Penipu Gadis Lemmeu ke Jaksa

Penipu gadis Gampong Lammeu Meunasah Baro, Kecamatan Sakti, Pidie akan segera diserahkan

Penipu Gadis Lemmeu ke Jaksa
Serambinews.com
Dua anggota Polres Pidie dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) memintai keterangan tersangka pelaku trafficking, Cut Nurlina M Nur 

* Polres Pidie Serahkan Pekan Depan

MEUREUDU - Penipu gadis Gampong Lammeu Meunasah Baro, Kecamatan Sakti, Pidie akan segera diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Pidie untuk segera diadili di pengadilan. Direncanakan, tersangka bernama Cut Nurlina M Nur alias Cut Lina (52) dengan tuduhan melakukan human trafficking atau perdagangan manusia diserahkan ke jaksa pada Rabu (10/4).

“Seluruh berkas dokumen hasil penyidikan telah rampung dan tersangka siap diserahkan ke jaksa pekan depan,” kata AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK melalui Kasat Resrim Polres Pidie, AKP Mahliadi ST MM kepada Serambi, Jumat (5/4)

Dikatakan, proses penyelidikan berlangsung sebulan lebih, sehingga seluruh unsur dari berbagai aspek tuntutan telah terpenuhi. dan diharapkan berkas yang diserahkan dapat terlengkapi. “Saya berharap, kasus ini bisa menjadi P-21 serta pelakunya dapat segera berlabuh ke Pengadilan Negeri (PN) Sigli,” harapnya.

Sebelumnya, jajaran Reskrim Polres Pidie membekuk seorang ibu rumah tangga (IRT), Cut Nurlina M Nur alias Cut Lina (52) yang dilaporkan terlibat kasus human trafficking dengan korban bernama Syarifah Maulina (25), warga Gampong Lammeu Meunasah Baro, Kecamatan Sakti, Pidie.

Cut Lina merupakan warga Gampong Mesjid Keudee, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya (Pijay). Cut Lina dibekuk di rumahnya, di Gampong Mesjid Keudee, pada 20 Februari 2019 setelah dilakukan proses pengembangan sejak 2018.

Cut Lina ditangkap setelah dilakukan pengembangan atas laporan Syarifah Taiban (24) yang merupakan adik korban Syarifah Maulina.

Korban diiming-imingi akan bekerja sebagai asisten pengacara atau guru pengajian di Malaysia. “Ternyata, dalam perjalanannya, pekerjaan yang diberikan kepada korban tidak seperti dijanjikan, tetapi sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia dengan perlakuan yang tidak manusiawi dari majikannya,” sebut Mahliadi.

Menurut polisi, pengembangan kasus human trafficking ini berjalan cukup lama yaitu sejak awal 2018, tepatnya pada 20 Februari 2018. Kasus itu berawal ketika korban bermaksud mencari pekerjaan ke Malaysia dengan menghubungi Cut Lina. “Pelaku mengetahui korban memiliki ijazah sarjana, maka ditawarkan pekerjaan sebagai asisten pengacara,” kata Mahliadi.

Pada 25 Februari 2018, pelaku menghubungi korban agar berangkat ke Banda Aceh untuk menyelesaikan pembuatan paspor. Di Banda Aceh, korban sudah ditunggu oleh anak pelaku, dan bersama-sama dengan anak pelaku membuat paspor dan setelahnya korban kembali ke kampung untuk menunggu jadwal keberangkatan.

Pada 1 Maret 2018, pelaku menghubungi korban bahwa jadwal keberangkatan ke Malaysia pada 2 Maret 2018 dengan menumpang bus dari Aceh ke Medan. Setiba di Medan, korban langsung masuk ke penampungan bersama pelaku dan diberikan uang oleh pelaku Rp 500.000 untuk melanjutkan perjalanan ke Dumai.

“Dari Dumai korban menyeberang ke Malaysia dengan menumpang feri dan setiba di Malaysia, korban telah ditunggu oleh rekan pelaku dan selanjutnya dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga,” kata Kasat Reskrim Polres Pidie.(c43)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved