidang dua pengembangan kasus pun telah ditentukan.

Jika terbukti bersalah atas banyak tindak pidana yang dituduhkan kepadanya, Najib akan mendekam di penjara selama puluhan tahun. Sementara hingga kini, Jho Low masih buron.

Grafis oleh Davies Surya dan Arvin Supriyadi di Jakarta.

Artikel ini tayang pada BBC Indonesia dengan judul : 1MDB: Pria flamboyan, perdana menteri, penggila pesta di seputar skandal finansial global

Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved