Opini

Konsideran Islam di Pilpres 2019

BEBERAPA hari lagi, rakyat Indonesia akan mengikuti pesta demokrasi. Pesta ini diharapkan dapat dikuti

Konsideran Islam di Pilpres 2019
Dr. H. Munawar A. Djalil, MA

Alasan yang lebih buruk daripada kesalahan tidak jarang kita dengar, misalnya dari yang melakukan pelanggaran agama dengan berkata, “ini boleh, tidak apa dilakukan”. Jawaban ini menjadikan kesalahannya berganda, pertama ketika ia melanggar, kedua yang lebih buruk adalah alasan tersebut. Pada saat menjelang Pilpres, alasan yang lebih buruk daripada kesalahan, terkadang kita mendengar, “tidak usah mencoblos, karena semua calon tidak ada yang membawa aspirasi rakyat”.

Alasan tersebut lebih buruk dari keengganan memilih, karena kita telah menjadikan seluruh calon adalah buruk. Logisnya, agama dan pertimbangan akal sehat menetapkan keharusan adanya pemerintah yang mengelola kepentingan masyarakat dan Pilpres adalah cara yang paling tepat. Dalam pandangan Nabi Muhammad saw, jangankan masyarakat umum, tiga orang pun walau dalam perjalanan dianjurkan memilih seorang di antaranya sebagai pemimpin (amir).

Memilih adalah amanah, jabatan yang diberikan oleh pemilih dan diterima oleh yang dipilih juga amanah. “Jika amanah disia-siakan atau diserahkan kepada yang tidak wajar memikulnya, maka nantikan saat kehancuran,” demikian pesan Nabi saw. Ini berarti keengganan memilih, atau memilih yang tidak wajar merupakan menyia-nyiakan amanah.

Pemimpin yang baik adalah dia yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya, sedang masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka. Sebagai rakyat, tidak tergesa-gesa menyalahkan terlebih dulu pemimpin yang menyeleweng, kerana pada hakikatnya yang bersalah adalah masyarakat pemilih itu sendiri. Bukankah pemimpin adalah cerminan dari keadaan masyarakat?

Yang layak dipilih
Hampir dapat dipastikan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi milineal telah mengenal calon Presiden 2019 baik Nomor urut 01 (Jokowi-Ma’ruf) maupun 02 (Prabowo-Sandi), karena wajah mereka sudah terpampang di seluruh sudut kota dan desa di Indonesia, maka saat ini kita tidak lagi kebingungan untuk memilih. Kita dipersilahkan menilai siapa di antara mereka yang paling wajar dipilih.

Alquran memberi petunjuk secara tersurat dan tersirat dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia, termasuk upaya menjawab siapakah yang layak kita pilih. Dari celah ayat-ayat Alquran ditemukan paling sedikit dua sifat pokok yang harus disandang oleh seorang yang memikul suatu jabatan yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat. Kedua hal itu hendaknya diperhatikan dalam menentukan pilihan. “Sesungguhnya yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat lagi terpercaya,” demikian ucapan Putri Nabi Syu’ib yang dibenarkan dan diabadikan dalam Alquran (QS. Al-Qashash: 26).

Konsideran pengangkatan Nabi Yusuf, misalnya, sebagai Kepala Badan Logistik Kerajaan Mesir yang disampaikan oleh Rajanya dan diabadikan pula oleh Alquran, “Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah seorang yang kuat lagi terpercaya.” (QS 12:54).

Ketika Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai Ketua Panitia Pengumpulan Mushab Al-quran, alasannya pun tidak jauh berbeda, “Engkau seorang pemuda kuat dan bersemangat dan telah dipercaya Rasul untuk menulis wahyu.” Bahkan Allah memilih Jibril sebagai pembawa wahyu antara lain karena malaikat ini memiliki sifat kuat lagi terpercaya.

Sebagai pemilih atau orang yang memberikan amanah, maka saya berpesan kepada milenial pilihlah presiden yang benar-benar mampu memegang amanah tersebut, kalau diabaikan, maka nantikanlah kehancuran. Mengabaikan, artinya memilih seseorang yang tidak wajar dipilih, itulah yang menjadi satu jabaran arti daripada amanah. Memang pada hakikatnya, tidak mudah terhimpun dalam diri seseorang kedua sifat tersebut secara sempurna, tetapi kalaupun harus memilih, maka pilihlah yang paling sedikit kekurangannya dan lakukan pilihan setelah upaya bersungguh-sungguh untuk mendapatkan yang terbaik.

Ketika Imam Ahmad Ibnu Hanbal ditanya tentang dua orang yang dicalonkan untuk memimpin satu pasukan, yang pertama kuat namun bergelimang dosa dan yang kedua baik agamanya namun lemah, beliau menjawab, “Orang pertama, dosanya dipikulnya sendiri sedangkan kekuatannya mendukung kepentingan umat, dan orang yang kedua, agamanya untuk dirinya sedangkan kelemahannya menjadi petaka bagi yang dipimpin (rakyat).” Inilah konsideran (pertimbangan) dalam menetapkan pilihan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved