Remaja ‘Ngelem’ Dibina Dinsos

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banda Aceh menangkap tujuh anak jalanan, dimana enam di antaranya

Remaja ‘Ngelem’ Dibina Dinsos
SERAMBINEWS.COM/TRIBUN KALTIM
Enam ABG yang dibawa ke kantor polisi karena kedapatan ngelem. 

BANDA ACEH - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banda Aceh menangkap tujuh anak jalanan, dimana enam di antaranya tertangkap ‘ngelem’ di Taman Krueng Neng, Banda Aceh, serta seorang remaja putri yang berkeliaran tengah malam, Kamis (4/4) lalu. Para pelanggar tersebut lalu dibina Dinas Sosial (Dinsos) Banda Aceh di Rumah Singgah Lamjabat, Banda Aceh.

Hal itu disampaikan Kepala Dinsos Banda Aceh melalui Kabid Rehabilitasi Sosial, T Syukri, Sabtu (6/4). Kepada para pelanggar tersebut, kata Syukri, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh dan Rindam IM akan memberikan pembinaan mental, aqidah, dan fisik. “Dengan pembinaan tersebut diharapkan mereka tidak mengulangi lagi perbuatan yang merusak tubuh itu,” katanya.

Menurut Syukri, perilaku ‘ngelem’ atau menghirup bensin merupakan cara paling murah untuk mendapatkan sensasi ‘fly’, namun merusak saraf mereka. Perbuatan itu membuat moral mereka menjadi rusak, perilaku kasar, dan tidak mengenal sopan santun. “Menurut pengakuannya, tindakan itu sudah sering dilakukan. Mereka nggak peduli lagi mau dimana saja kalau sudah butuh langsung ngelem,” jelas Syukri.

Bahkan, lanjut Syukri, beberapa orang yang ditangkap tersebut merupakan ‘pemain lama’ untuk kasus yang sama. Hal itu membuktikan bahwa ngelem memberi efek ketagihan layaknya narkoba, sehingga perlu penanganan lebih serius. “Butuh peran keluarga untuk mendidik dan membawa mereka kembali ke jalan yang benar,” timpalnya.

Syukri menambahkan, setelah menjalani pembinaan di Rumah Singgah, para pelanggar yang masih di bawah umur akan dikembalikan lagi ke keluarga. Sementara bagi yang tidak memiliki keluarga, maka pihaknya akan merujuk yang bersangkutan ke lembaga kesejahteraan sosial anak atau kepolisian untuk pembinaan lanjutan. “Kalau masih umur sekolah harus dikembalikan ke keluarga. Sedangkan umur di atas 18 tahun dan ber-KTP Banda Aceh, bisa kami rujuk ke BLK untuk dilatih skill-nya,” kata dia.

Kepala Satpol PP Banda Aceh, M Hidayat mengatakan, penangkapan terhadap pelaku ‘ngelem’ bukan hal baru di Banda Aceh. Pihaknya sudah beberapa kali menangkap remaja atau pemuda berpenampilan seperti ‘punk’ yang melakukan perbuatan haram itu di sejumlah sudut kota. “Dari pengalaman kami selama ini, kami melihat anak berpenampilan punk ini rata-rata hobinya ngelem,” katanya.

Karena hidup berkelompok, sambung Hidayat, kebiasaan buruk tersebut menular cepat ke anggota baru lainnya. Dari penasaran dan mulai coba-coba, ngelem akhirnya membuat mereka ketagihan. “Kadang-kadang mereka juga minum tuak. Itu mereka lakukan untuk mendapatkan sensasi happy atau fly,” katanya lagi. Ditambahkan, kelompok yang biasanya mencari uang dengan mengamen itu biasanya ‘ngelem’ di gang-gang atau taman yang jarang dilewati warga.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved