Puting Beliung Sapu Empat Desa di Agara

Angin puting beliung menyapu empat desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara (Agara)

Puting Beliung Sapu Empat Desa di Agara
SERAMBINEWS.COM/ASNAWI LUWI
BELASAN rumah di Desa Lawe Loning Aman, Lawe Loning Hakhapen dan sekitar, Kecamatan Lawe Sigala-gala, rusak akibat diterjang angin puting beliung, Minggu (7/4) sekitar pukul 16.30 WIB. 

* 20 Unit Rumah Rusak

KUTACANE - Angin puting beliung menyapu empat desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara (Agara), Minggu (7/4), sekitar pukul 16.30 WIB. Tidak ada korban dalam dalam musibah tersebut, tetapi sebanyak 20 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan.

Selain rumah, angin kencang tersebut juga menumbangkan pepohonan dan sejumlah baliho calon legislatif. Selain itu, jaringan listrik juga sempat terganggu karena ada kabel yang terputus akibat tertimpa pohon. Saat ini aliran listrik sudah kembali normal.

Menurut Ismail, warga Lawe Loning Aman yang rumahnya mengalami kerusakan, musibah tersebut terjadi secara tiba-tiba. Saat kejadian, ia sedang di dalam rumah. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya diiringi angin kencang. “Saya terkejut, anginnya sangat kuat sekali sehingga menerbangkan seng rumah saya,” katanya kepada Serambi kemarin.

Hal serupa juga disampaikan warga lainnya, Joko. Ia mengaku bagian dapur rumahnya mengalami kerusakaan akibat tertimpa pohon pinang yang tumbang. Sementara warga lainnya Asnaina menuturkan, seng teras rumahnya beterbangan dan beberapa balok kayu patah.

Camat Lawe Sigala-gala, Ramadhani SSTP, saat dihubungi Serambi, menyebutkan, keseluruhan diperkirakan ada sekitar 20 unit rumah yang rusak akibat disapu angin puting beliung. Namun sebagian besar hanya mengalami rusak ringan.

Pihaknya juga telah memerintahkan penghulu kute (keuchik) untuk melakukan penanganan secara darurat seperti membuat terpal agar rumah warga tidak kebasahan jika turun hujan. “Bencana ini dapat ditangani dari dana tanggap darurat desa,” imbuh Ramadhani.

Untuk diketahui, fenomena puting beliung ini biasanya terjadi pada masa transisi, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Meski datang tiba-tiba, namun ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan kemungkinan datangnya puting beliung.

Di antaranya, diawali dengan udara yang terasa panas akibat radiasi matahari yang cukup kuat di suatu pagi hingga siang. Kemudian tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis) dan di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi layaknya bunga kol. Awan Cumulus dengan tepian berwarna abu-abu itu kemudian akan berubah warna dengan cepat menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus.

Tanda berikutnya adalah adanya sentuhan udara dingin di sekitar tempat tersebut. Hujan akan hujan sangat deras secara tiba-tiba di titik di mana angin kencang ini berhembus. Jika hujan hanya gerimis maka angin puting beliung terjadi di titik lebih jauh.(as)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved